Pasca penetapan Ketua Umum Partai Golkar sebagai tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), partai berlambang pohon beringin itu terus mengalami tren penurunan.
Opini publik terhadap Partai Golkar terus mengalami tren penurunan. Hal itu pasca penetapan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto sebagai tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Saksi Elza Syarief saat itu menyebut mengetahui percakapan telepon antara Farhat Abbas dengan Zulhendri terkait kasus yang menjerat Miryam.
Andi Razak menyarankan, semestinya Wakil DPR dan anggota DPR lainnya, atau juga rekannya di Partai Golkar memberikan masukan kepada Setnov agar bisa berpikir positif.
Keputusan Partai Golkar mengusung Ridwan Kamil (RK) sebagai calon gubernur (Cagub) Jawa Barat (Jabar) sebagai awal perpecahan di internal partai.
Partai Golkar resmi mengusung Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (RK) sebagai calon gubernur (Cagub) Jawa Barat (Jabar) pada Pilkada 2018 mendatang.
Partai Golkar tidak peduli dengan status tersangka Setya Novanto dalam kasus dugaan korupsi pengadaan e-KTP oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Partai Golkar meminta publik menghargai asas praduga tidak bersalah terhadap Setya Novanto. Hal itu terkait penetapan tersangka Novanto dalam kasus dugaan korupsi e-KTP oleh KPK.
Partai Golkar mendukung Ridwan Kamil (RK) ketimbang kadernya Dedy Mulyadi untuk maju di Pilgub Jabar 2018 nanti. Hal itu menuai kontroversi.
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menolak kader Partai Golkar Daniel Mutaqien sebagai calon wakil gubernur (Cawagub) untuk mendampingi Ridwan Kamil (RK)di Pilgub Jabar 2018.