Sebuah kapal tanker minyak berlayar melalui Selat Hormuz pada 17 April 2026, sesaat sebelum Iran mengumumkan bahwa selat tersebut akan ditutup kembali (Foto: Mohammed Aty/Reuters)
Dubai, Jurnas.com - Lalu lintas harian kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan mulai melambat pada Jumat (10/7), imbas pecahnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada pekan ini.
Kedua belah pihak juga kembali bersitegang mengenai pihak yang berhak memegang kendali atas jalur pelayaran vital tersebut.
Rentetan serangan ini memicu kembali kekhawatiran global terkait pemulihan pasokan minyak dan aktivitas pelayaran. Selain itu, insiden ini menyoroti rapuhnya kesepakatan gencatan senjata sementara, di saat AS dan Iran tengah berupaya merumuskan perjanjian perdamaian permanen.
Harga minyak dunia terpantau sedikit melandai pada Jumat, sebagaimana dikutip dari Reuters, namun masih berada pada jalur kenaikan mingguan sebesar 4 hingga 5 persen pasca-eskalasi tersebut.
Badan Energi Internasional (IEA) mencatat bahwa pasokan minyak global sempat meningkat sebesar 4,1 juta barel per hari (bpd) pada bulan Juni seiring pulihnya pelayaran melalui selat itu. Akan tetapi, angka tersebut masih berada 9,4 juta bpd di bawah level normal sebelum perang terjadi.
Lembaga tersebut juga memperingatkan adanya ancaman ketatnya pasokan solar dan bensin, seraya menambahkan bahwa pabrik penyulingan cenderung lebih lambat merespons pembukaan kembali selat jika dibandingkan dengan fluktuasi harga minyak mentah.
Sebagai informasi, Selat Hormuz menangani sekitar seperlima dari total pasokan minyak global sebelum konflik pecah. Sejak saat itu, Teheran secara de facto telah mengambil alih sebagian besar kendali perairan tersebut, yang memicu kebuntuan panjang dalam konfrontasinya dengan kekuatan militer terbesar di dunia itu.
Di bawah kesepakatan sementara, AS setuju untuk mengakhiri blokade angkatan lautnya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Iran berkomitmen untuk menjamin kelancaran dan keamanan lintasan bagi kapal-kapal komersial.
Namun pada pekan ini, Washington menuding pasukan Iran telah menyerang tiga kapal tanker di area tersebut. Sebagai tindak balasan, AS menggempur sejumlah fasilitas militer di pesisir selatan dan provinsi wilayah timur Iran.
Meskipun Iran tidak mengklaim bertanggung jawab atas insiden terhadap kapal-kapal tanker tersebut, para analis menilai bahwa Teheran sering kali memanfaatkan taktik semacam itu guna mendongkrak posisi tawar mereka dalam meja perundingan.
Membalas serangan tersebut, Iran ganti menyerang sejumlah pangkalan militer AS di negara-negara Teluk pada Kamis.