Petani sedang memanen kedelai (Foto:Ist)
Banyuwangi, Jurnas.com - Keberlanjutan ekosistem kedelai membutuhkan keterhubungan yang kuat antara budidaya ditingkat petani, kepastian penyerapan hasil panen dan ketersediaan bahan baku bagi pengrajin tahu dan tempe. Kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci untuk mengembangkan potensi produksi kedelai lokal sekaligus mendukung keberlangsungan usaha dan penghidupan masyarakat.
Bagi Saifulloh, petani kedelai di Banyuwangi, bertani bukan sekadar menghasilkan panen tetapi juga menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Ia mengawali perjalanan dengan bekerja di lahan milik orang lain sebelum akhirnya menyewa lahan sendiri seluas seperempat hektare.
Dari hasil bertani kedelai, Saifulloh membeli kambing untuk diternakkan kemudian berkembang ke peternakan sapi. Penghasilan dari pertanian juga membantunya memenuhi kebutuhan keluarga dan mewujudkan keinginan membangun rumah untuk anaknya.
“Dulu saya ikut bekerja di lahan orang. Setelah itu, saya mulai menyewa lahan sendiri, meskipun awalnya hanya seperempat hektare,” kata Saifulloh.
“Dari hasil bertani kedelai, saya bisa membeli kambing satu untuk diternakkan. Lama-lama, saya juga bisa membeli sapi,” lanjutnya.
Dalam setiap panen seperempat hektare, Saifulloh memperoleh sekitar 3,5 sampai 4 kuintal kedelai dengan keuntungan sekitar Rp 3,5 juta. Sebagian penghasilan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sementara sebagian lainnya dikembangkan menjadi modal usaha peternakan.
“Alhamdulillah, dari bertani kedelai saya bisa menghidupi keluarga. Hasilnya juga bisa dikembangkan untuk beternak sampai akhirnya saya mampu membangun rumah untuk anak,” ujarnya.
Kisah Saifulloh menggambarkan bagaimana budidaya kedelai dapat memberikan manfaat ekonomi yang melampaui hasil panen. Namun agar manfaat tersebut dapat terus berkembang, petani membutuhkan pengetahuan budidaya yang memadai, pendampingan berkelanjutan dan peluang pasar yang mendukung keberlanjutan penanaman.
Di Banyuwangi, pengembangan budidaya kedelai varietas lokal dilakukan melalui kolaborasi Ustad Ari Handoko, PTPN IV dan FKS Foundation. Pendampingan mencakup teknik penanaman dan pemeliharaan tanaman untuk mendukung kualitas hasil panen sekaligus mempersiapkan keberlanjutan penanaman berikutnya.
Ustad Ari Handoko menilai pendampingan menjadi bagian penting dalam membantu petani mengembangkan kemampuan budidaya dan mengelola potensi lahan secara berkelanjutan. Pengembangan tidak hanya tentang menanam dan memanen tetapi juga tentang bagaimana petani terus belajar dan mempersiapkan penanaman berikutnya.
“Pengembangan kedelai tidak hanya berbicara tentang menanam dan memanen, tetapi juga tentang bagaimana petani terus belajar, meningkatkan kemampuan budidaya dan mempersiapkan penanaman berikutnya,” ujar Ustad Ari Handoko.
“Kami ingin petani memiliki kesempatan untuk mengembangkan usahanya secara berkelanjutan sehingga hasil pertanian dapat memberikan manfaat yang lebih baik bagi keluarga mereka,” tambahnya.
Dalam program ini, hasil panen pertama akan diprioritaskan sebagai benih untuk mendukung penanaman berikutnya oleh petani yang didampingi Ustad Ari Handoko dan PTPN IV. Seiring pengembangan budidaya, FKS Foundation akan melakukan penyerapan hasil panen kedua untuk mendukung keberlanjutan usaha tani sekaligus membuka peluang pasar bagi petani.
Rencana tersebut merupakan bagian dari upaya menghubungkan pengembangan budidaya dengan kepastian penyerapan hasil panen. Dengan demikian keberhasilan program tidak hanya dilihat dari kemampuan petani menghasilkan kedelai tetapi juga dari peluang untuk melanjutkan penanaman dan mengembangkan usaha tani.
Dari perspektif pengembangan sektor pertanian, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan juga berperan dalam memperkuat kapasitas petani dan mendorong keberlanjutan kegiatan budidaya. Pengembangan kedelai memerlukan pendekatan yang tidak berhenti pada penanaman tetapi juga memperhatikan proses budidaya, peningkatan kapasitas dan kesinambungan kegiatan pertanian.
“Pengembangan budidaya kedelai membutuhkan proses dan kolaborasi yang berkelanjutan. Peningkatan kapasitas petani, penerapan teknik budidaya yang tepat serta perencanaan penanaman berikutnya perlu berjalan beriringan,” ujar perwakilan PTPN IV PalmCo dari Divisi PMO Upstream.
“Melalui kolaborasi antar pemangku kepentingan, kami berharap potensi budidaya kedelai dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat ekonomi bagi petani,” lanjutnya.
Keberlanjutan di sisi hulu perlu berjalan beriringan dengan kebutuhan pelaku usaha di hilir. Bagi pengrajin tahu dan tempe, ketersediaan kedelai dengan kualitas yang konsisten merupakan faktor penting untuk menjaga produksi harian dan mempertahankan penghasilan keluarga.
Nurwito, pengrajin tempe yang telah menjalankan usahanya sejak 2014, menggunakan sekitar 50 sampai 80 kilogram kedelai setiap hari. Kebutuhan bahan baku yang rutin membuat kepastian pasokan menjadi salah satu aspek penting dalam menjalankan usahanya.
“Bagi kami pengrajin tempe, kedelai adalah bahan baku utama yang menentukan kelangsungan produksi setiap hari,” ujar Nurwito. “Karena kami membutuhkan kedelai secara rutin, ketersediaan bahan baku dan kualitas yang konsisten sangat penting agar kami bisa terus memproduksi dan memenuhi kebutuhan keluarga serta konsumen,” tambahnya.
Dokumentasi transaksi pembelian kedelai pada pekan ketiga Oktober 2026 di sejumlah wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat harga sekitar Rp 11.050 sampai Rp 11.300 per kilogram diluar biaya transportasi dari lahan ke gudang. Di Semarang harga tercatat pada kisaran Rp 11.050 sampai Rp 11.200 per kilogram sedangkan di Solo, Yogyakarta, Purwokerto dan beberapa area lain berada pada kisaran Rp11.200 sampai Rp11.300 per kilogram.
Data tersebut memberikan gambaran mengenai harga transaksi di sejumlah wilayah pada periode tersebut. Bagi petani dan pengrajin, dinamika harga perlu dipahami bersama dengan faktor kualitas, ketersediaan dan kesinambungan pasokan yang memengaruhi kegiatan usaha mereka.
Pengalaman petani dan pengrajin menunjukkan bahwa penguatan ekosistem kedelai membutuhkan pendekatan dari hulu hingga hilir. Pendampingan budidaya perlu berjalan seiring dengan pengembangan peluang pasar sementara kebutuhan pengrajin terhadap bahan baku yang konsisten menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha pangan.
Kolaborasi antara petani, pengrajin, Ustad Ari Handoko, PTPN IV, FKS Foundation, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat membuka peluang pengembangan produksi kedelai lokal. Kolaborasi tersebut juga diharapkan dapat mendukung keberlanjutan usaha petani dan pengrajin tahu tempe.
Pada akhirnya keberlanjutan ekosistem kedelai tidak hanya diukur dari hasil panen tetapi juga dari kemampuan seluruh pihak untuk membangun kegiatan usaha yang berkesinambungan. Kegiatan tersebut dimulai dari petani yang mengembangkan lahannya hingga pengrajin yang mengolah kedelai menjadi pangan bagi masyarakat.
Senin, 19/10/2026 19:49 WIB
Sabtu, 17/10/2026 08:35 WIB
Jum'at, 16/10/2026 20:42 WIB
Jum'at, 09/10/2026 13:05 WIB