Ilustrasi sedang meminum kopi (Foto: Priscilla du Preez/Unsplash)
Jakarta, Jurnas.com - Kopi selama ini dikenal sebagai “penyelamat pagi” karena kandungan kafeinnya yang mampu meningkatkan energi dan fokus. Namun penelitian terbaru menunjukkan efek kopi ternyata jauh lebih kompleks.
Bukan hanya memengaruhi menkan rasa kantuk, konsumsi kopi juga berdampak langsung pada bakteri usus, sistem imun, tekanan darah, hingga fungsi otak.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications menemukan bahwa berhenti minum kopi selama dua minggu dapat mengubah kondisi biologis tubuh secara signifikan.
Dikutip dari Earth, studi tersebut dipimpin oleh John F. Cryan dari University College Cork dengan melibatkan 62 orang dewasa sehat. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok, yakni peminum kopi harian dan orang yang jarang mengonsumsi kopi.
Para peneliti kemudian meminta kelompok peminum kopi berhenti total selama 14 hari sebelum sebagian kembali mengonsumsi kopi berkafein dan sebagian lainnya mengonsumsi kopi tanpa kafein (decaf).
Salah satu perubahan paling jelas setelah dua minggu tanpa kopi adalah penurunan tekanan darah.
Peneliti juga menemukan kadar kafein dan senyawa terkait kopi dalam sampel tubuh turun drastis selama masa “puasa kopi” tersebut.
Selain itu, beberapa jenis bakteri usus yang sebelumnya berkembang karena konsumsi kopi ikut menghilang. Sebaliknya, molekul mikroba yang selama ini ditekan oleh kopi justru kembali meningkat.
Molekul ini diketahui berperan penting dalam menjaga lapisan usus dan membantu mengurangi peradangan.
Penelitian juga menemukan peminum kopi harian memiliki tingkat impulsivitas dan reaktivitas emosional lebih tinggi dibanding nonpeminum kopi.
Mereka juga mencatat performa memori yang lebih rendah pada awal penelitian. Namun setelah berhenti minum kopi selama dua minggu, kondisi tersebut mulai kembali mendekati normal.
Gejala seperti sakit kepala dan kantuk memang muncul di hari-hari awal penghentian kopi, tetapi perlahan mereda setelah beberapa hari.
Menariknya, saat peserta kembali minum kopi, kelompok yang mengonsumsi kopi tanpa kafein justru menunjukkan peningkatan memori verbal yang lebih baik dibanding kelompok kopi berkafein.
Para peneliti menemukan bahwa mikrobioma usus peminum kopi memiliki pola berbeda dibanding orang yang tidak minum kopi. Perbedaannya bukan pada jumlah total bakteri, melainkan jenis bakteri yang mendominasi usus.
Baik kopi berkafein maupun decaf ternyata sama-sama memicu perubahan besar pada mikroba usus. Artinya, efek kopi tidak hanya berasal dari kafein.
Menurut penelitian tersebut, kopi mengandung ratusan senyawa aktif lain seperti polifenol, asam organik, dan senyawa hasil pemanggangan biji kopi yang ikut memengaruhi metabolisme tubuh dan bakteri usus.
Pada awal penelitian, peminum kopi diketahui memiliki tanda peradangan tubuh yang lebih rendah dibanding nonpeminum kopi. Namun setelah dua minggu berhenti minum kopi, penanda inflamasi kembali meningkat.
Saat konsumsi kopi dimulai lagi, kopi berkafein membantu menurunkan kembali peradangan tersebut. Sementara kopi tanpa kafein justru menunjukkan efek berbeda dan sedikit meningkatkan penanda inflamasi.
Temuan ini menunjukkan kafein dan senyawa lain dalam kopi memiliki mekanisme biologis yang berbeda terhadap sistem imun tubuh.
Salah satu temuan yang paling menarik adalah perubahan kadar GABA, neurotransmitter utama yang membantu otak merasa tenang.
Kadar GABA ditemukan lebih rendah pada peminum kopi dibanding nonpeminum kopi.
Peneliti juga menemukan kadar indole-3-propionic acid, senyawa mikroba yang dikaitkan dengan fungsi kognitif yang lebih baik pada lansia, ikut menurun pada peminum kopi.
Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa kadar senyawa di usus tidak selalu mencerminkan kondisi langsung di otak.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa kopi bukan hanya minuman penambah energi, melainkan juga faktor yang memengaruhi hubungan antara usus dan otak atau gut-brain axis.
Baik kopi berkafein maupun decaf sama-sama memicu perubahan metabolik dan mikrobiologis yang cukup besar di dalam tubuh.
Para peneliti menyimpulkan bahwa konsumsi kopi berpotensi menjadi bagian dari strategi pola makan yang memengaruhi penekan stres, kejernihan mental, dan kesehatan kognitif jangka panjang.
Sabtu, 09/05/2026 09:36 WIB
Sabtu, 09/05/2026 06:16 WIB