Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat. (Foto: Humas MPR)
Jakarta, Jurnas.com - Perkuat standardisasi, pengawasan, dan tata kelola kolaboratif agar jejak peradaban laut Nusantara tetap lestari, sebagai bagian upaya memperkokoh identitas bangsa.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat berpendapat bahwa sejarah maritim Nusantara dapat dimanfaatkan sebagai penguat identitas bangsa.
"Negara kita adalah negara maritim, kita harus memiliki cara pandang bahwa perairan dan daratan merupakan satu kesatuan. Museum bahari harus mampu menjadi bagian dari instrumen penguatan kedaulatan bangsa,” kata Lestari, saat membuka Forum Diskusi Aktual Berbangsa Bernegara (FDABB) bertema Laut yang Menyatukan Indonesia: Menghidupkan Kesadaran Kebangsaan dari Museum Bahari di Ruang Delegasi Gedung Nusantara V, Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (30/9).
Diskusi tersebut digelar atas kerja sama MPR RI, Yayasan Mitra Museum Jakarta, dan Forum Diskusi Denpasar 12.
Diskusi yang dimoderatori Indra Maulana (jurnalis Metro TV) itu menghadirkan Laksamana TNI (Purn.) Prof. Marsetio, Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum., dan Nofa Farida Lestari sebagai narasumber. Hadir pula Ratih Megasari Singkarru, Mis’ari, M.Hum., dan Idham Bachtiar Setiadi, Ph.D., sebagai penanggap.
Menurut Rerie, sapaan akrab Lestari, pemahaman terhadap sejarah kelautan memperkuat ikatan batin warga negara.
“Catatan sejarah dan bukti material yang tersimpan di museum harus mampu memberi gambaran sejarah kita di masa lalu," ujarnya.
Rerie yang juga Anggota Komisi X DPR RI itu menyoroti bahwa dalam upaya pelestarian museum bahari, sejatinya sudah memiliki payung hukum. Namun, implementasi di lapangan masih jauh dari memadai.
“Regulasi sudah ada, tetapi apakah hal itu sudah membuat para pemangku kepentingan mengalokasikan anggaran dan langkah pelestarian yang memadai?" ujar Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu.
Menurut Rerie, tata kelola kolaboratif antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta perlu dirumuskan secara sistematis.
Rerie menekankan seluruh warga negara memikul tanggung jawab peradaban untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya maritim Nusantara.
Dari diskusi tersebut, Penasihat Khusus Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI (Kemdiktisaintek) Laksamana TNI (Purn.) Prof. Marsetio mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan pivot maritim dunia dan memiliki tiga alur laut kepulauan.
Dengan sejumlah kondisi itu, ujar dia, Indonesia termasuk merupakan negara maritim yang besar. Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957 memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim.
Marsetio berpendapat bahwa diperlukan strategi yang tepat untuk membangun negara maritim yang besar.
"Kita punya konsep wawasan Nusantara yang menegaskan cara pandang Bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya. Ini yang harus diperkuat untuk membangun bangsa," ujar Marsetio.
Sementara itu, sejarawan Susanto Zuhdi menegaskan, laut berperan besar dalam proses pembentukan bangsa Indonesia jauh sebelum Sumpah Pemuda 1928.
Dalam konteks abad ke-17 dan ke-18, tambah dia, sejarah Indonesia tidak hanya dilihat dari perspektif VOC, tetapi juga dinamika kependudukan yang mempertemukan unsur-unsur pembentuk masyarakat baru dengan nilai-nilai baru keindonesiaan.
Melalui jaringan pelayaran, ujar Susanto, diaspora Nusantara menyebar dan berinteraksi lintas etnik, melahirkan nilai-nilai baru yang menjadi fondasi kebangsaan.
Direktur Eksekutif Musee ID Nofa Farida Lestari berpendapat, museum bahari perlu didorong melampaui fungsi tradisional sebagai tempat menyimpan dan memamerkan koleksi.
Museum, ujar Nofa, harus berkembang menjadi ruang dialog, pendidikan kebangsaan, dan penggerak pembangunan lokal yang berkelanjutan.
Menurut Nofa, museum memiliki posisi strategis untuk mengubah koleksi dan warisan budaya menjadi kesadaran publik.
Karena itu, museum perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pembangunan, bukan hanya sebagai institusi pelestarian sejarah.
Sementara itu, Ketua Kelompok Fraksi Partai NasDem di Komisi X DPR RI Ratih Megasari Singkarru mengungkapkan bahwa Komisi X saat ini sedang membahas RUU Sisdiknas dan museum tidak terlepas dari fungsi edukasi.
Pada RUU Sisdiknas, ujar Ratih, ada pembahasan terkait materi sejarah, seni, dan muatan lokal yang tidak terlepas dari keberadaan museum di tanah air.
Ratih bertekad, ruang kurikulum bisa lebih inklusif sebagai pijakan nyata bagi sumber daya manusia Indonesia untuk tumbuh.
Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta Mis’ari mengungkapkan sejumlah kesenjangan.
Diakui Mis`ari, pendanaan untuk museum sejatinya sudah ada dari pemerintah daerah. Namun, tambah dia, diharapkan pembiayaan itu berkelanjutan, tidak terhadang oleh efisiensi.
Saat ini, ujar Mis`ari, pihaknya membangun kolaborasi dengan museum di Rotterdam, Belanda, terkait upaya pengayaan koleksi museum.
Mis`ari juga berharap, keterlibatan pihak swasta untuk mendukung pengelolaan museum bahari agar mampu berperan menjadi ruang belajar dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
Visiting Professor Universitas Leiden, Idham Bachtiar Setiadi, PhD, memaparkan gagasannya tentang kekuatan bahari Indonesia.
Idham berpendapat bahwa kekuatan bahari tidak muncul sendiri, tetapi dari kolaborasi masyarakat dan negara. Masyarakat yang membangunnya, negara yang mendorongnya.
Menurut Idham, museum harus mampu mendorong peran aktif masyarakat. Selain itu, ujar dia, penguatan budaya bahari membutuhkan pengembangan pusat-pusat bahari di tanah air.
"Membangun kekuatan bahari bukan hanya soal armada. Namun juga soal budaya, pendidikan, dan kesadaran masyarakat yang harus dibangun," tegas Idham.
Tenaga Ahli MPR RI Luthfi Assyaukanie mengungkapkan, dari hasil diskusi terungkap bahwa laut merupakan pemersatu.
Meski selama ini banyak pendapat yang menyatakan laut memisahkan pulau-pulau, jelas Luthfi, tetapi sejarah kita membuktikan laut menyatukan kita semua.
Selain itu, tegas dia, laut juga pembentuk identitas bangsa dengan peran diaspora. Identitas yang plural saat ini, ujar Luthfi, adalah bagian yang dibentuk oleh diaspora itu.
Menurut Luthfi, laut juga merupakan harapan dan masa depan. Salah satu upaya untuk memupuk harapan dan masa depan itu, tegas dia, lewat pembangunan narasi dan museum bahwa laut adalah sumber daya dan tempat menggantungkan harapan.
Sabtu, 26/09/2026 17:05 WIB