Fenomena El Nino (Foto: Live Science)
Jakarta, Jurnas.com - El Nino selama ini dikenal sebagai salah satu fenomena iklim paling merusak di dunia karena memicu kekeringan, kebakaran hutan, hingga gagal panen di berbagai negara.
Namun, penelitian terbaru menemukan cara yang tidak biasa untuk melemahkan fenomena tersebut, yakni dengan membuat awan di atas Samudra Pasifik menjadi lebih cerah.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances menunjukkan bahwa penyemprotan partikel garam laut berukuran sangat kecil ke awan rendah di tenggara Samudra Pasifik berpotensi mengurangi kekuatan El Nino secara signifikan.
Dikutip dari Earth, tim peneliti menemukan bahwa partikel garam tersebut membuat awan memantulkan lebih banyak sinar Matahari sehingga suhu permukaan laut di bawahnya menjadi lebih dingin.
Dalam simulasi iklim, metode ini mampu menurunkan suhu Samudra Pasifik bagian tengah lebih dari 1,7 derajat Celsius saat El Nino ekstrem 2015-2016. Pendinginan tersebut hampir sepenuhnya menghilangkan karakteristik El Nino yang saat itu menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah.
Para peneliti menjelaskan bahwa El Nino berkembang melalui siklus saling menguatkan antara suhu laut yang menghangat dan melemahnya angin pasat. Pendinginan permukaan laut akibat awan yang lebih cerah mampu memutus siklus tersebut sehingga perkembangan El Nino melemah.
Menariknya, penelitian ini menunjukkan intervensi tidak perlu dilakukan selama bertahun-tahun seperti konsep geoengineering untuk mendinginkan Bumi. Upaya tersebut cukup dilakukan selama beberapa bulan ketika El Nino mulai berkembang.
Namun, para ilmuwan juga mengingatkan bahwa metode tersebut bukan tanpa risiko.
Dalam sejumlah simulasi, El Nino yang berhasil dilemahkan justru diikuti kemunculan La Niña lebih cepat dan pada beberapa kasus memiliki intensitas lebih kuat.
Selain itu, perubahan iklim regional juga tidak terjadi secara merata. Sebagian wilayah memang mengalami cuaca yang lebih baik setelah El Nino melemah, tetapi beberapa kawasan di Eropa dan Asia justru berpotensi mengalami kondisi yang lebih hangat.
Karena itu, para peneliti menegaskan penelitian ini masih sebatas simulasi komputer dan belum menjadi rekomendasi untuk diterapkan di dunia nyata. Mereka menilai diperlukan kajian ilmiah, teknis, hingga etika yang jauh lebih mendalam sebelum teknologi tersebut dipertimbangkan. (*)