Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berdiri di Knesset pada hari Trump berpidato, di Yerusalem, 13 Oktober 2025. REUTERS
Tel Aviv, Jurnas.com - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, disebut-sebut bakal menjadi `korban` dari perjanjian Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pasalnya, orang nomor satu Tel Aviv selama ini dicitrakan sebagai sosok yang mampu menyetir AS dalam kaitannya dengan konflik melawan Teheran.
Dikutip dari Reuters pada Rabu (24/6), Netanyahu membangun identitas politiknya di atas pernyataan bahwa dia dapat menjaga AS dan Israel tetap berada dalam satu langkah strategis yang sama mengenai Iran.
Dengan memelihara dukungan dari Partai Republik, dia menampilkan dirinya sebagai satu-satunya pemimpin Israel yang mampu memengaruhi presiden-presiden AS berturut-turut, dan bersikeras bahwa hanya tekanan militer berkelanjutan yang dapat menahan Teheran.
Namun, sejumlah analis menilai pakta sementara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang yang diluncurkan oleh AS dan Israel pada Februari menunjukkan narasi tersebut kini telah berbalik.
Alih-alih membentuk kebijakan Iran melalui tangan Washington, Netanyahu sekarang terpaksa menerimanya, seiring Presiden AS Donald Trump mengejar penyelesaian yang semakin memperlakukan keberatan Israel sebagai batasan.
Di dalam negeri, perhitungannya sama kerasnya. Netanyahu semakin terpojok di antara seorang presiden AS yang berniat mengakhiri konflik dan basis domestik yang resisten terhadap konsesi, khususnya di Lebanon.
Penarikan pasukan berisiko memicu reaksi politik, sementara eskalasi berisiko memicu konfrontasi dengan Washington. Perang yang diharapkan Netanyahu dapat memperkuat warisannya sebagai pemimpin yang menghadapi Iran justru mungkin akan diingat sebagai konflik yang membongkar sumber utama kekuasaannya.
"Kesepakatan AS-Iran adalah pukulan telak bagi Netanyahu. Tidak hanya kalah dalam perang dengan Iran, dia juga kehilangan Trump sebagai seorang teman. Dia sekarang terisolasi tidak hanya di tingkat internasional, tetapi juga terkunci dalam perselisihan besar dengan Trump," ujar mantan penasihat Netanyahu, Aviv Bushinsky.
Perselisihan antara para pemimpin AS dan Israel, dikatakan meluas melampaui ikatan pribadi hingga ke perbedaan tujuan yang semakin meningkat, usai Trump berupaya melepaskan diri dari perang Timur Tengah lainnya, sementara Netanyahu memandang tekanan berkelanjutan terhadap Iran dan sekutunya, Hizbullah, sebagai hal penting bagi keamanan Israel.
Sabtu, 13/06/2026 06:46 WIB
Sabtu, 13/06/2026 06:26 WIB
Sabtu, 13/06/2026 05:40 WIB