Kekeringan ekstrem yang melanda Hutan Amazon pada 2023 akibat El Nino (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Kekeringan ekstrem yang melanda Hutan Amazon pada 2023 ternyata tidak hanya mengancam ekosistem hutan hujan terbesar di dunia, tetapi juga berpotensi mengubah kimia atmosfer Bumi.
Penelitian terbaru mengungkap bahwa kondisi kering akibat fenomena El Nino membuat tanah Amazon kehilangan kemampuan alaminya menyerap gas isoprena (isoprene), sehingga memicu efek berantai terhadap sistem iklim global.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Communications Earth & Environment oleh tim peneliti yang dipimpin Max Planck Institute for Chemistry di Mainz, Jerman.
Penelitian dilakukan selama beberapa musim, termasuk saat Amazon mengalami musim kemarau terburuk dalam sejarah modern pada 2023. Saat itu, El Nino menyebabkan debit sungai mencapai titik terendah dan membuat vegetasi di berbagai wilayah mengalami tekanan akibat suhu tinggi dan minimnya curah hujan.
Dikutip dari Earth, kekeringan bikin tanah Amazon kehilangan fungsi penting. Selama ini, tanah hutan Amazon berperan sebagai penyerap alami gas isoprena yang dilepaskan tumbuhan ke atmosfer.
Isoprena merupakan senyawa organik yang diproduksi tanaman untuk membantu menghadapi stres akibat panas. Secara global, hutan tropis menghasilkan lebih dari 500 megaton isoprena setiap tahun, dengan Amazon menjadi salah satu penyumbang terbesar.
Namun, penelitian menemukan kemampuan tanah menyerap gas tersebut turun drastis ketika kekeringan melanda.
Penulis utama penelitian, Giovanni Pugliese dari Max Planck Institute for Chemistry, mengatakan perubahan itu terjadi secara tiba-tiba ketika kadar air tanah berada di bawah ambang tertentu.
"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa selama kondisi iklim ekstrem akibat El Nino 2023, kemampuan tanah menyerap isoprena tiba-tiba tidak lagi merespons peningkatan konsentrasi isoprena di atmosfer," ujar Pugliese.
Ia menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan terganggunya aktivitas mikroorganisme tanah yang selama ini berperan menguraikan isoprena.
"Hasil ini konsisten dengan adanya keterbatasan fisiologis mikroba pengurai isoprena ketika kelembapan tanah turun di bawah 20 persen," katanya.
Penelitian menunjukkan kapasitas tanah menyerap isoprena turun lebih dari empat kali lipat dibandingkan kondisi normal.
Dampaknya tak hanya terjadi di Amazon. Para peneliti menjelaskan bahwa isoprena bukan sekadar gas yang dilepaskan tumbuhan.
Di atmosfer, senyawa ini berinteraksi dengan radikal hidroksil (OH), yang dikenal sebagai "pembersih" alami atmosfer karena berperan menguraikan berbagai polutan dan gas rumah kaca.
Ketika kadar isoprena meningkat, kemampuan atmosfer membersihkan dirinya dapat berkurang. Kondisi tersebut membuat gas rumah kaca seperti metana bertahan lebih lama di atmosfer dan berpotensi memperkuat pemanasan global.
Dengan kata lain, kekeringan di Amazon tidak hanya berdampak pada hutan itu sendiri, tetapi juga dapat memengaruhi keseimbangan kimia atmosfer secara global.
Penelitian juga menemukan bahwa selama kekeringan, pepohonan justru meningkatkan produksi isoprena sebagai mekanisme pertahanan terhadap suhu tinggi dan stres oksidatif.
Di saat yang sama, tanah kehilangan kemampuan menyerap gas tersebut. Kombinasi kedua proses ini menyebabkan konsentrasi isoprena di atmosfer meningkat jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
Para peneliti menyebut fenomena tersebut sebagai umpan balik iklim (climate feedback) yang dapat memperkuat dampak perubahan iklim apabila kekeringan ekstrem semakin sering terjadi.
Tim peneliti menilai temuan ini penting karena sebagian besar model iklim global masih menganggap kemampuan tanah menyerap isoprena bersifat tetap. Padahal, hasil penelitian menunjukkan kemampuan tersebut dapat berubah drastis ketika terjadi kekeringan ekstrem.
Karena itu, mereka mendorong agar faktor penyerapan isoprena oleh tanah dimasukkan ke dalam model iklim agar proyeksi perubahan iklim di masa depan menjadi lebih akurat.
Meski demikian, para ilmuwan masih perlu meneliti apakah mikroorganisme tanah Amazon mampu beradaptasi terhadap kondisi yang semakin panas dan kering, atau justru akan semakin kehilangan kemampuannya menyerap isoprena di masa mendatang. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Tanah Amazon Kekeringan Ekstrem Kimia Atmosfer Bumi Iklim Global El Nino


























