Pernyataan itu sekaligus menguatkan pejabat administrasi yang mengatakan kedua pria itu tidak mungkin bertemu sebelum batas waktu yang ditetapkan. Hal itu membuat pesimis, pakta perdagangan kedua negara akan menghasilkan kesepakatan.
Kementerian Perdagangan dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa laporan itu didasarkan pada hukum domestik AS dan bukan perjanjian WTO dan aturan multilateral.
Tahun lalu, AS memungut bea tambahan antara 10 dan 25 persen untuk barang-barang Tiongkok sebagai hukuman atas apa yang disebutnya praktik perdagangan tidak adil.
Berbicara di Gedung Putih pada pertemuan Kamis (31/1) dengan Wakil Perdana Menteri China, Liu He, Trump mengatakan optimis, kekuatan ekonomi bisa mencapai "kesepakatan terbesar yang pernah dibuat."
Pertemuan itu dikabarkan akan digelar tepat pada saat Trump dijadwalkan bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un untuk membahas isu nuklir.
Penurunan itu disebabkan mengurangnya permintaan untuk produk-produk utamanya di tengah meningkatnya persaingan dari pesaing utamanya, China.
Amerika Serikat (AS), Prancis dan negara-negara barat lainnya telah menyuarakan kekhawatiran bahwa menggunakan stasiun pangkalan Huawei dan peralatan lainnya memungkinkan Beijing memata-matai pemerintah asing.
Kedua kasus itu kemungkinan akan semakin memperburuk hubungan antara AS dan China, yang kini sedang melakukan perundingan.
China kemungkinan akan menolak permintaan AS yang dianggap sebagai hambatan terhadap rencana strategis "Made in China 2025".
Ketegangan antara China dan beberapa bagian Barat meningkat sejak dua orang Kanada, seorang diplomat cuti yang tidak dibayar dan seorang konsultan, ditangkap di Tiongkok dengan tuduhan membahayakan keamanan negara.