Ilustrasi bermimpim saat terjaga, sadar saat tidur (Foto: Pexels/PNW Production)
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi terbaru mengungkap batas antara tidur dan terjaga ternyata tidak sejelas yang selama ini diyakini. Penelitian menunjukkan manusia dapat mengalami mimpi saat masih terjaga, sekaligus tetap berpikir “normal” meski sudah mulai tertidur.
Riset yang dipublikasikan di jurnal Cell Reports ini menyoroti fase transisi menuju tidur (sleep onset), yakni momen singkat ketika pikiran mulai bergeser dari kondisi sadar ke tidur.
Dikutip dari Earth, Delphine Oudiette, pemimpin tim Dream Team dari Paris Brain Institute menjelaskan penelitian ini menemukan bahwa kondisi mental manusia sebenarnya berada dalam spektrum, bukan dua keadaan terpisah.
“Menjadi terjaga tidak selalu berarti sepenuhnya sadar atau mampu berpikir rasional. Kini kita tahu ada sebuah kontinuitas antara kondisi terjaga dan tidur, dengan berbagai kondisi perantara seperti pikiran mengembara (mind-wandering) atau kosong (mind-blanking),” ujarnya.
Penelitian dipimpin oleh Nicolas Decat dengan melibatkan 92 partisipan. Mereka diminta menggambarkan isi pikiran tepat sebelum dibangunkan dari kondisi hampir tertidur.
Metode ini terinspirasi dari teknik tidur singkat Thomas Edison, yang konon memanfaatkan momen antara sadar dan tidur untuk menangkap ide kreatif.
Dalam studi ini, peserta dibangunkan menggunakan alarm atau ketika botol yang mereka pegang jatuh. Setelah itu mereka diminta menjelaskan apa yang ada di pikiran mereka dalam 10 detik terakhir.
Selain itu, para peserta juga diminta menilai pengalaman mental tersebut—apakah terasa aneh, spontan, mengalir, atau masih terasa sadar. Aktivitas otak mereka juga direkam menggunakan EEG.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa isi pikiran manusia tidak terbagi sederhana antara “pikiran sadar” dan “mimpi”. Peneliti justru menemukan empat kondisi mental berbeda: ingatan singkat yang muncul sekilas, pikiran yang masih terhubung dengan lingkungan sekitar, pengalaman aneh dan mirip mimpi, serta pikiran rasional dan terstruktur seperti membuat rencana.
Yang menarik, keempat kondisi tersebut dapat muncul baik saat seseorang masih terjaga, mulai tertidur, maupun sudah berada dalam tidur ringan.
“Ini merupakan temuan utama penelitian kami. Kondisi mental yang biasanya diasosiasikan dengan mimpi ternyata bisa muncul baik saat tidur maupun saat terjaga,” kata Decat.
Ia mencontohkan salah satu partisipan yang saat masih terjaga merasa melihat semut merayap di tubuhnya dengan latar teka-teki silang. Sebaliknya, ada peserta lain yang tetap memikirkan jadwal aktivitas esok hari meski sudah tertidur.
Tim peneliti juga menemukan pola aktivitas otak tertentu yang berkaitan dengan pengalaman mental aneh seperti mimpi.
Melalui analisis sinyal EEG, mereka menemukan bahwa kondisi tersebut ditandai oleh berkurangnya konektivitas jarak jauh antara area frontal dan area visual di otak.
“Penanda ini mungkin berkaitan dengan sensasi yang kita rasakan dalam kondisi tersebut, ketika logika rasional digantikan oleh sensasi hidup khas mimpi,” ujar Decat.
Temuan ini juga dinilai penting dalam memahami insomnia, terutama pada pasien yang merasa tidak tidur sama sekali meskipun pemeriksaan laboratorium menunjukkan mereka sebenarnya tertidur.
Menurut Oudiette, sistem penilaian tidur konvensional mungkin belum sepenuhnya menangkap pengalaman mental seseorang selama tidur.
“Studi ini menawarkan pendekatan baru melalui isi pikiran, yang mungkin lebih sesuai dengan apa yang benar-benar dialami pasien,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa sebagian penderita insomnia mungkin tetap berada dalam kondisi mental yang terasa sangat waspada meskipun tubuh mereka sudah tidur.
Studi ini menantang anggapan lama bahwa mimpi hanya terjadi saat tidur. Sebaliknya, pikiran manusia ternyata jauh lebih fleksibel, mampu melintasi batas antara sadar dan tidak sadar.
Dengan demikian, mimpi bukan sekadar bagian dari tidur, melainkan bagian dari cara kerja pikiran manusia itu sendiri.
Kamis, 07/05/2026 08:35 WIB
Sabtu, 25/04/2026 04:04 WIB
Kamis, 23/04/2026 06:30 WIB