https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Gelombang Air Hangat Raksasa Terdeteksi, El Nino Diprediksi Sangat Kuat

Agus Mughni | Rabu, 24/06/2026 07:13 WIB



Satelit NASA Deteksi Gelombang Air Hangat Raksasa di Pasifik, El Niño 2026 Diprediksi Sangat Kuat Foto : Satelit NASA Deteksi Gelombang Air Hangat Raksasa di Pasifik, El Niño 2026 Diprediksi Sangat Kuat. (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah satelit milik NASA menangkap keberadaan gelombang air hangat raksasa yang membentang ratusan kilometer di sepanjang khatulistiwa Samudra Pasifik.

Fenomena ini menjadi pertanda bahwa El Niño 2026 terus menguat dan berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah pengamatan modern.

Fenomena tersebut terekam oleh satelit Sentinel-6 Michael Freilich pada 8 Juni lalu. Satelit ini menunjukkan adanya anomali ketinggian muka laut yang signifikan di wilayah Pasifik tropis.

Baca juga :
WMO Keluarkan Peringatan, El Nino Terkuat Diprediksi Terjadi Tahun Ini

Dikutip dai Live Science, gelombang tersebut dikenal sebagai Gelombang Kelvin, yakni massa air hangat yang menyebabkan permukaan laut naik di atas kondisi normal.

Dalam citra satelit, wilayah berwarna merah menunjukkan permukaan laut lebih tinggi dari biasanya, sedangkan warna biru menandakan permukaan laut yang lebih rendah.

Baca juga :
El Nino Terkuat dalam Sejarah Berpotensi Terjadi, Ilmuwan Khawatirkan Ini

Menurut NASA, pemanasan laut yang dipicu El Niño menyebabkan air laut memuai dan membutuhkan ruang lebih besar. Akibatnya, ketinggian permukaan laut meningkat dan dapat dideteksi oleh instrumen satelit dengan tingkat akurasi sangat tinggi.

Di beberapa titik di sepanjang garis khatulistiwa, permukaan laut tercatat mencapai lebih dari 15 sentimeter di atas kondisi normal.

Baca juga :
Suhu Global Dekati Rekor Tertinggi hingga 2030

Satelit Sentinel-6 Michael Freilich, yang dikembangkan bersama oleh NASA, European Space Agency (ESA), dan dioperasikan oleh European Organisation for the Exploitation of Meteorological Satellites (EUMETSAT), mampu memantau perubahan ketinggian permukaan laut hingga hitungan milimeter setiap 10 hari.

Data tersebut melengkapi pengamatan suhu permukaan laut yang selama beberapa bulan terakhir menunjukkan pemanasan Samudra Pasifik berlangsung sangat cepat.

Gelombang Kelvin terbentuk ketika pola angin di Pasifik barat melemah atau bahkan berbalik arah, dari semula bertiup dari timur ke barat menjadi dari barat ke timur.

Kondisi tersebut memungkinkan akumulasi air hangat bergerak ke bagian timur Samudra Pasifik, sekaligus menghambat naiknya air laut dingin dari lapisan bawah.

Saat ini, gelombang air hangat tersebut telah mencapai pesisir barat Amerika Selatan.

Sebelumnya, NASA juga mendeteksi beberapa Gelombang Kelvin lain sepanjang tahun ini. Gelombang pertama muncul di sekitar Mikronesia pada Januari dan melemah pada Februari.

Gelombang berikutnya terdeteksi pada Maret dan meningkatkan permukaan laut di wilayah Peru pada pertengahan Mei.

Perubahan suhu dan ketinggian permukaan laut akibat El Niño berpotensi mengubah sirkulasi atmosfer global dan memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia.

Fenomena ini biasanya meningkatkan curah hujan di wilayah barat daya Amerika Serikat, Kolombia, Peru, dan Ekuador. Sebaliknya, kawasan Pasifik barat, termasuk sebagian Asia Tenggara, cenderung mengalami penurunan curah hujan dan risiko kekeringan lebih tinggi.

El Niño sebelumnya yang berlangsung dari Juni 2023 hingga April 2024 turut mendorong kenaikan suhu rata-rata global sehingga menjadikan 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat.

Tahun tersebut juga menjadi yang pertama melampaui ambang pemanasan global 1,5 derajat Celsius sebagaimana ditetapkan dalam Paris Agreement.

NASA menyebut kondisi di Pasifik barat pada awal Juni 2026 memiliki kemiripan dengan situasi yang terjadi pada 1997, ketika dunia mengalami salah satu El Niño terkuat sepanjang sejarah.

Peneliti permukaan laut di Laboratorium Propulsi Jet NASA, Severine Fournier, mengatakan El Niño tahun ini masih terus berkembang.

"Untuk saat ini, tampaknya fenomena ini akan menjadi El Niño yang besar, bahkan lebih kuat dibanding perkiraan kami pekan lalu. Namun, kami masih membutuhkan lebih banyak pengamatan untuk memastikan bagaimana perkembangannya," ujar Fournier.

Para ilmuwan kini terus memantau perkembangan El Niño karena fenomena tersebut berpotensi memicu berbagai dampak besar, mulai dari kekeringan, banjir, gagal panen, hingga peningkatan risiko bencana hidrometeorologi di berbagai belahan dunia. (*)

 
Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Satelit NASA Gelombang Air Hangat El Nino Gelombang Kelvin

Terpopuler

Senin, 22/06/2026 03:03 WIB
Gaya Hidup

30 Contoh Ucapan HUT Jakarta, Cocok untuk Postingan Medsos

Selasa, 23/06/2026 12:30 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Portugal vs Uzbekistan

Senin, 22/06/2026 12:42 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Argentina vs Austria

Selasa, 23/06/2026 14:06 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Inggris vs Ghana

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777