Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Ali Ramadhan.
Jakarta, Jurnas.com - Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Ali Ramadhan resmi meluncurkan buku berjudul `Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Sang Arsitek Presisi Polri` di Jakarta, pada Rabu, 24 Juni 2026.
Buku ini menggambarkan perjalanan kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri serta langkahnya dalam menghadapi disrupsi demokrasi dan menjawab tantangan masa depan institusi Polri.
"Buku ini mengulas tentang perjalanan kepemimpinan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), sekaligus menawarkan kerangka analitis tentang peran institusi kepolisian dalam menghadapi disrupsi demokrasi di abad digital," ujar Ali Ramadhan di lokasi acara launching buku terkait Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo tersebut.
Acara peluncuran buku ini dihadiri oleh Boni Hargens, selaku analis politik dan penulis prolog buku tersebut serta Associate Profesor selaku Dosen Politik Unas Jakarta, Firdaus Syam sebagai penanggap.
Ali Ramadhan mengatakan buku ini terbagi ke dalam dua bagian besar yaitu, pertama (fondasi dan visi) yang menggambarkan perjalanan karir dan konsep transformasi Presisi atau Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan.
"Bagian kedua mengusung tema, `Disrupsi Demokrasi & Korps Bhayangkara Masa Depan` yang menganalisis tantangan terkini yang dihadapi Polri termasuk demonstrasi besar Agustus-September 2025 yang disertai dengan ulasan tentang Grand Strategy Polri 2025-2045," jelas Ali Ramadhan.
Buku setebal lebih dari 300 halaman ini disusun dalam lima bab utama, didahului prolog yang ditulis oleh analis politik Boni Hargens, Ph.D., dan diakhiri penutup bertajuk `Transformasi Polri Menuju Bhayangkara Masa Depan`. Melalui pendekatan naratif dan analitis, buku ini merekonstruksi jejak karir Listyo Sigit Prabowo dari penugasan pertamanya di Tangerang, perannya sebagai ajudan Presiden Joko Widodo, hingga pengangkatannya sebagai Kapolri pada Januari 2021.
Selain mengupas aspek biografis, buku ini juga membedah visi PRESISI (Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan) sebagai paradigma kerja Polri, serta menempatkannya dalam kerangka akademik disrupsi demokrasi. Hal ini merujuk pada pemikiran Clayton Christensen, Jürgen Habermas, dan Fareed Zakaria, untuk menjelaskan peran institusi kepolisian sebagai penyeimbang (shock absorber) di tengah tekanan polarisasi sosial, viralitas media sosial, dan ekspektasi publik yang terus meningkat.
Buku ini juga mengulas tentang Grand Strategy Polri 2025–2045, peta jalan transformasi kepolisian menuju `Excellent Institution` dan Polri 4.0 yang dirancang untuk merespons ancaman hybrida di masa depan.
Lebih lanjut, Ali Ramadhan lima pesan sekaligus dari buka ini. Pertama, bahwa kepemimpinan merupakan proses yang tidak tumbuh secara instan.
"Di buku ini, jejak karir Listyo Sigit Prabowo digambarkan sebagai hasil dari kerja lapangan bertahun-tahun, bukan jalur instan terlebih koneksi politik dan medan perkhidmatan Jend.Pol Listyo Sigit Prabowo di institusi kepolisian tidak hanya dicerminkan melalui dedikasi semata, tetapi juga prestasi dan visi yang diartikulasikan secara kongkrit," ungkap Ali Ramadhan.
Kedua, kata Ali Ramadhan, konsepsi atau visi PRESISI merupakan paradigma Polri untuk merespon ragam tantangan institusional seperti, viralitas atau fenomena post truth, serta tuntutan due process of law di era digital.
Ketiga, Polri sebagai shock absorber demokrasi yang dimaknai bahwa sejatinya, kepolisian bukan penanggung tunggal efek dari disrupsi demokrasi. Sejatinya, menjaga demokrasi adalah tanggung jawab kolektif bangsa, dan bukan bukan beban tunggal institusi kepolisian.
Keempat, buku ini tidak hendak memuja, juga tidak menutup ruang kritik. Ruang objektivikasi akan terlihat ketika Listyo mengambil peran dalam membawa institusi Bhayangkara melalui tantangan disrupsi demokrasi.
"Peran yang tidak mudah, ketika kekuasaan diuji oleh transparansi, ketika otoritas ditantang oleh norma demokrasi. Listyo telah membuktikan bahwa memimpin di era disrupsi bukan tentang menunjukkan otot kekuasaan, melainkan tentang ketajaman visi dan keikhlasan untuk berbenah di tengah badai. Ia tidak menyangkal kesalahan, tidak pula berlindung di balik birokrasi. Ia memilih jalan yang lebih sulit, mengakui, memperbaiki, dan terus melangkah," terang Ali.
Kelima, Ali Ramadhan menegaskan melalui buku ini bahwa perjalanan reformasi Polri masih panjang. Dia mengatakan tantangan ke depan tidak akan berkurang, bahkan semakin kompleks. Hanya saja, Jenderal Listyo Sigit Prabowo sudah meletakkan fondasi yang kuat, yakni sebuah paradigma kepemimpinan yang tidak mengandalkan kekuatan otot, melainkan ketepatan langkah.
"Sebuah institusi yang mulai membuka diri terhadap kritik dan menjadikan transparansi sebagai kekuatan, bukan kelemahan. PRESISI adalah ikhtiar, sebuah perjalanan yang belum usai, dan mungkin tidak akan pernah usai. Karena memimpin di era demokrasi adalah komitmen tanpa akhir untuk terus berbenah, terus belajar, dan terus melayani," pungkas Ali Ramadhan.
Sabtu, 13/06/2026 06:46 WIB
Sabtu, 13/06/2026 06:26 WIB
Sabtu, 13/06/2026 05:40 WIB