News

Anggota DPR Minta IAKMI Tak Sekadar Hasilkan Gagasan Akademis

Kami (Komisi IX) berharap forum ini bisa menghasilkan pemikiran yang tidak hanya berhenti di diskusi secara akademik saja
Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Gerindra, Putih Sari. (Foto: Humas Fraksi Gerindra)

Jakarta, Jurnas.com - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Putih Sari berharap Kongres Nasional Ke-16 Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) mampu melahirkan rekomendasi kebijakan yang konkret untuk menjawab berbagai persoalan kesehatan di Tanah Air.

Menurut Putih Sari, rekomendasi yang dihasilkan harus berlandaskan bukti ilmiah dan dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata, terutama dalam memperkuat upaya promotif dan preventif serta pelayanan kesehatan primer.

Hal itu disampaikan Putih Sari saat memberikan sambutan dalam Kongres Nasional Ke-16 IAKMI sekaligus Forum Ilmiah Tahunan Ke-12 di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (30/10).

Dia menilai, forum tersebut tidak semestinya hanya menjadi ajang pertemuan akademisi dan praktisi kesehatan. Lebih dari itu, kongres harus menjadi momentum menyatukan pemikiran, memperluas pertukaran pengetahuan, serta merumuskan solusi atas persoalan kesehatan masyarakat.

"Kami (Komisi IX) berharap forum ini bisa menghasilkan pemikiran yang tidak hanya berhenti di diskusi secara akademik saja, tapi juga bisa diterjemahkan sebagai sebuah kebijakan ya, dan juga tindakan yang nyata yang tentu dirasakan manfaatnya untuk seluruh masyarakat Indonesia," kata Putih Sari.

Politikus Golkar itu menegaskan, pembangunan kesehatan merupakan bagian penting dari pembangunan nasional. Sebab, kesehatan bukan sekadar kebutuhan dasar, melainkan juga hak setiap warga negara yang wajib dipenuhi oleh pemerintah.

Karena itu, pemerataan akses dan kualitas layanan kesehatan harus menjadi perhatian. Setiap masyarakat, tanpa memandang lokasi tempat tinggal maupun latar belakang sosial dan ekonomi, berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk hidup sehat.

Putih Sari juga menyoroti masih banyaknya pekerjaan rumah sektor kesehatan di Indonesia. Mulai dari persoalan penyakit menular dan tidak menular, masalah gizi, stunting, kesehatan ibu dan anak, hingga kesenjangan akses terhadap fasilitas pelayanan kesehatan.

Dia mengingatkan, penyelesaian persoalan tersebut tidak cukup hanya mengandalkan layanan pengobatan. Pemerintah juga perlu memperkuat sistem pencegahan agar risiko penyakit dapat diketahui lebih awal dan masyarakat tidak terlambat mendapatkan penanganan.

"Bagaimana mendeteksi risiko-risiko itu lebih dini ya, dan memastikan pelayanan kesehatan yang berkualitas tersedia secara merata," ujarnya.

Putih Sari berharap, Kongres Nasional IAKMI dapat memperkuat kolaborasi antara kalangan profesional, akademisi, dan pemangku kebijakan. Dengan begitu, transformasi kesehatan tidak sebatas menjadi program pemerintah, tetapi benar-benar menghadirkan perbaikan layanan yang bisa dirasakan masyarakat luas.

"Mari kita perkuat kolaborasi, kita pastikan bahwa transformasi kesehatan tidak hanya menjadi agenda kebijakan, tapi benar-benar menghadirkan perubahan yang dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia," pungkasnya.