Panel surya sebagai penghasil listrik alternatif (Foto: Earth)
Kuala Lumpur, Jurnas.com - Konflik di Timur Tengah yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz, memicu lonjakan masif pada adopsi energi surya di kawasan Asia Tenggara (Asean).
Langkah ini diambil oleh masyarakat di berbagai negara kawasan demi mengamankan pasokan listrik mandiri, dan menekan biaya hidup akibat melonjaknya harga minyak dunia serta ancaman krisis energi.
Kenaikan permintaan ini memberikan dampak keuntungan yang sangat besar bagi China selaku produsen panel surya terbesar di dunia. Volume penjualan ke Asean pada Maret meroket hingga lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Peningkatan aktivitas ekspor tersebut juga dirasakan langsung oleh para pelaku industri lokal, seperti perusahaan GoSolar di Filipina yang mencatatkan kenaikan pesanan hingga lima kali lipat, serta SOLS Energy di Malaysia yang kini mampu melayani instalasi hingga 10 rumah per hari.
"Konsumen kini menginginkan sistem panel surya atap yang lebih besar, dan kami memasang lebih banyak sekarang, antara delapan hingga 10 rumah per hari dari sebelumnya lima hingga tujuh rumah," ujar Jaran Walia, Wakil CEO SOLS Energy yang berbasis di Kuala Lumpur.
Fenomena pergeseran tren energi ini juga direspons cepat oleh sejumlah pemerintah di Asia Tenggara melalui pelonggaran regulasi dan pemberian insentif khusus.
Pemerintah Kamboja, misalnya, telah resmi menghapus seluruh bea masuk impor untuk panel surya dan sistem penyimpanan energi, sementara otoritas Thailand sedang mematangkan aturan yang memungkinkan setiap rumah tangga untuk menjual kelebihan daya listrik dari panel surya mereka ke jaringan nasional.
Di Indonesia, pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk menghasilkan 100 gigawatt dari sektor energi surya dalam kurun waktu tiga tahun ke depan, meskipun masyarakat sejauh ini masih mengeluhkan rumitnya proses sinkronisasi instalasi mandiri dengan jaringan listrik lokal karena pembatasan izin yang hanya dibuka dua kali dalam setahun.
Kendati Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang, para pengamat menilai bahwa perilaku konsumen di Asia Tenggara telah berubah secara permanen demi menjaga ketahanan energi jangka panjang dari risiko geopolitik di masa mendatang.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Panel Surya Asia Tenggara Perang AS vs Iran





















