https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Wamenkomdigi: Nikel dan Tembaga Jadi Fondasi Penting Pengembangan AI

Agus Mughni | Kamis, 08/10/2026 13:44 WIB



Menurut Wamenkomdigi, Indonesia perlu mengarahkan hilirisasi mineral agar dapat mendukung pembangunan infrastruktur digital yang tangguh, efisien, dan berkelanj Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria (Foto: Dok. Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan pengembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) tidak hanya membutuhkan perangkat lunak dan pusat data, tetapi juga ditopang mineral kritis seperti nikel dan tembaga.

Menurut Wamenkomdigi Nezar, Indonesia perlu mengarahkan hilirisasi mineral agar dapat mendukung pembangunan infrastruktur digital yang tangguh, efisien, dan berkelanjutan. Hal itu disampaikan Nezar dalam Indonesia International Sustainability Forum di Jakarta Pusat, Selasa (6/10).

“Jika dunia meminta Indonesia menyediakan bahan baku bagi transisi energi dan transisi digital, Indonesia harus memastikan bahwa rantai nilai tersebut berkelanjutan bagi kedua belah pihak,” ujar Wamenkomdigi Nezar.

Baca juga :
Wamenkomdigi Sebut Kepercayaan Publik Jadi Ujian Utama AI di Pemerintahan

Menurut dia, nikel dan tembaga bukan sekadar komoditas pertambangan. Keduanya merupakan bagian penting dari ekosistem infrastruktur AI, mulai dari baterai, peralatan kelistrikan, jaringan transmisi, hingga sistem pendukung ketahanan pusat data.

Wamenkomdigi memaparkan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok mineral global. Dengan kontribusi sekitar 62 persen terhadap produksi tambang nikel dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat peran dalam rantai nilai teknologi global.

Baca juga :
Wamenkomdigi Wanti-wati Pekerja Harus Bersiap Sebelum AI Ubah Dunia Kerja

Namun, kata dia, posisi tersebut juga membawa tanggung jawab untuk memastikan kegiatan pengolahan mineral memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan sosial.

“Hilirisasi harus berarti lebih dari sekadar melakukan pengolahan mineral di dekat lokasi tambang. Hilirisasi harus mencakup peningkatan kinerja lingkungan, penguatan ketertelusuran, praktik ketenagakerjaan yang bertanggung jawab, penggunaan energi rendah karbon, serta perhatian serius terhadap limbah, air, dan dampak terhadap masyarakat,” tegasnya.

Baca juga :
Wamenkomdigi Dorong Digitalisasi UMKM Genjot Produktivitas dan Daya Saing

Selain mineral, pembangunan pusat data memerlukan pasokan listrik, jaringan serat optik, lahan, sistem pendingin, cip, tenaga ahli, serta tata kelola yang bertanggung jawab.

Karena itu, kata Wamenkomdigi, pengembangan AI tidak dapat dipandang semata-mata sebagai agenda digital, tetapi juga berkaitan erat dengan kebijakan energi, industri, pembiayaan, dan lingkungan.

Indonesia, lanjut Wamen Nezar, memiliki peluang untuk menjadi pusat AI regional berkat posisi geografis yang strategis, pertumbuhan ekonomi digital, serta ketersediaan talenta digital.

Namun, peluang tersebut perlu diikuti kesiapan infrastruktur dan kemampuan untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

"Kita harus mengubah pertumbuhan ini menjadi penciptaan lapangan kerja bernilai tambah tinggi, penguatan kapabilitas dalam negeri, dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan," tuturnya.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Wamen Komdigi Nezar Patria Mineral Kritis Nikel dan Tembaga Pengembangan AI

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777