https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Saat Uwais Al-Qarni Menggendong Ibunya Menuju Tanah Suci

Agus Mughni | Jum'at, 19/06/2026 10:31 WIB



Di antara kisah paling menggetarkan dalam sejarah Islam, nama Uwais Al-Qarni selalu dikenang sebagai simbol bakti seorang anak kepada ibunya Ilutrasi - Kisah Uwais Al-Qarni, pemuda berbakti yang gendong ibunya ke Tanah Suci (Foto: Tebuireng Inititives)

Jakarta, Jurnas.com - Di antara kisah paling menggetarkan dalam sejarah Islam, nama Uwais Al-Qarni selalu dikenang sebagai simbol bakti seorang anak kepada ibunya.

Pemuda sederhana asal Yaman itu rela menempuh perjalanan ribuan kilometer sambil menggendong sang ibu yang lumpuh demi mewujudkan keinginannya menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Kisah Uwais Al-Qarni bukan sekadar cerita tentang pengorbanan fisik, melainkan potret ketulusan, cinta, dan penghormatan kepada orang tua yang hingga kini terus menginspirasi umat Islam di seluruh dunia.

Baca juga :
Kisah Abdurrahman bin Auf, Sahabat Rasulullah Terkaya yang Memulai dari Nol

Dikutip dari berbagai riwayat yang dimuat oleh Nahdlatul Ulama (NU), Uwais bahkan dikenal sebagai sosok yang namanya harum di langit meski nyaris tidak dikenal di bumi.

Uwais hidup dalam kondisi serba terbatas. Ia berasal dari keluarga miskin dan menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk merawat sang ibu yang sudah lanjut usia serta mengalami kelumpuhan. Dalam keadaan seperti itu, ibunya suatu hari mengungkapkan keinginan untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah.

Baca juga :
Viral, Dokter Ini Biayai Haji Ibu Hasil Jualan Sabun di TikTok

Permintaan tersebut tentu bukan hal mudah. Jarak antara Yaman dan Makkah mencapai lebih dari 2.000 kilometer dengan medan padang pasir yang berat. Di sisi lain, Uwais tidak memiliki kendaraan maupun harta yang cukup untuk membiayai perjalanan tersebut.

Namun, keterbatasan tidak membuatnya menyerah.

Baca juga :
Mengapa Rasulullah Begitu Memulikan Buruh? Ini Kisah dan Hikmahnya

Demi memenuhi harapan sang ibu, Uwais membeli seekor anak lembu. Setiap hari ia menggendong hewan tersebut naik turun perbukitan sebagai latihan fisik. Seiring waktu, anak lembu itu tumbuh semakin besar dan berat, sementara kekuatan tubuh Uwais juga semakin terlatih.

Latihan itu berlangsung selama berbulan-bulan. Tujuannya hanya satu: mempersiapkan diri untuk menggendong ibunya menuju Tanah Suci.

Ketika musim haji tiba, Uwais mewujudkan niatnya. Ia memanggul sang ibu dan berjalan kaki dari Yaman menuju Makkah. Perjalanan panjang melintasi gurun, panas terik, dan berbagai rintangan itu dijalani dengan penuh kesabaran serta keikhlasan.

Setibanya di depan Ka`bah, sang ibu tak kuasa menahan haru. Air mata mengalir menyaksikan pengorbanan anaknya yang begitu besar. Namun, di tengah momen tersebut, Uwais tidak meminta balasan apa pun untuk dirinya.

Ia hanya berdoa, "Ya Allah, ampunilah dosa ibuku."

Ketika ibunya bertanya mengapa ia tidak mendoakan dirinya sendiri, Uwais menjawab dengan kalimat yang kemudian dikenang sepanjang masa.

"Jika ibu masuk surga, maka ridhamu cukup bagiku untuk masuk surga bersamamu."

Keistimewaan Uwais Al-Qarni tidak berhenti pada kisah baktinya kepada sang ibu. Dalam sejarah Islam, ia dikenal sebagai sosok yang sangat dicintai Rasulullah SAW meski tidak pernah bertemu secara langsung.

Suatu ketika, Uwais berangkat ke Madinah dengan harapan dapat berjumpa Nabi Muhammad SAW. Namun saat tiba, Rasulullah sedang tidak berada di kota karena suatu urusan.

Mengingat pesan ibunya agar tidak terlalu lama meninggalkan rumah, Uwais memilih kembali ke Yaman tanpa menunggu kedatangan Nabi. Ia hanya menitipkan salam melalui Sayyidah Aisyah RA.

Meski tidak pernah bertatap muka, Rasulullah SAW mengetahui keutamaan Uwais. Dalam sebuah hadis, Nabi berpesan kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib agar mencari Uwais apabila kelak bertemu dengannya.

Rasulullah bersabda bahwa Uwais adalah seorang pemuda dari Yaman yang sangat berbakti kepada ibunya dan doanya mustajab.

Bertahun-tahun kemudian, Umar dan Ali benar-benar bertemu dengan Uwais. Keduanya bahkan meminta doa dan istighfar darinya sebagaimana pesan Rasulullah SAW.

Kisah Uwais Al-Qarni mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak diukur dari popularitas, kekayaan, atau kedudukannya di dunia. Uwais hanyalah seorang penggembala miskin yang hidup jauh dari pusat peradaban Islam saat itu.

Namun, ketulusannya merawat ibu dan mengutamakan ridha orang tua menjadikannya sosok yang dihormati para sahabat besar bahkan disebut secara khusus oleh Rasulullah SAW.

Hingga kini, nama Uwais Al-Qarni tetap dikenang sebagai teladan bakti kepada orang tua. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kisahnya menjadi pengingat bahwa salah satu jalan menuju kemuliaan adalah berbuat baik kepada ayah dan ibu dengan penuh keikhlasan.

Karena itulah, setiap kali muncul kisah anak yang berjuang merawat atau menggendong orang tuanya, masyarakat kerap menyebutnya sebagai "Uwais Al-Qarni masa kini", sebuah penghormatan bagi mereka yang menempatkan bakti kepada orang tua di atas kepentingan pribadi. (*)

Wallahu`alam

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Uwais Al-Qarni Pemuda Berbakti Gendong Ibu ke Tanah Suci Kisah Inspiratif

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777