Rabu, 19/08/2026 21:35 WIB

Bertemu Parlemen Iran, Irak Minta Status Khusus Ekspor Minyak di Hormuz





Ketua Parlemen Irak Haibat Al-Halbousi mendesak pemberian status khusus bagi ekspor minyak Irak yang melintasi Selat Hormuz.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf berpidato di hadapan para hadirin di lokasi dekat Bandara Internasional Baghdad tempat komandan militer Iran Qassem Soleimani tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS, di Baghdad pada 19 Agustus 2026. (Foto: AP)

Jaakarta, Jurnas.com - Ketua Parlemen Irak Haibat Al-Halbousi mendesak pemberian status khusus bagi ekspor minyak Irak yang melintasi Selat Hormuz saat menggelar pertemuan dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf di Baghdad pada Rabu (19/8).

Pernyataan tersebut disampaikan pihak kantor Ketua Parlemen Irak melalui rilis resmi tanpa merinci rincian teknis lebih lanjut terkait usulan status khusus tersebut.

Qalibaf tiba di negara tetangga Irak pada Rabu untuk melakukan kunjungan kerja selama tiga hari. Selama di Baghdad, ia dijadwalkan bertemu dengan para pejabat tinggi Irak serta pimpinan koalisi politik yang disokong Iran.

Kelompok milisi Irak yang didukung Iran berulang kali melancarkan dan mengklaim serangan drone yang menyasar basis-basis militer serta diplomatik AS, baik di dalam maupun di luar negeri. Aksi tersebut kian menambah tekanan politik bagi Baghdad, yang selama bertahun-tahun berupaya menjaga keseimbangan hubungan diplomatik antara Washington dan Teheran.

Bulan lalu, Presiden AS Donald Trump menyambut kedatangan Perdana Menteri Irak Ali Al-Zaidi di Gedung Putih serta melayangkan berbagai pujian kepadanya.

Pada Rabu, Qalibaf menyampaikan apresiasi terhadap kelompok milisi berstatus proksi Teheran di Irak—yang ia sebut sebagai "resistensi di Irak"—dengan menggambarkannya sebagai "komponen kunci dari kekuatan nasional negara tersebut."

"Setelah bertahun-tahun pengalaman di Irak, kekuatan resistensi telah melampaui batas-batas kedua negara dan berkembang menjadi kekuatan yang berpengaruh di tingkat regional maupun global," ujar Qalibaf.

Iran sejak lama mengandalkan sekutu utama dan kelompok proksinya, terutama kelompok militan Hizbullah di Lebanon dan pemberontak Houthi di Yaman, dalam dinamika konflik kawasan Timur Tengah selama bertahun-tahun.

Sebelumnya pada Selasa, Qalibaf menegaskan bahwa Selat Hormuz yang strategis tidak bakal dibuka sampai Amerika Serikat memenuhi jajaran tuntutan Teheran, termasuk pencabutan blokade laut.

"Saya ingin menegaskan secara jelas bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai komitmen Amerika yang tertuang dalam nota kesepahaman ... direalisasikan," tegas Qalibaf dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah.

Ia merinci pencabutan blokade laut, penghapusan sanksi minyak, serta pencairan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri sebagai syarat utama yang harus dipenuhi Washington.

KEYWORD :

Selat Hormuz Parlemen Irak Ekspor Minyak




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :