https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Krisis Obat-obatan di Sudan Memburuk Akibat Perang AS vs Iran

Mutiul Alim | Kamis, 23/04/2026 16:14 WIB



Krisis kemanusiaan di Sudan, yang telah dihantam perang saudara selama tiga tahun, kini semakin diperparah oleh konflik di Timur Tengah. Ilustrasi krisis obat-obatan di Sudan (Foto: AP)

Qoz Nafisa, Jurnas.com - Krisis kemanusiaan di Sudan, yang telah dihantam perang saudara selama tiga tahun, kini semakin diperparah oleh konflik di Timur Tengah.

Penutupan jalur pelayaran vital akibat perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran memutus pasokan obat-obatan dan bantuan pangan ke wilayah-wilayah paling rentan di dunia, termasuk desa Qoz Nafisa di negara bagian Khartoum.

Abbas Awad (61), seorang warga yang menderita glaukoma, terpaksa menjarangkan konsumsi obatnya karena kelangkaan dan lonjakan harga yang drastis. Masalah ekonomi yang sebelumnya sudah sulit akibat perang domestik, kini kian terhimpit oleh situasi geopolitik global.

Baca juga :
Jepang dan Saudi Kerja Sama Jaga Keamanan Selat Hormuz

"Sekarang kami menghadapi masalah perang di Timur Tengah. Hal itu hanya membuat segalanya menjadi lebih buruk," ujar Awad dikutip dari Associated Press pada Kamis (23/4).

Lembaga bantuan melaporkan bahwa kebuntuan antara AS dan Iran yang menutup Selat Hormuz telah mengacaukan jalur distribusi dari pusat logistik strategis seperti Dubai.

Baca juga :
Pembersihan Ranjau di Selat Hormuz Butuh Waktu Enam Bulan

Menurut laporan PBB, terjadi kenaikan biaya pengiriman hingga 20 persen akibat lonjakan harga bahan bakar dan tarif asuransi, serta keterlambatan distribusi karena barang harus dialihkan melalui rute yang lebih jauh.

International Rescue Committee (IRC), yang mendukung klinik di Qoz Nafisa, mengungkapkan bahwa pasokan farmasi senilai US$130.000 sempat terdampar di Dubai selama berminggu-minggu.

Baca juga :
Gencatan Senjata Berlanjut, Iran Ragu Lanjutkan Perundingan

Pasokan medis seperti antibiotik dan obat pereda nyeri yang seharusnya diterbangkan langsung dari Uni Emirat Arab ke Port Sudan, terpaksa dikirim melalui jalur darat ke Oman sebelum akhirnya bisa diterbangkan keluar.

Di klinik Qoz Nafisa, dampaknya sangat terasa bagi sekitar 5.000 warga yang bergantung pada fasilitas tersebut. Dr. Amira Sidig selaku direktur medis menyebut pengiriman bantuan yang dijadwalkan pada Februari dan April belum kunjung tiba, yang menyebabkan kekosongan stok.

Selama beberapa hari pada bulan ini, klinik kehabisan obat malaria, padahal penyakit tersebut menjangkiti 50 persen pasien yang datang. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Sudan hanya mampu menutupi separuh dari total kebutuhan medis, yang segera habis dalam waktu singkat.

Meskipun Presiden AS Donald Trump telah memperpanjang gencatan senjata minggu ini, kelompok bantuan khawatir hal itu tidak akan membawa perubahan instan. Madiha Raza dari IRC menekankan bahwa hambatan dalam sistem logistik masih terjadi, dan setiap penundaan pengiriman makanan serta obat-obatan di Sudan memiliki konsekuensi yang mematikan.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

risis Kemanusiaan Sudan Perang AS vs Iran Blokade Selat Hormuz

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777