Tujuan utama Washington dalam melakukan kejahatan membunuh Jenderal Soleimani dan Muhandis adalah untuk mengkonsolidasikan hegemoni atas Irak dengan meneror rakyat Irak.
Trump menunjukkan ketidakpatuhannya terhadap hukum internasional dengan mengancam akan menyerang situs-situs penting yang terkait dengan Iran, jika Teheran berusaha membalasa kematian Jenderal Soleimani.
Mahathir mendesak negara Muslim bersatu untuk melindungi diri dari ancaman eksternal.
Zarif selanjutnya mengecam Presiden AS, Donald Trump karena mengancam menyerang 52 situs dan kebudaya Iran, jika Teheran membalas pembunuhan Jenderal Soleimani.
Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) tidak akan menuruti keinginan Presiden Donald Trump, untuk meledakkan 52 situs budaya bersejarah milik Iran.
Pemerintahan Trump membuat kesepakatan serupa dengan Honduras dan El Salvador tahun lalu .
Rouhani mengingatkan Trump tentang kejahatan yang dilakukan Angkatan Laut AS pada 1988 di mana USS Vincennes menghantam Airbus A300B2 Iran Air
Letnan Jenderal Soleimani adalah tokoh internasional yang memainkan peran utama dalam mempromosikan keamanan di negara-negara kawasan, khususnya di Irak dan Suriah.
Dilaporkan bahwa Brigadir Jenderal William Seely, yang mengawasi Satuan Tugas AS Irak, mengirim surat kepada kepala komando operasi gabungan Irak pada Senin (6/1), kurang dari seminggu setelah AS membunuh Jenderal Qassem Soleimani Iran.
Trump mengklaim bahwa militernya akan mencapai sasaran yang sangat penting, termasuk situs warisan budaya, jika Iran membalas kematian Letnan Jenderal Iran, Qassem Soleimani.