Pertemuan itu dikabarkan akan digelar tepat pada saat Trump dijadwalkan bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un untuk membahas isu nuklir.
Penurunan itu disebabkan mengurangnya permintaan untuk produk-produk utamanya di tengah meningkatnya persaingan dari pesaing utamanya, China.
Amerika Serikat (AS), Prancis dan negara-negara barat lainnya telah menyuarakan kekhawatiran bahwa menggunakan stasiun pangkalan Huawei dan peralatan lainnya memungkinkan Beijing memata-matai pemerintah asing.
Kedua kasus itu kemungkinan akan semakin memperburuk hubungan antara AS dan China, yang kini sedang melakukan perundingan.
China kemungkinan akan menolak permintaan AS yang dianggap sebagai hambatan terhadap rencana strategis "Made in China 2025".
Ketegangan antara China dan beberapa bagian Barat meningkat sejak dua orang Kanada, seorang diplomat cuti yang tidak dibayar dan seorang konsultan, ditangkap di Tiongkok dengan tuduhan membahayakan keamanan negara.
Kedua negara ekonomi terbesar di dunia itu berjuang mati-matian untuk mengakhiri perang dagang.
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam pembaruan Outlook Ekonomi Dunia Januari pada Senin (21/1) waktu setempat mengatakan, India akan tetap menjadi ekonomi utama dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Trump meminta Negeri Tirai Bambu berhenti bermain-main dan melakukan kesepakatan nyata di tengah melambatnya ekonomi China akibat gesekan perdagangan AS-China.
Investor juga menunggu untuk mendengar "Rencana B" Perdana Menteri Theresa May untuk Brexit yang akan disampaikan kepada parlemen pada Senin (21/1) waktu setempat.