https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Barcelona vs UEFA: Lebih Sering Untung atau Buntung?

Mutiul Alim | Rabu, 07/05/2025 16:35 WIB



Di media sosial muncul narasi Barcelona vs UEFA, dan sebaliknya, Barcelona anak emas UEFA. Bek Barcelona, Ronald Araujo (Foto: Goal)

Jakarta, Jurnas.com - Muncul sebagai salah satu kekuatan raksasa di Eropa, FC Barcelona sukses mengukir sejarah penuh trofi. Pemain bintang dan keberhasilan mengorbitkan pemain akademi La Masia, membuat klub Catalan menjadi salah satu tim paling diwaspadai dalam kompetisi.

Selama dua dekade terakhir, El Blaugrana tak hanya dikenal karena tiki-taka dan kejayaan di era Lionel Messi. Namun, penikmat sepak bola tentu tahu dalam beberapa kesempatan muncul narasi Barcelona vs UEFA, dan sebaliknya, Barcelona anak emas UEFA.

Lalu, seberapa sering klub asal Spanyol ini diuntungkan atau dirugikan UEFA?

Baca juga :
Carrick Buka Suara soal Masa Depannya di Manchester United

Salah satu laga paling diingat publik dunia ialah semifinal Liga Champions 2009 kontra Chelsea. Berlangsung di Stamford Bridge, Barcelona hanya butuh hasil imbang untuk lolos ke final, dan gol Andrés Iniesta di menit akhir jadi penentu.

Tapi laga itu juga diwarnai protes keras oleh pemain Chelsea, karena beberapa pelanggaran tak kunjung berbuah penalti oleh wasit Tom Henning Øvrebø. Banyak yang menilai Barcelona diuntungkan kala itu, bahkan Øvrebø sendiri mengakui telah membuat kesalahan.

Baca juga :
Mbeumo Antusias Sambut Debut Liga Champions Bersama MU

Sayangnya, roda terus berputar. Barcelona tidak selalu berada di posisi menguntungkan. Pada musim 2022/2023, saat Barcelona menghadapi Inter Milan di fase grup, mereka memprotes keras keputusan wasit yang tak memberikan penalti ketika bola mengenai tangan Denzel Dumfries.

Kala itu, VAR tidak mengintervensi, dan Barcelona akhirnya tersingkir ke Liga Europa. Momen itu masih sering dianggap para Cules (fans Barcelona) sebagai contoh ketidakadilan UEFA.

Baca juga :
Michael Carrick Dikabarkan Jadi Manajer Permanen Manchester United

Kekesalan fans Barcelona kembali memuncak pada musim 2024/2025. Dalam semifinal leg kedua melawan Inter Milan, Barcelona yang unggul secara agregat harus menerima kekalahan 4-3 setelah serangkaian keputusan wasit yang dinilai merugikan.

Keputusan kontroversial tersebut termasuk penalti untuk Inter yang dipertanyakan dan pembatalan penalti Barcelona usai tinjauan VAR. Pelatih Hansi Flick dan beberapa pemain bahkan secara terbuka menyuarakan ketidakpuasan mereka.

Tapi, tentu tak semua kekalahan bisa dikaitkan dengan wasit. Pada musim 2012/2013, Bayern Munich menggilas Barcelona dengan agregat telak 7-0 di semifinal. Tidak ada keputusan kontroversial dalam dua leg tersebut.

Sebaliknya, dalam momen seperti comeback ikonik 6-1 melawan PSG pada 2017 silam, Barcelona dinilai diuntungkan oleh beberapa keputusan. Ada dua penalti untuk Barcelona, sementara PSG sempat mengklaim pelanggaran terhadap Di María yang tidak berbuntut penalti.

Statistik memperlihatkan bahwa dalam kurun 20 tahun terakhir, Barcelona lolos ke semifinal Liga Champions sebanyak 9 kali dan menjadi juara 3 kali (2006, 2009, 2011, dan 2015).

Dalam sejumlah laga, El Blaugrana jelas tampil dominan tanpa kontroversi. Tapi di sisi lain, nama Barcelona juga kerap meramaikan isu keputusan wasit yang memicu perdebatan panjang, baik sebagai pihak yang untung maupun buntung.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Inter Milan vs Barcelona Liga Champions UEFA

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777