Kepala Staf Umum Turki Selcuk Bayraktaroglu (kanan), Marsekal Syed Asim Munir (kiri), Komandan Angkatan Pertahanan dan Angkatan Darat Pakistan, dan Jenderal Fayyadh Bin Hamed Al-Ruwaili, Kepala Staf Umum Arab Saudi, saat pertemuan mereka di Riyadh pada 25 September 2026. (Kementerian Pertahanan Turki/AFP)
Jakarta, Jurnas.com - Militer Pakistan mengonfirmasi penempatan pasukannya ke Arab Saudi di bawah Pakta Pertahanan Bersama Makkah (Makkah Joint Defense Agreement) guna merespons lonjakan serangan drone dan rudal oleh milisi Houthi asal Yaman.
Juru bicara militer Pakistan, Letnan Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry, menyampaikan kepastian tersebut pada Rabu (7/10/2026) setelah Pakistan, Arab Saudi, dan Turki sepakat mengerahkan kapabilitas militer gabungan.
Chaudhry menegaskan keberadaan tentara Pakistan di wilayah Kerajaan Arab Saudi dalam wawancara resminya dengan CNN.
"Saya dapat mengonfirmasi bahwa kami, pasukan Pakistan, sudah berada di sana (di Kerajaan). Itu bisa saya pastikan," ujar Chaudhry.
Ia menambahkan bahwa personel militer Pakistan bertugas dalam "berbagai kapasitas dan domain" untuk mendukung pertahanan Arab Saudi.
Penempatan pasukan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan Komite Strategis-Politik dan Pertahanan dari Aliansi Pertahanan Makkah di Riyadh pada 5 Oktober 2026.
Dalam pertemuan tersebut, para pejabat dari Pakistan, Arab Saudi, dan Turki secara tegas menyampaikan penolakan mutlak serta mengecam keras serangan Houthi yang menargetkan infrastruktur sipil dan fasilitas ekonomi Kerajaan.
Pakta Pertahanan Bersama Makkah sendiri resmi ditandatangani oleh ketiga negara di kota suci Makkah pada 7 Agustus 2026. Perjanjian keamanan kolektif ini mengikat setiap negara anggota untuk memperlakukan serangan bersenjata terhadap salah satu anggota sebagai serangan terhadap seluruh anggota pakta.
Menurut Chaudhry, aliansi militer trilateral ini tidak muncul secara tiba-tiba. "Ada hubungan diplomatik, politik, militer, dan antar-masyarakat yang berkelanjutan antara Pakistan, Arab Saudi, dan Turki," tuturnya.
Selain pakta trilateral, Pakistan memiliki rekam jejak kerja sama militer panjang dengan Riyadh, termasuk penempatan 8.000 prajurit, skuadron jet tempur, dan sistem pertahanan udara berdasarkan perjanjian bilateral tahun lalu.
Sementara itu, Turki turut memberikan bantuan teknis dan pertahanan defensif kepada Arab Saudi untuk menghalau serangan milisi Houthi.
Sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar kedua di NATO, Turki bersama Pakistan juga sepakat bergabung dalam koalisi yang dipimpin Arab Saudi guna menjamin keselamatan navigasi di kawasan Laut Merah.
Kamis, 08/10/2026 15:15 WIB
Sabtu, 26/09/2026 17:05 WIB
Kamis, 08/10/2026 14:51 WIB