Ucapan selamat dari berbagai kepala negara kepada Joko Widodo atas kemenangannya di Pilpres 2019 terus mengalir. Kali ini dari Mahathir Mohamad.
Ketua DPR RI Bambang Soesatyo bersyukur tahapan akhir Pemilu 2019 telah selesai ditandai dengan diumumkannya hasil rekapitulasi suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Pemenang Pilpres adalah pemimpin yang melekat dengan tanggung jawab bagi seluruh warga Indonesia tanpa membeda-bedakan pilihan politiknya, suku, agama, jenis kelamin, status sosial.
Pembungkaman dan ancaman terhadap rakyat dengan menggunakan kekuasaan akan menjadi bom waktu bagi bangsa Indonesia. Sebab, rakyat tidak akan diam atas tekanan yang dilakukan penguasa.
Partai Demokrat memastikan tidak ikut dalam aksi massa pada 22 Mei 2019. Aksi tersebut diinisiasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga.
Forum Kyai Tahlil (FKT) mengimbau umat Islam agar tidak mengikuti dan tak terpancing dengan tindakan-tindakan inkonstitusional baik secara langsung maupun tidak langsung.
Multaqo Ulama, Habib, dan Cendikiawan di Solo menyatakan gerakan people power menolak hasil pemilu yang diinisiasi kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno merupakan tindakan pemberontakan.
Kerumitan dalam Pileg terlihat dari berbagai dinamika perolehan kursi yang luar biasa. Berbeda denga pilpres hanya dua pasangan calon.
Bawaslu menyatakan Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU tetap berjalan dan tidak peli dihentikan setelah dinyatakan melanggar prosedur dalam melakukan input data.
Pasca Pilpres 2019, Partai Gerindra diisukan meminta keluar Partai Demokrat dari koalisi Prabowo-Sandiaga. Benarkah demikian?