Migran ilegal mendapatkan pertolongan saat hendak berlayar ke Eropa pada Desember 2025 (Foto: AFP)
Tunis, Jurnas.com - Sedikitnya 13 warga negara Tunisia dilaporkan hilang setelah perahu migran yang mereka tumpangi tenggelam di lepas pantai Tunisia saat berlayar menuju Italia. Sementara itu, dua orang berhasil diselamatkan, menurut keterangan dari ketua kelompok hak-hak migran pada Sabtu (22/8).
Mostafa Abdelkebir, Ketua Observatorium Tunisia untuk Hak Asasi Manusia (Tunisian Observatory for Human Rights), mengonfirmasi bahwa kapal tersebut mulai berlayar pada Kamis dini hari, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Salah satu dari dua korban selamat menyampaikan kepada tim penyelamat di kapal lokal bahwa mereka sempat terombang-ambing di laut selama berjam-jam setelah kapal yang mereka tumpangi terbalik. Korban selamat kedua dilaporkan berada dalam kondisi kritis.
Tunisia sebelumnya merupakan salah satu titik keberangkatan utama bagi para migran yang melintasi Laut Tengah menuju Eropa. Namun, jumlah keberangkatan menurun tajam dalam dua tahun terakhir akibat tindakan tegas dan pengetatan kontrol maritim, yang didukung oleh pendanaan Eropa serta peralatan pemantauan perbatasan modern, khususnya dari Italia.
Bulan lalu, Human Rights Watch, Amnesty International, serta puluhan kelompok hak asasi manusia dan kemanusiaan lainnya mengeluarkan pernyataan bersama yang mengritik kesepakatan migrasi antara Uni Eropa dan Tunisia.
Kelompok-kelompok tersebut menilai kesepakatan itu telah memicu dan memvalidasi pelanggaran serius terhadap para migran serta pencari suaka di Tunisia. Mereka pun mendesak Uni Eropa untuk membekukan pendanaan bagi kegiatan kontrol perbatasan yang melibatkan pasukan keamanan Tunisia.
Pemerintah Tunisia belum memberikan komentar terkait pernyataan tersebut, tetapi berulang kali menegaskan bahwa negaranya menanggung beban berat akibat lonjakan arus migrasi. Presiden Kais Saied pada 2023 sempat menyatakan bahwa lonjakan migran bertujuan untuk mengubah demografi negara tersebut.
Rute Laut Tengah bagian tengah tetap menjadi salah satu jalur migrasi paling mematikan di dunia, yang kerap digunakan oleh para migran dari Afrika dan Timur Tengah untuk mencapai Eropa menggunakan perahu yang melebihi kapasitas atau tidak layak jalan.
Rabu, 19/08/2026 21:36 WIB