Selasa, 28/02/2017 04:00 WIB

Sosok

Duterte, Mantan Wali Kota yang Pernah Menembak Tiga Bandit

Kontroversi Duterte bermula dari dukungan dia secara terbuka terhadap pembunuhan-pembunuhan terhadap para bandit  kriminal dan pedagang narkoba.

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte

Jakarta - Duterte, nama lengkapnya Rodrigo Roa Duterte, biasa dipanggi Rody atau Digong. Panggilan kesayangan Duterte. Lahir 28 Maret 1945. Wikipedia mencatat cukup detil latar belakang presiden yang dulunya merupakan salah seorang wali kota yang paling lama menjabat di wilayah Philipina. Saat ini Duterte berumur 71 tahun dan merupakan orang Phillipina tertua yang pernah menjabat sebagai presiden.

Duterte belajar ilmu politik di Lyceum of the Philippines University, menyelesaikan kuliath tahun 1968. Mendapatkan sarjana hukum dari San Beda College of Law di tahun 1972. Duterte kemudian menjadi pengacara dan menjadi jaksa wilayah Davao City, di kepulauan Mindanao. Kemudian menjadi walikota dan selanjutnya menjadi walikota Davao selama tujuh masa jabatan atau 22 (dua puluh dua tahun) menajdi walikota.

Kontroversi Duterte bermula dari dukungan dia secara terbuka terhadap pembunuhan-pembunuhan terhadap para bandit  kriminal dan pedagang narkoba. Catatan dari lembaga HAM internasional mencatat bahwa di Davao telah terjadi 1400 pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok kekerasan antara tahun 1998 hingga bulan Mei 2016. Duterte berkali-kali mengkonfirmasi bahwa dia pernah membunuh tiga orang penculik dan pemerkosa saat menjadi walikota Davao di tahun 1988.

Duterte semasa menjadi mahasiswa adalah seorang aktivis nasionalis garis keras, yang menolak untuk menggunakan bahasa Inggris di dalam ruang kelas, Dia mengkampanyekan penggunaan bahasa Tagalog untuk menunjukkan pilihan politik dia. Duterte belajar politik dari pengajarnya yakni Jose Maria Sison, pendiri CPP (Partai Komunis Philipina) yang saat ini bermukim di Belanda. Hingga saat ini Jose Maria Sison menyebut Duterte sebagai kawannya.

Hubungan antara Duterte dengan Partai Komunis Philipina ataupun faksi-faksi lain seperti New People`s Army, atau NDF (National Democratic Front) bukanlah hubungan yang jelas terlihat. Tetapi kenyataan bahwa Duterte mempunyai hubungan khusus dengan CPP bisa dilihat saat dia mampu mempertemukan antara jurnalis luar dengan pemimpin komunis di awal 1980-an saat CPP sedang pada masa keemasannya.

Tetapi karena sejak menyelesaikan kuliah Duterte adalah seorang pengacara maka kesan tidak berpartai pada sosok Duterte adalah hal yang dia pertahankan.

Yang menjadi titik kontroversi Duterte adalah adanya kelompok preman, mantan kriminal, mantan gerilyawan bersenjata yang telah berganti baju yang bernama Alsa Masa. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia Alsa Masa berarti "Kebangkitan Rakyat."

Kelompok inilah yang banyak dibilang orang merupakan kelompok yang mendapat dukungan dari Duterte saat dia menjabat sebagai walikota Davao. Aksi Asa Masa bahkan berkembang seperti perang antara kelompok bersenjata sayap kanan nasionalis dengan gerilyawan komunis sayap kiri. Tahun 2001 saat Duterte kembali menjadi walikota setelah sebelumnya berada di kongres, Alsa Masa banyak dikabarkan berubah bentuk menjadi Davao Death Squad (DDS).

Penamaan yang fantastis dari beberapa orang eks gerilyawan atau eks polisi dan tentara yang melakukan aksi-aksi pembunuhan terhadap pedagang Narkotika, bandit dan kriminal dalam berbagai bentuknya. Menurut wikipedia anggota DDS pada awalnya hanya 10 sampai 20 orang tetapi hingga tahun 2009 telah berkembang menjadi 500 orang.

Duterte adalah seorang Wali kota nasionalis garis keras, yang punya dasar pendidikan politik "kiri" yang juga berperang dengan beberapa kelompok kiri dan kriminal, yang masih dianggap sebagai kawan oleh pejuang komunis exhile, yang sedang mengusahakan traktat perdamaian bagi pihak-pihak yang bertikai, yang menyumpahi Obama sebagai Anak Haram Jadah, tetapi pada saat ini nyata-nyata didukung oleh sebagian besar rakyat Philipina dan terutama kelas menegah Philipina.

Bagaimana menilai Duterte? Sonny Melencio aktivis dari Party of Labouring Masses, faksi partai kiri di Phipina yang kondang secara internasional, menjelaskan, suka atau tidak suka Duterte adalah pilihan rakyat Philipina sekarang yang sudah capek dengan oligarki lama yang selalu menjadi penguasa.

Duterte mewakili sosok pemimpin yang tanpa kompromi dan tegas. Berbeda dengan pemimpin selama ini yang plintat-plintut. Pemberantasan bandit dan kriminal sangat disukai rakyat dari yang miskin sampai yang kaya. Lebih dari itu karena rakyat sudah lama tidak percaya pada pemerintah sebagai penegak hukum yang tidak bisa memberikan pekerjaan layak bagi rakyat dan keamanan bagi uang yang mereka kumpulkan dengan susah payah.

TAGS : Sosok Kontroversi Rodrigue Duterte

TERKAIT




TERPOPULER :

TERKINI

Menteri KLH Siapkan Regulasi Anti Kantong Plastik

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar...

Rizieq Shihab Jadi Saksi Ahli, Kapolri Minta Jaga Situasi

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menghimbau kepada ...

Jadi Terbesar ke-4 di Dunia, HPM Siap Tambah Investasi di Indonesia

Penjualan mobil Honda di Indonesia saat ini merupakan yan...

Tersangka Bom Bandung Dikenal Sebagai Pedagang Aksesoris

Yayat memiliki seorang istri yang sampai saat ini tidak d...

Penyuap Bupati Klaten Segera Digiring ke Pengadilan Tipikor

Dengan pelimpahan tahap dua ini, Jaksa KPK memiliki waktu...

PKB Ingatkan Pentingnya Peran Ulama

Halakoh Ulama Rakyat merupakan salah satu kegiatan paling...