Pernyataan mantan Gubernur Sulawesi Selatan dua periode itu didukung prediksi akan terjadi panen tebu.
Kementerian Pertanian telah mengambil langkah cepat dengan mengkaji alternatif tujuan pasar ekspor komoditas perkebunan sebagai bentuk antisipasi menurunnya permintaan China terhadap ekspor komoditas perkebunan Indonesia di tahun 2020.
Di tengah situasi panik terkait pandemi virus corona (COVID-19), pemerintah tidak boleh seenaknya melanggar peraturan yang sudah disepakati bersama menjadi lembaran negara.
Luluk tak menampik bahwa impor bawang putih sangat diperlukan, jika sudah tidak ada lagi jalan lain. Tapi juga harus ada transparansi soal ketersediaan komoditas tersebut, jangan sampai kebijakan pemerintah malah membuat petani bawang lokal menjadi terpuruk.
Luluk mengatakan bahwa kenaikan harga bawan putih kemungkin disebakan oleh fenomena belanja berlebihan (Panic Buying) atau permainan para importir dan pedangan.
Sementestinya, dengan kehadiran bawang putih impor ini sudah mampu menstabilkan harga ke level normal, jika benar bawah komoditas tersebut sudah masuk ke pasar-pasar di Tanah Air.
Bawang putih yang diekspor ke Indonesia saat ini berasal dari hasil panen pada Mei-Juni tahun 2019 yang disimpan dalam cold storage.
Pembuat roti dan penggilingan Ukraina minggu lalu meminta pemerintah membatasi ekspor biji-bijian dan produk-produk terkait, untuk menjaga harga roti jika terjadi penyebaran Covid-19.
Bawang putih impor ini didatangkan oleh CV. Semangat Tani Maju Bersama (STMB) yang sudah mendapat rekomendasi dan izin impor dari pemerintah.
Tiga produk itu di antaranya, buah durian, jeruk nipis dan pisang dengan total volume 10,9 ton atau senilai Rp71,9 juta.