Sabtu, 04/07/2026 09:43 WIB

El Nino Terpantau di Pasifik, Waspadai Kekeringan-Karhutla Sepekan ke Depan





Peringatan tersebut disampaikan seiring masih bertahannya fenomena El Niño di Samudra Pasifik yang berdampak pada berkurangnya curah hujan di sebagian besar wil

Ilustrasi kekeringan (Foto: Doknet)

Jakarta, Jurnas.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam sepekan ke depan.

Peringatan tersebut disampaikan seiring masih bertahannya fenomena El Niño di Samudra Pasifik yang berdampak pada berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Dalam keterangan tertulis, BMKG menyampaikan berdasarkan analisis indikator iklim global terkini, kondisi El Niño masih aktif dan memengaruhi pola cuaca nasional. Dampaknya mulai terlihat dari semakin meluasnya wilayah yang mengalami hari tanpa hujan (HTH).

"Berdasarkan analisis indikator iklim global terkini, kondisi El Niño masih terpantau di Samudra Pasifik. Kondisi ini umumnya berdampak pada berkurangnya potensi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia," tulis BMKG, dikutip Sabtu (4/7)

Hasil pemantauan menunjukkan terdapat 493 titik atau sekitar 11 persen wilayah pengamatan yang mengalami HTH kategori panjang. Sementara itu, 84 titik atau sekitar 2 persen wilayah telah memasuki kategori HTH sangat panjang.

Selain itu, suhu udara maksimum pada periode 28 Juni hingga 1 Juli 2026 juga masih tergolong tinggi. Temperatur lebih dari 35 derajat Celsius tercatat di sejumlah daerah, di antaranya Lampung, Jawa Tengah, Sumatra Utara, dan Kalimantan Timur.

Meski musim kemarau semakin meluas, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, terutama Indonesia bagian utara dan kawasan sekitar ekuator.

Pada periode yang sama, curah hujan harian tertinggi tercatat di Kepulauan Riau sebesar 81 milimeter, disusul Kalimantan Barat 76 milimeter, Papua Tengah 57 milimeter, dan Sumatra Utara 54 milimeter.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah dinamika atmosfer, di antaranya aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif di sebagian Papua, Gelombang Kelvin di sebagian Sumatra dan Kalimantan, serta Gelombang Rossby Ekuatorial di sebagian Papua. Selain itu, labilitas atmosfer yang cukup kuat turut meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di wilayah-wilayah tersebut.

Menghadapi kondisi tersebut, BNPB mengimbau seluruh pemerintah daerah segera meningkatkan kesiapsiagaan, terutama dalam mengantisipasi kekeringan dan krisis air bersih.

Pemerintah daerah diminta segera memetakan kawasan yang berpotensi terdampak agar distribusi bantuan air bersih menggunakan armada tangki dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.

Sementara itu, masyarakat diimbau menggunakan air bersih secara bijak dengan memprioritaskan kebutuhan pokok, seperti memasak dan air minum. Warga juga diminta memeriksa instalasi pipa secara berkala untuk mencegah kebocoran yang dapat memperburuk ketersediaan air selama musim kemarau.

BNPB juga mengingatkan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan seiring kondisi cuaca yang semakin kering.

Masyarakat diminta tidak membuka lahan maupun membersihkan pekarangan dengan cara membakar. Selain itu, puntung rokok harus dipastikan benar-benar padam sebelum dibuang untuk mencegah munculnya titik api.

Apabila menemukan asap atau api, sekecil apa pun, masyarakat diimbau segera melaporkannya kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau Dinas Pemadam Kebakaran setempat agar penanganan dapat dilakukan sejak dini.

BNPB menegaskan bahwa dampak bencana dapat diminimalkan melalui kesiapsiagaan bersama antara pemerintah dan masyarakat.

"Kenali ancamannya, kurangi risikonya," demikian imbauan BNPB kepada masyarakat dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi selama musim kemarau.

KEYWORD :

El Nino Potensi Kekeringan Potensi Karhutla Badan Nasional Penanggulangan Bencana




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :