https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Krisis Pangan Global Terancam Bukan karena Lahan, tapi Kekurangan Petani

Agus Mughni | Kamis, 18/06/2026 21:55 WIB



penelitian terbaru mengungkap ancaman baru yang berpotensi mengganggu pasokan pangan dunia di masa depan, yakni semakin berkurangnya jumlah petani Petani sedang membajak sawah menggunakan alsintan produk dalam negeri (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Ketahanan pangan selama ini identik dengan ketersediaan lahan, cuaca, dan hasil panen. Namun, penelitian terbaru mengungkap ancaman baru yang berpotensi mengganggu pasokan pangan dunia di masa depan, yakni semakin berkurangnya jumlah petani yang menggarap lahan pertanian.

Studi yang dipimpin Profesor Hyungjun Kim dari KAIST bersama peneliti dari University of Tokyo menemukan bahwa kekurangan tenaga kerja pertanian dapat menjadi faktor penentu dalam produksi pangan global, bahkan lebih besar dibandingkan keterbatasan lahan atau kondisi iklim di sejumlah wilayah.

Dikutip dari Earth, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Sustainability tersebut menyoroti tren menurunnya angka kelahiran, berkurangnya populasi pedesaan, serta perpindahan generasi muda ke perkotaan yang membuat sektor pertanian kehilangan banyak tenaga kerja.

Baca juga :
WFP Ajak Miliarder Bantu Selamatkan 30 juta Orang yang Berisiko Meninggal

Para peneliti menilai persoalan ini semakin mendesak karena selama ini sebagian besar proyeksi ketahanan pangan hanya berfokus pada ketersediaan lahan dan meningkatnya kebutuhan pangan, tanpa memperhitungkan jumlah orang yang benar-benar bersedia dan mampu menjadi petani.

Dalam penelitian tersebut, tim ilmuwan menggunakan sejumlah skenario sosial dan iklim masa depan yang dikenal sebagai Shared Socioeconomic Pathways (SSPs) dan Representative Concentration Pathways (RCPs). Berbeda dengan studi sebelumnya, mereka menambahkan proyeksi jumlah tenaga kerja pertanian ke dalam model perhitungan.

Baca juga :
Kementan Dorong Mekanisasi Pertanian

Hasilnya menunjukkan bahwa banyak wilayah di dunia berpotensi mengalami kekurangan petani yang signifikan. Kondisi ini dapat membuat sebagian lahan pertanian tidak termanfaatkan secara optimal meskipun memiliki kualitas tanah yang baik dan didukung iklim yang sesuai untuk bercocok tanam.

"Memiliki lahan yang cocok tidak otomatis menjamin produksi pangan dapat berjalan maksimal jika jumlah petani terus berkurang," demikian kesimpulan utama penelitian tersebut.

Peneliti juga menyoroti anggapan bahwa teknologi modern akan sepenuhnya menggantikan kebutuhan tenaga kerja pertanian. Meski perkembangan mekanisasi, kecerdasan buatan, dan pertanian presisi memungkinkan pengelolaan lahan yang lebih luas dengan tenaga kerja lebih sedikit, teknologi dinilai belum mampu mengatasi seluruh persoalan.

Seiring pertumbuhan ekonomi dan berkembangnya sektor industri, semakin banyak masyarakat yang meninggalkan pekerjaan di sektor pertanian untuk mencari peluang lain. Akibatnya, peningkatan produktivitas yang dihasilkan teknologi berpotensi tergerus oleh terus menyusutnya jumlah petani.

Selain itu, studi tersebut menemukan bahwa kebijakan migrasi juga memiliki pengaruh besar terhadap masa depan ketahanan pangan. Pembatasan migrasi di negara-negara maju dapat memperparah kekurangan tenaga kerja pertanian, sementara sejumlah negara berpendapatan rendah justru berpotensi memiliki kelebihan tenaga kerja di sektor tersebut.

Temuan ini menunjukkan bahwa sistem pangan global tidak hanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan iklim, tetapi juga oleh mobilitas penduduk antarwilayah dan antarnegara.

Menurut Profesor Hyungjun Kim, tantangan ketahanan pangan masa depan harus dipandang secara lebih komprehensif dengan mempertimbangkan perubahan demografi dan kondisi sosial masyarakat.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa tantangan sosial di dunia nyata, seperti rendahnya angka kelahiran dan menurunnya populasi pedesaan, dapat memberikan dampak besar terhadap ketahanan pangan dan upaya menghadapi perubahan iklim," ujarnya.

Para peneliti menegaskan bahwa ancaman terhadap pasokan pangan dunia di masa depan tidak hanya datang dari kekeringan, banjir, gelombang panas, atau keterbatasan lahan. Keberadaan petani yang cukup untuk mengelola lahan pertanian juga akan menjadi faktor kunci dalam menjaga ketersediaan pangan bagi populasi dunia yang terus bertambah.

Dengan kata lain, masa depan ketahanan pangan global tidak hanya bergantung pada luasnya lahan pertanian, tetapi juga pada apakah masih ada cukup orang yang bersedia menjadi petani dan mengolahnya. (*)

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Krisisi Pangan Jumlah Petani Tenaga Kerja Pertanian

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777