Jakarta, Jurnas.com - Badan Gizi Nasional (BGN) terus melakukan evaluasi dan inovasi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar manfaatnya dirasakan secara optimal oleh para siswa tanpa mengesampingkan aspek higienitas dan kesehatan.
Kepala BGN, Sudaryono—yang akrab disapa Mas Dar—mengungkapkan target ambisius agar sebanyak 5.000 hingga 10.000 dapur MBG sudah dapat menerapkan sistem penyajian prasmanan selambat-lambatnya pada akhir tahun 2026. Langkah ini dinilai krusial untuk menekan berbagai potensi risiko pangan.
"Target saya adalah sampai dengan akhir tahun untuk mengurangi keracunan makanan, makanan rusak, gangguan kesehatan, dan paling dinikmati oleh siswa ini," ujar Mas Dar.
Mekanisme Prasmanan Berbasis Kelas
Berbeda dengan bayangan prasmanan pada acara-acara besar yang melayani ratusan orang sekaligus dalam satu tempat, konsep prasmanan MBG ini dirancang secara spesifik dengan skala mikro per ruang kelas.
- Penyajian Terkontrol: Jika satu kelas berisi 30 orang siswa, maka porsi nasi, sayur, dan lauk pauk dibawa secara khusus ke kelas tersebut sejumlah 30 porsi.
- Keterlibatan Siswa: Para siswa kemudian mengambil makanannya sendiri secara mandiri, menikmati hidangan bersama, hingga membereskan perlengkapan makan setelah selesai.
- Menjaga Kualitas dan Suhu: Melalui metode ini, makanan dapat disajikan dalam kondisi segar dan hangat tanpa perlu melalui proses pemanasan ulang di sekolah. BGN menetapkan standar suhu makanan minimal 60 derajat celsius demi mempertahankan kualitas gizi serta cita rasanya hingga waktu makan.
Evaluasi Positif dan Adaptasi Model Internasional
Sejauh ini, efektivitas dari metode penyajian tersebut telah diuji coba pada 66 dapur MBG. Berdasarkan evaluasi awal, seluruh dapur yang menerapkan sistem prasmanan kelas ini belum mencatatkan adanya kasus keracunan makanan. Model rintisan ini akan terus diperluas secara bertahap ke berbagai daerah.
Dalam penerapannya, BGN juga mengadopsi praktik terbaik (best practices) dari luar negeri, salah satunya Jepang. Melalui kerja sama dan pembelajaran bersama Japan International Cooperation Agency (JICA), BGN melihat adanya transisi menuju penggunaan dapur terpusat (central kitchen) yang dinilai jauh lebih unggul dari segi skala ekonomi dan kemudahan pengawasan mutu.
Penyesuaian Infrastruktur Berdasarkan Skala Wilayah
Guna mendukung kelancaran distribusi, pembangunan infrastruktur dapur disesuaikan dengan karakteristik wilayah serta jumlah sasaran penerima manfaat:
- Pondok Pesantren Besar (> 1.000 Santri): Pembangunan dapur dapat dilakukan langsung di dalam lingkungan kompleks pesantren untuk memudahkan mobilitas penyajian.
- Pondok Pesantren Kecil (< 1.000 Santri) & Sekolah Umum: Dilayani melalui konsep central kitchen atau dapur terpusat yang mendistribusikan makanan secara terukur ke kelas-kelas tujuan.
Melalui perluasan target hingga 10.000 dapur berkonsep prasmanan ini, BGN optimistis program Makan Bergizi Gratis tidak hanya sekadar memenuhi asupan nutrisi anak bangsa, tetapi juga menetapkan standar baru yang lebih aman, higienis, dan mendidik dalam budaya makan di sekolah.






