https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Kisah Abdurrahman bin Auf, Sahabat Rasulullah Terkaya yang Memulai dari Nol

Agus Mughni | Jum'at, 19/06/2026 10:19 WIB



Tak banyak orang mampu bangkit dari titik nol hingga menjadi salah satu tokoh terkaya dalam sejarah Islam. Kisah itulah yang dialami Abdurrahman bin Auf Ilustrasi - Kisah Abdurrahman bin Auf (Foto: Zakat Sukses)

Jakarta, Jurnas.com - Ketika berbicara tentang orang terkaya dalam sejarah Islam, banyak orang mungkin membayangkan sosok yang lahir dari keluarga bangsawan atau mewarisi kekayaan melimpah. Namun kisah Abdurrahman bin Auf justru berbeda.

Sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai pebisnis sukses ini pernah tiba di Madinah tanpa membawa harta sedikit pun alias mulai dari nol, sebelum akhirnya menjadi salah satu Muslim terkaya sepanjang sejarah.

Dikutip dari berbagai sumber, nama Abdurrahman bin Auf bukan hanya dikenal karena kekayaannya yang luar biasa, tetapi juga karena kerja keras, kemandirian, dan kedermawanannya yang menjadi teladan hingga kini.

Baca juga :
Ini Doa yang Dibaca Rasulullah saat Sedang Gembira dan Sedih

Abdurrahman bin Auf termasuk delapan orang pertama yang memeluk Islam dan juga salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.

Saat Rasulullah SAW dan kaum Muhajirin hijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M, banyak sahabat meninggalkan seluruh harta benda mereka. Abdurrahman bin Auf termasuk di antaranya. Ia datang ke Madinah dalam kondisi hampir tidak memiliki apa pun.

Baca juga :
Mengapa Riba Diharamkan dalam Hukum Islam?

Untuk mempererat persaudaraan dan mengurangi kesenjangan ekonomi, Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Abdurrahman dipersaudarakan dengan Sa`ad bin Rabi`, salah satu sahabat Anshar yang dikenal sangat kaya.

Melihat kondisi saudaranya yang baru datang dari Makkah, Sa`ad menawarkan separuh hartanya. Bahkan ia siap menceraikan salah satu istrinya agar dapat dinikahi Abdurrahman setelah masa iddah selesai.

Baca juga :
Tiga Keutamaan Hari Jumat yang Wajib Diketahui Umat Muslim

Namun jawaban Abdurrahman bin Auf justru menjadi salah satu kisah paling terkenal dalam sejarah Islam. "Semoga Allah memberkahi harta dan keluargamu. Tunjukkan saja kepadaku di mana pasar berada," ujarnya.

Kalimat sederhana itu menggambarkan karakter Abdurrahman bin Auf yang tidak ingin bergantung kepada orang lain. Ia memilih membangun kehidupannya kembali melalui kerja keras dan usaha yang halal. Ia memulai membangun kekayaannya dari pasar.

Sejak saat itu, Abdurrahman mulai berdagang di pasar Madinah. Dengan kecerdasan bisnis, kejujuran, serta kehati-hatian dalam menjaga kehalalan transaksi, usahanya berkembang sangat pesat.

Sejumlah riwayat menyebutkan bahwa salah satu prinsip utama yang membuatnya sukses adalah menjauhi harta haram dan perkara syubhat atau sesuatu yang tidak jelas status halal dan haramnya.

Keuntungan demi keuntungan terus mengalir. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Abdurrahman berhasil membangun jaringan perdagangan besar yang menjadikannya salah satu saudagar paling sukses di jazirah Arab.

Namun yang menarik, kekayaan itu justru membuatnya semakin takut kepada Allah.

"Aku adalah orang terkaya di Makkah. Tapi semua ini justru membuatku takut. Jangan-jangan hartaku sendiri yang akan menjerumuskanku," kata Abdurrahman bin Auf dalam sebuah riwayat.

Besarnya kekayaan Abdurrahman bin Auf membuat banyak sejarawan Islam terkagum-kagum.

Ibnu Hajar meriwayatkan bahwa ketika wafat, setiap dari empat istrinya memperoleh warisan sebesar 100.000 dinar. Berdasarkan perhitungan faraidh, total harta yang ditinggalkannya diperkirakan mencapai sekitar 3,2 juta dinar.

Dalam konversi modern, nilai tersebut diperkirakan setara dengan lebih dari Rp6 triliun.

Sementara riwayat lain yang dikutip Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ia meninggalkan aset berupa 1.000 ekor unta, 100 ekor kuda, dan 3.000 ekor kambing. Nilai keseluruhan hartanya tetap mencapai angka fantastis yang jika dikonversikan ke masa kini bernilai triliunan rupiah.

Angka tersebut menjadikan Abdurrahman bin Auf sebagai salah satu sahabat Nabi dengan kekayaan terbesar dalam sejarah Islam.

Meski memiliki harta berlimpah, Abdurrahman bin Auf dikenal sangat dermawan. Perubahan besar dalam hidupnya terjadi setelah mendengar nasihat Rasulullah SAW.

"Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya engkau termasuk orang-orang kaya dan engkau akan masuk surga dengan merangkak. Karena itu berilah pinjaman kepada Allah, niscaya Dia akan melepaskan kedua kakimu."

Nasihat tersebut begitu membekas dalam dirinya. Sejak saat itu, ia semakin banyak menginfakkan hartanya di jalan Allah.

Dalam berbagai riwayat disebutkan, Abdurrahman pernah menyedekahkan separuh hartanya, menginfakkan 40.000 dinar sekaligus, menyumbangkan 500 ekor kuda dan 500 kendaraan untuk perjuangan umat Islam, serta memerdekakan sekitar 30.000 budak.

Tidak hanya itu, ia juga memberikan 400 dinar kepada setiap veteran Perang Badar yang masih hidup. Saat itu jumlah mereka sekitar 100 orang.

Menjelang wafatnya, ia bahkan masih berwasiat memberikan bantuan besar kepada para istri Rasulullah SAW yang masih hidup.

Kedermawanannya membuat Sayyidah Aisyah RA mendoakannya dengan doa yang sangat indah. "Semoga Allah menyiraminya dengan minuman dari mata air surga."

Kisah Abdurrahman bin Auf bukan sekadar cerita tentang kekayaan. Ia menunjukkan bahwa Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya, selama harta diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan untuk kemaslahatan.

Dari seorang muhajir yang datang ke Madinah tanpa membawa apa-apa, ia menjelma menjadi saudagar besar yang hartanya mencapai triliunan rupiah. Namun yang membuat namanya dikenang hingga hari ini bukanlah jumlah kekayaannya, melainkan bagaimana ia menggunakan kekayaan tersebut untuk membantu sesama, membela agama, dan mencari ridha Allah SWT.

Di tengah budaya yang sering mengukur kesuksesan dari banyaknya harta yang dimiliki, Abdurrahman bin Auf meninggalkan pelajaran berharga: kekayaan sejati bukan terletak pada apa yang disimpan, melainkan pada apa yang diberikan di jalan kebaikan. (*)

Wallahu`alam

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Info Keislaman Kisah Inspiratif Abdurrahman bin Auf Sahabat Nabi Terkaya

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777