Gajah Afrika (Foto: africanbudgetsafaris)
Jakarta, Jurnas.com - Gajah dikenal memiliki ingatan kuat, ikatan sosial yang erat, dan kemampuan berkomunikasi melalui suara berfrekuensi rendah.
Namun, penelitian terbaru mengungkap sisi lain dari kehidupan sosial satwa raksasa ini. Gajah liar Afrika ternyata menggunakan berbagai gerakan tubuh sebagai isyarat untuk memengaruhi perilaku gajah lain, terutama ketika bersaing mendapatkan makanan, air, atau ruang.
Penelitian yang dilakukan di dua taman nasional di Afrika Selatan menemukan 41 jenis gestur yang digunakan gajah dalam situasi persaingan.
Gerakan tersebut bukan sekadar respons spontan saat menghadapi lawan, melainkan tampak digunakan secara sengaja untuk membuat gajah lain menjauh atau menghentikan aktivitasnya.
Temuan ini memperluas pemahaman tentang kecerdasan gajah dan cara satwa tersebut mengelola konflik dalam kelompok sosial yang kompleks. Kemampuan menyampaikan isyarat tanpa suara juga menjadi petunjuk penting untuk memahami bagaimana gajah berinteraksi dengan sesamanya di alam liar.
Penelitian ini dilakukan terhadap gajah sabana Afrika di Addo Elephant National Park dan Marakele National Park, Afrika Selatan. Tim peneliti mengumpulkan lebih dari 90 jam rekaman video dan mengidentifikasi sekitar 840 gestur individual dalam berbagai interaksi kompetitif.
Para peneliti mengamati gerakan yang dilakukan sebelum isyarat diberikan, perhatian gajah yang menjadi sasaran, serta respons yang muncul setelahnya. Pendekatan ini digunakan untuk menilai apakah gerakan tubuh tersebut sekadar muncul ketika situasi memanas atau benar-benar berfungsi sebagai sarana komunikasi.
Lucy Bates dari University of Portsmouth, salah satu penulis penelitian, mengatakan mengidentifikasi pola komunikasi tersebut membutuhkan pengamatan yang teliti.
Menurut Bates, temuan berbagai jenis gestur yang digunakan untuk menyampaikan pesan seperti meminta gajah lain menjauh atau menghentikan aktivitasnya merupakan perkembangan menarik dalam studi komunikasi hewan.
Ia juga menilai penggunaan gestur pada gajah menunjukkan bahwa komunikasi melalui gerakan tubuh dapat menjadi bagian penting dari kehidupan satwa dengan kecerdasan tinggi dan hubungan sosial yang kompleks.
Salah satu petunjuk terkuat bahwa gestur gajah digunakan secara sengaja terlihat dari cara mereka memperhatikan sasaran komunikasi.
Berdasarkan pengamatan peneliti, gajah melihat ke arah gajah yang menjadi sasaran sebelum memberikan gestur dalam 97 persen kasus. Mereka juga tetap memperhatikan sasaran selama gerakan berlangsung dalam 98 persen kasus.
Tidak berhenti sampai di situ, gajah berhenti sejenak setelah 90 persen rangkaian gestur. Jeda tersebut diduga menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana gajah lain merespons isyarat yang diberikan.
Jika respons yang diharapkan belum muncul, mereka cenderung mengulangi upaya komunikasi. Peneliti mencatat gajah melanjutkan gestur setelah 83 persen rangkaian isyarat yang belum mencapai tujuan.
Pola ini memperlihatkan bahwa gajah tidak hanya bergerak ketika menghadapi persaingan. Mereka tampak memperhatikan lawan interaksi, memberikan isyarat, menunggu reaksi, lalu mencoba kembali ketika hasilnya belum sesuai harapan.
Peneliti juga menemukan indikasi bahwa gajah menyesuaikan cara berkomunikasi ketika sasaran tidak sedang melihat ke arah mereka. Dalam kondisi tersebut, mereka cenderung menggunakan gestur yang dapat didengar atau dirasakan dan mengurangi gerakan visual tanpa suara. Namun, hasil ini memiliki tingkat kepastian lebih rendah ketika analisis dibatasi pada gajah yang dapat diidentifikasi secara individual.
Vesta Eleuteri dari University of Vienna, pemimpin penelitian tersebut, menjelaskan bahwa gerakan gajah yang terlihat mencolok selama persaingan ternyata memiliki fungsi komunikasi yang lebih kompleks daripada yang selama ini diketahui.
Setelah menyaring gerakan yang terlalu jarang muncul atau tidak menghasilkan respons yang jelas, tim mengidentifikasi 41 jenis gestur yang terdiri atas 32 bentuk tindakan gerak.
Beberapa di antaranya adalah mengayunkan atau melemparkan belalai, melebarkan telinga, menerjang ke depan, mendorong, menyentuh, dan memukul.
Belalai menjadi bagian tubuh yang paling banyak terlibat. Sekitar 47 persen gestur yang direkam menggunakan belalai, sedangkan sekitar 37 persen melibatkan telinga.
Gerakan-gerakan tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi gajah tidak selalu membutuhkan suara keras atau kontak fisik langsung. Posisi dan gerakan bagian tubuh tertentu juga dapat menjadi sarana untuk memengaruhi perilaku gajah lain.
Hal menarik lainnya adalah gajah tidak selalu menggunakan satu gerakan untuk menyampaikan satu pesan yang tetap.
Dari 33 jenis gestur yang cukup sering ditemukan dalam komunikasi yang berhasil, sebanyak 21 jenis digunakan untuk mencapai dua tujuan berbeda, yakni membuat gajah lain menjauh atau menghentikan aktivitasnya.
Dari seluruh interaksi yang dinilai berhasil, sekitar 80 persen berakhir dengan gajah sasaran menjauh, sedangkan 20 persen lainnya berakhir ketika gajah tersebut menghentikan aktivitas yang sedang dilakukan.
Temuan ini menunjukkan bahwa makna suatu gestur kemungkinan bergantung pada situasi dan respons yang ingin dicapai, bukan semata-mata pada bentuk gerakannya.
Eleuteri menjelaskan bahwa repertoar gestur yang luas dan fleksibel sebelumnya telah ditemukan pada kera dan sejumlah primata lainnya. Penemuan pola serupa pada gajah menarik karena gajah dan primata memiliki jarak kekerabatan evolusioner yang jauh.
Menurutnya, kemiripan tersebut mengindikasikan bahwa komunikasi gestural yang canggih mungkin berkembang secara terpisah pada spesies dengan kecerdasan tinggi dan kehidupan sosial yang kompleks.
Meski hidup di lokasi berbeda, populasi gajah di Addo dan Marakele memiliki 63 persen kesamaan jenis gestur dalam kumpulan gestur akhir yang dianalisis.
Kesamaan ini membuka kemungkinan bahwa gajah memiliki semacam kosakata gestural yang digunakan lintas populasi. Meski demikian, jenis gestur yang paling sering digunakan tidak selalu sama di kedua lokasi.
Perbedaan juga terlihat dari sumber daya yang diperebutkan. Di Addo, gajah sangat bergantung pada lubang air buatan selama periode kering sehingga banyak gestur yang berhasil berkaitan dengan akses terhadap air.
Sementara itu, di Marakele, persaingan lebih sering berkaitan dengan tanaman gelagah atau reeds.
Peneliti juga mengamati lebih banyak konflik di Addo. Namun, hasil penelitian ini belum membuktikan bahwa persaingan memperebutkan air menjadi penyebab perbedaan tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa komunikasi gajah perlu dipahami bersama konteks lingkungan dan sumber daya yang tersedia, bukan hanya berdasarkan gerakan tubuh yang terlihat.
Temuan mengenai komunikasi gajah tidak hanya penting bagi ilmu perilaku hewan, tetapi juga berpotensi membantu mengurangi risiko konflik antara manusia dan satwa liar.
Di kawasan konservasi berpagar, gajah dapat berkumpul di sekitar sumber daya yang terbatas. Situasi tersebut berpotensi meningkatkan persaingan antargajah, terutama ketika akses terhadap air atau makanan menjadi terbatas.
Angela Stoeger, profesor dari University of Vienna yang meneliti komunikasi gajah melalui berbagai indra, menekankan pentingnya mempelajari hubungan antara sinyal visual, suara, sentuhan, dan getaran yang merambat melalui tanah.
Pemahaman yang lebih baik terhadap berbagai sinyal tersebut dapat membantu manusia mengenali perilaku gajah, termasuk ketika satwa itu menginginkan jarak dari makhluk lain.
Hal ini semakin relevan seiring meluasnya interaksi manusia dan gajah akibat pertumbuhan populasi manusia di wilayah jelajah satwa tersebut. Mengenali tanda-tanda ketika gajah merasa terancam dapat membantu manusia mengambil jarak sebelum interaksi berkembang menjadi situasi berbahaya.
Meski demikian, gestur gajah tidak bisa ditafsirkan secara terpisah sebagai tanda pasti bahwa satwa tersebut akan menyerang atau menjauh. Konteks, perilaku lain, dan kondisi di sekitarnya tetap perlu diperhatikan.
Meski memberikan temuan penting, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Pengamatan di Addo berlangsung sekitar satu bulan, sedangkan di Marakele sekitar tiga bulan. Peneliti juga hanya berfokus pada interaksi kompetitif, sehingga 41 jenis gestur yang teridentifikasi belum mencakup seluruh bentuk komunikasi gajah.
Sejumlah isyarat awal atau gerakan yang sangat halus juga mungkin tidak terekam karena terjadi sebelum pengamatan dimulai.
Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui bagaimana gajah menggunakan gerakan tubuh dalam situasi sosial lainnya dan bagaimana gestur berinteraksi dengan suara serta sinyal komunikasi lain.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Animal Cognition ini menunjukkan bahwa kehidupan sosial gajah melibatkan komunikasi yang lebih rumit daripada sekadar suara dan gerakan spontan. Gajah tampak mampu memberikan isyarat, memperhatikan respons, serta mengubah cara berkomunikasi ketika pesan yang disampaikan belum menghasilkan respons yang diharapkan.
Temuan tersebut memperkuat pemahaman bahwa kecerdasan sosial gajah tidak hanya terlihat dari ikatan kelompoknya, tetapi juga dari cara mereka menggunakan bahasa tubuh untuk menghadapi persaingan dan mengatur jarak dengan sesamanya. (*)
Sumber: Earth
Jum'at, 09/10/2026 13:05 WIB