Imunisasi di Filipina (Foto: AFP)
Manila, Jurnas.com - Gelombang disinformasi dan klaim palsu memicu ketakutan warga terhadap program vaksinasi anak di Filipina, setelah foto seorang balita yang sempat sakit dipelintir dan disebarkan secara luas di media sosial.
Peristiwa ini bermula ketika putra Jenette Torres Odena yang berusia tiga tahun jatuh sakit beberapa hari setelah menerima suntikan vaksin campak dan rubella.
Meskipun dokter tidak menemukan hubungan antara kondisi sang anak dengan vaksinasi hingga balita tersebut pulih sepenuhnya, fotonya beredar luas di Facebook dengan narasi palsu bahwa vaksinasi telah membunuhnya.
"Saya merasa ingin menangis. Saya terus berdoa agar putra saya sembuh, dan tiba-tiba mereka membunuhnya di Facebook," kata Odena dalam laporan AFP pada Jumat (2/1).
Foto balita tersebut kemudian dimasukkan oleh kreator konten Facebook, Maharani Sona Shiloh, ke dalam sebuah video untuk membingkai narasi bahwa kampanye vaksinasi membahayakan anak-anak.
Video yang telah ditonton ratusan ribu kali itu menyandingkan foto sang anak dengan foto Presiden AS Donald Trump dan tulisan `Everyday slaughter`.
Shiloh juga menyebarkan klaim tak berdasar bahwa vaksin mengandung zat berbahaya seperti plasenta manusia dan formalin, serta menuduh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berusaha mengurangi populasi bumi.
Saat dikonfirmasi, Shiloh menolak tuduhan menyebarkan disinformasi berbahaya dan mengklaim dirinya sebagai aktivis hak asasi manusia. "Orang-orang menyebut kami gila. Mengapa manusia tidak memiliki hak untuk mempertanyakan hal-hal ini?" ujar Shiloh.
Dampak dari narasi tersebut membuat sejumlah orang tua ragu untuk memvaksinasi anak mereka. Seorang ibu yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku menunda vaksinasi anak-anaknya setelah menyaksikan konten tersebut.
"Saya menonton video Ms. Maharani karena saya mencari informasi lebih lanjut. Video itu memberikan pengetahuan tambahan, sehingga membantu saya untuk berpikir lebih hati-hati," tuturnya.
Pemerintah Filipina mencatat sekitar 230.000 orang menolak vaksinasi anak dari total lebih dari tujuh juta anak yang diimunisasi tahun ini, dan 66 persen di antaranya beralasan takut akan efek samping.
Departemen Kesehatan Filipina menyebut disinformasi yang disebarkan oleh influencer media sosial sebagai penggerak utama atas ketakutan terhadap vaksin.
Peneliti komunikasi kesehatan dari Deakin University Australia, Daniel Fritz Silvallana, menjelaskan bahwa fenomena penolakan ini juga berkaitan dengan isu kepercayaan dan sejarah kesehatan publik di Filipina.
"Keraguan terhadap vaksin tidak boleh disikapi secara sederhana sebagai bentuk kurangnya pengetahuan ilmiah di kalangan masyarakat," ujar Silvallana.
"Dalam konteks Filipina, hal ini juga terikat dengan persoalan kepercayaan, politik, serta pengalaman masa lalu masyarakat terkait vaksinasi dan lembaga kesehatan publik," dia menambahkan.
Pakar vaksin dari University of Auckland, Helen Petousis-Harris, menilai video anti-vaksin sengaja menunggangi rasa takut ketimbang menyajikan bukti ilmiah.
"Bahan-bahan vaksin yang diakui berubah menjadi kontaminan misterius. Kejadian ikutan yang langka dipelintir menjadi kerusakan otak, epilepsi, kegagalan organ, hingga kematian," terang Petousis-Harris.
Kondisi ini menempatkan para tenaga kesehatan di garis depan pada posisi yang sulit, bahkan harus menghadapi intimidasi dari warga yang terpengaruh disinformasi. Wenna Mae Belen, seorang petugas kesehatan pedesaan di provinsi Sorsogon, menceritakan pengalamannya saat berhadapan dengan orang tua murid.
"Mereka mengatakan kepada saya jika sesuatu yang buruk terjadi, mereka akan memaksa saya menyedot kembali vaksin tersebut keluar dari tubuh anak-anak mereka," ujar Belen.
Sabtu, 26/09/2026 17:05 WIB