Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi (Foto: REUTERS)
Jakarta, Jurnas.com - China mendesak Jepang segera mengoreksi pernyataan dan sikap pemimpinnya terkait Taiwan. Beijing menilai hubungan China-Jepang kembali berada dalam situasi serius setelah Tokyo menyampaikan pernyataan mengenai kemungkinan keterlibatan Jepang jika terjadi konflik di sekitar Taiwan.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyampaikan desakan tersebut saat bertemu dengan Takeshi Iwaya, Ketua Japan Association for the Promotion of International Trade, di Beijing pada Senin (28/9). Pertemuan itu berlangsung ketika hubungan kedua negara masih dibayangi ketegangan terkait isu Taiwan.
“Bagi Jepang, tugas mendesak adalah mengoreksi sesegera mungkin perkataan dan tindakan keliru para pemimpinnya mengenai masalah Taiwan,” kata Wang, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri China.
Wang mengatakan hubungan Beijing dan Tokyo kembali menghadapi “situasi serius” dan perlu dinormalisasi kembali. Ia juga memperingatkan Jepang agar tidak menantang konstitusi pascaperang yang dikenal sebagai “Peace Constitution” maupun berupaya menghidupkan kembali persoalan terkait penjahat perang.
Peringatan tersebut disampaikan ketika China dan Jepang memasuki periode penting dalam hubungan bilateral. Beijing dan Tokyo akan memperingati 55 tahun normalisasi hubungan diplomatik pada tahun depan.
Ketegangan terbaru antara kedua negara berkaitan dengan pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November lalu.
Saat itu, Takaichi mengatakan serangan China terhadap Taiwan dapat dikategorikan sebagai situasi yang mengancam kelangsungan hidup Jepang dan berpotensi membuka jalan bagi Tokyo untuk menggunakan hak membela diri secara kolektif.
Pernyataan tersebut kemudian memicu protes berulang dari Beijing. China menilai komentar tersebut menyentuh isu sensitif mengenai Taiwan dan berpotensi mengarah pada keterlibatan militer Jepang dalam konflik di Selat Taiwan.
Pemerintah Jepang sebelumnya menyatakan kebijakan dasarnya mengenai Taiwan tidak berubah. Namun, Takaichi tidak menarik kembali pernyataannya dan mengatakan pemerintah akan menentukan respons berdasarkan seluruh informasi yang tersedia apabila menghadapi situasi yang mengancam kelangsungan hidup Jepang.
Dalam pertemuan dengan Wang, Iwaya yang juga pernah menjabat sebagai menteri luar negeri Jepang mengakui kondisi hubungan kedua negara saat ini mengkhawatirkan, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri China.
Ketegangan China-Jepang juga berlangsung bersamaan dengan persoalan keamanan regional yang melibatkan Amerika Serikat.
Sistem rudal Typhon milik AS yang saat ini ditempatkan di Jepang barat daya akan dipindahkan ke Pangkalan Udara Kadena di Okinawa sekitar pertengahan Oktober, menurut laporan Kyodo News yang mengutip Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi.
Sistem tersebut mampu meluncurkan rudal jelajah Tomahawk. Namun, menurut laporan tersebut, penempatan di Kadena tidak dimaksudkan sebagai penempatan permanen.
China telah menyatakan keberatannya terhadap pengerahan sistem rudal tersebut.
Taiwan menjadi salah satu isu paling sensitif dalam hubungan China-Jepang karena Beijing menganggap pulau tersebut sebagai bagian dari wilayahnya dan menentang keterlibatan negara lain dalam persoalan tersebut.
Bagi Jepang, perkembangan di sekitar Taiwan juga memiliki implikasi keamanan karena kedekatan geografis dan kepentingan strategis Tokyo di kawasan.
Pernyataan Takaichi mengenai kemungkinan situasi yang mengancam kelangsungan hidup Jepang memperlihatkan bagaimana skenario konflik di Taiwan dapat masuk dalam perdebatan keamanan Jepang.
Di tengah ketegangan itu, kedua negara masih memiliki kepentingan ekonomi dan hubungan diplomatik yang luas. Karena itu, seruan Wang untuk kembali menormalisasi hubungan menunjukkan bahwa persoalan Taiwan kini menjadi salah satu titik utama yang memengaruhi hubungan Beijing dan Tokyo.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada bagaimana kedua pemerintah menangani perbedaan mengenai Taiwan, kebijakan keamanan Jepang, serta kehadiran militer AS di wilayah Jepang tanpa semakin memperlebar ketegangan bilateral. (*)
Sumber: Anadolu
Rabu, 30/09/2026 08:52 WIB
Sabtu, 26/09/2026 17:05 WIB