AS sekarang berusaha untuk memperpanjang embargo senjata terhadap Iran di luar tanggal kedaluwarsa Oktober 2020 yang ditetapkan berdasarkan JCPOA.
Meskipun bukan lagi pihak dalam kesepakatan itu, Washington baru-baru ini meluncurkan kampanye untuk memperbarui embargo penjualan senjata konvensional ke Republik Islam yang akan berakhir di bawah JCPOA pada bulan Oktober.
Amerika Serikat, yang tidak lagi menjadi peserta JCPOA (kesepakatan nuklir), tidak memiliki hak untuk meminta Dewan Keamanan memberi sanksi Iran
AS harus mengembalikan statusnya sebagai anggota Komisi Gabungan JCPOA dan memastikan kepatuhan penuh dengan perjanjian tersebut sebelum memperbarui sanksi PBB terhadap Iran.
Iran meminta Inggris untuk menentang sanksi kejam AS terhadap negara Iran dalam keadaan seperti itu, baik berdasarkan komitmen London di bawah JCPOA dan untuk pertimbangan manusia.
Mei lalu, Iran mulai secara bertahap mengurangi komitmennya di bawah JCPOA untuk membalas tindakan sepihak Washington tersebut.
Usaha Gedung Putih sia-sia untuk membuat sekutu-sekutunya di Eropa sejalan dengan kesepakatan nuklir 2015 dengan Iran, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).
Trump meminta Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, dan China untuk memutuskan perjanjian nuklir internasional 2015 atau yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) dengan Iran.
Kharrazi mengatakan Rusia dan China sudah melakukan upaya positif mencegah jatuhnya kesepakatan nuklir (Rencana Aksi Komprehensif Bersama/JCPOA), yang ditandatangani antara Iran dan negara adidaya pada 2015 setelah keluarnya Washington.
Jepang menginginkan Iran tetap komitmen pada JCPOA meskipun AS keluar dari kesepakatan tersebut.