Pertempuran antara pasukan pemerintah Yaman dan kelompok Houthi kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir, terutama di sejumlah front di Taiz, Al-Jawf, dan Al-Bayda (Foto: Anadolu)
Jakarta, Jurnas.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan konflik di Yaman berisiko kembali berubah menjadi perang berskala besar setelah pertempuran di sejumlah front kembali meningkat.
Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg mendesak seluruh pihak menghentikan permusuhan dan menahan diri semaksimal mungkin. Ia memperingatkan eskalasi terbaru dapat berkembang menjadi konflik yang jauh lebih luas jika tidak segera dikendalikan.
Dalam pernyataan yang dipublikasikan di situs PBB, Grundberg menyebut perkembangan terakhir sangat mengkhawatirkan. Laporan mengenai warga sipil yang tewas dan terluka, keluarga yang kembali mengungsi, serta kerusakan infrastruktur sipil menjadi alasan utama kekhawatiran tersebut.
“Perkembangan ini sangat mengkhawatirkan,” kata Grundberg dalam pernyataannya.
Pertempuran antara pasukan pemerintah Yaman dan kelompok Houthi kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir, terutama di sejumlah front di Taiz, Al-Jawf, dan Al-Bayda.
Eskalasi juga disertai serangan udara terhadap sejumlah lokasi yang dikaitkan dengan kelompok Houthi. Rangkaian bentrokan tersebut menambah kekhawatiran bahwa ketegangan yang selama ini relatif terkendali dapat kembali berubah menjadi perang terbuka.
Menurut Grundberg, Yaman telah mengalami konflik selama lebih dari satu dekade. Kembalinya pertempuran dalam skala besar akan membawa konsekuensi berat bagi warga sipil sekaligus membuat jalan menuju penyelesaian politik semakin sulit.
Situasi terbaru muncul setelah sejumlah front di Yaman mengalami serangkaian serangan timbal balik sejak Juli tahun ini.
Rangkaian kekerasan tersebut mengakhiri periode relatif tenang yang berlangsung sejak gencatan senjata yang dimediasi PBB mulai berlaku pada April 2022.
Masa tenang itu tidak sepenuhnya mengakhiri konflik, tetapi membantu menurunkan intensitas pertempuran dibandingkan periode sebelumnya. Meningkatnya serangan di berbagai front kini memunculkan kekhawatiran bahwa stabilitas yang rapuh tersebut kembali runtuh.
Grundberg meminta seluruh pihak memanfaatkan saluran komunikasi yang sudah tersedia untuk mencegah eskalasi lebih jauh. Salah satunya adalah Military Coordination Committee yang didukung PBB.
Utusan PBB tersebut menekankan kewajiban seluruh pihak untuk mematuhi hukum humaniter internasional dan melindungi warga sipil serta infrastruktur sipil.
Ia memperingatkan bahwa perang besar yang kembali berlangsung akan memperburuk situasi masyarakat yang telah lama menghadapi dampak konflik.
Menurut Grundberg, masyarakat Yaman menginginkan keamanan, lembaga pemerintahan yang berfungsi, serta masa depan yang tidak lagi dibayangi konflik. Namun, tujuan tersebut membutuhkan jalur politik yang kredibel.
Jalur tersebut, kata dia, harus mampu menangani persoalan politik, keamanan, dan ekonomi yang menjadi akar konflik Yaman.
Grundberg mengatakan akan terus berkomunikasi langsung dengan pihak-pihak yang bertikai untuk meredakan ketegangan saat ini.
Upaya tersebut ditujukan untuk mencegah konflik berkembang lebih jauh sekaligus mempertahankan ruang bagi dialog politik.
Ia juga meminta negara-negara di kawasan dan aktor internasional menggunakan pengaruh mereka untuk menurunkan ketegangan serta membantu mengembalikan pihak-pihak yang bertikai ke meja perundingan.
“Penahanan diri maksimum” dinilai penting untuk mencegah eskalasi yang dapat semakin sulit dikendalikan.
Konflik Yaman telah berlangsung sejak 2014 dan membuat negara tersebut terpecah antara kelompok-kelompok yang saling bertikai.
Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sejumlah kota lain sejak September 2014. Sementara itu, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional bersama pasukan sekutunya menguasai wilayah luas di bagian selatan, timur, dan barat negara tersebut.
Kondisi tersebut membuat konflik Yaman tidak hanya menjadi persoalan perebutan kekuasaan di dalam negeri, tetapi juga berkaitan dengan kepentingan dan pengaruh berbagai pihak di tingkat regional. (*)
Sumber: Anadolu
Selasa, 08/09/2026 09:59 WIB