https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Apa yang Terjadi Pasca Serangan Umum 1 Maret?

Agus Mughni | Senin, 02/03/2026 12:16 WIB



Peristiwa ini menjadi titik balik yang mengguncang propaganda Belanda dan mengubah arah diplomasi internasional menuju pengakuan kedaulatan Indonesia Serangan Umum 1 Maret 1949 - Perisiwa sejarah 1 maret di Indonesia (Foto: Fokussatu)

Jakarta, Jurnas.com - Serangan Umum 1 Maret 1949 bukan sekadar operasi militer enam jam di Yogyakarta. Peristiwa ini menjadi titik balik yang mengguncang propaganda Belanda dan mengubah arah diplomasi internasional menuju pengakuan kedaulatan Indonesia.

Pada pukul 06.00 WIB, 1 Maret 1949, TNI dan rakyat bergerak serentak merebut Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia saat itu. Selama enam jam, kota berhasil dikuasai, membuktikan kepada dunia bahwa Republik belum hancur meski Belanda mengklaim sebaliknya setelah Agresi Militer II.

Menjelang siang, bala bantuan Belanda dari Magelang dan Semarang datang dengan satuan lapis baja. Pertempuran sengit pecah hingga pukul 12.00 WIB, sebelum pasukan Indonesia mundur secara taktis demi keselamatan rakyat dan kelangsungan perang gerilya.

Baca juga :
Hari Buku Nasional 17 Mei, Ini Sejarah dan Alasan Diperingati Setiap Tahun

Menurut catatan sejarah militer Kodam Diponegoro, pasukan KNIL yang dijuluki “Andjing NICA” tak segan menyerang warga sipil saat memasuki kampung. Banyak prajurit Indonesia terpaksa keluar kota melalui saluran air atau bersembunyi di rumah-rumah penduduk hingga malam hari.

Namun justru setelah pasukan ditarik mundur, dampak terbesar muncul di luar medan perang. Berita penguasaan Yogyakarta selama enam jam menyebar cepat lewat siaran radio internasional dan kantor berita asing, menggugurkan klaim Belanda bahwa Republik Indonesia telah musnah.

Baca juga :
Berbagai Cara Merayakan Peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei

Efek psikologisnya luar biasa. Moral rakyat dan TNI terangkat, sementara Belanda mulai terpojok dalam forum internasional, terutama di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang sebelumnya telah mengeluarkan Resolusi 63 dan Resolusi 67 menuntut penarikan pasukan Belanda serta pemulihan pemerintahan RI di Yogyakarta.

Tekanan tidak hanya datang dari PBB. Di Amerika Serikat, Senator Ralph Owen Brewster bahkan menggugat bantuan Marshall Plan kepada Belanda, menyamakan Agresi Militer II dengan serangan Pearl Harbor dan invasi Nazi ke Eropa.

Baca juga :
Perjanjian Roem-Royen Tanggal 7 Mei, Ini Sejarahnya

Di dalam negeri, dampak politiknya terasa pada Badan Permusyawaratan Federal (BFO), kumpulan negara-negara federal bentukan Belanda. Setelah mendengar kabar Serangan Umum, BFO menyadari bahwa perlawanan Republik masih hidup dan mendesak pemulangan Presiden Sukarno serta pimpinan RI ke Yogyakarta.

Upaya Letnan Gubernur Jenderal Belanda, Louis Beel, untuk menggelar Konferensi Meja Bundar versi Belanda tanpa keterlibatan RI pun menemui jalan buntu. Sukarno menolak hadir selama dirinya dan pemerintah RI masih terisolasi di Bangka dan belum dipulihkan ke ibu kota.

Penolakan itu diperkuat fakta lapangan bahwa TNI masih solid dan mampu melancarkan operasi terkoordinasi. Seperti dicatat Jenderal Abdul Haris Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan, diplomasi Indonesia saat itu berjalan seiring pertempuran, atau “diplomasi sambil bertempur.”

Serangan Umum 1 Maret 1949 pada akhirnya menjadi katalis percepatan perundingan internasional. Tekanan global yang meningkat membuat Belanda tak lagi leluasa mengulur waktu, hingga proses menuju Konferensi Meja Bundar resmi dan pengakuan kedaulatan pada akhir 1949 tak bisa dihindari.

Dengan demikian, apa yang terjadi pasca Serangan Umum 1 Maret jauh melampaui enam jam penguasaan kota. Ia menjadi pukulan psikologis, militer, dan politik sekaligus, yakni momen ketika dunia menyaksikan bahwa Republik Indonesia masih berdiri dan tak bisa dihapus dengan propaganda atau senjata. (*)

Sumber: Historia, Gramedia, dan berbagai sumber lainnya

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Serangan Umum 1 Maret Kedaulatan Indonesia Sejarah Indonesia

Terkini | Minggu, 02/08/2026 18:48 WIB

Gaya Hidup

Fenomena Langka 12 Agustus 2026, Ada Gerhana Matahari hingga Hujan Meteor

News

BGN: TEP 2026 Jadi Mitra Strategis Sukseskan Program MBG di Wilayah 3T

News

Kemenkop Dorong TEP 2026 Jadi Agen Perubahan Koperasi Kawasan Transmigrasi

News

Komdigi: Indonesia dan India Buka Babak Baru Kemitraan Digital

Humanika

Kumpulan Doa Memohon Jodoh Terbaik dalam Islam Lengkap dengan Artinya

News

Kemkomdigi Imbau Masyarakat Makin Cermat Periksa Konten di Ruang Digital

Gaya Hidup

Studi Ungkap Kurangi Hoaks di Medsos Tak Otomatis Ubah Keyakinan Pengguna

Gaya Hidup

Ini 6 Aktivitas Quality Time Ayah dan Anak yang Bikin Makin Dekat

Gaya Hidup

Makanan Dihinggapi Lalat, Apakah Masih Aman Dimakan?

Gaya Hidup

Begini Cara Membuat Email Profesional untuk Kerja dan Bisnis

News

Menteri LH Ajak Walhi Galakkan Tobat Ekologis Demi Keberlanjutan Ekonomi

News

69.500 Migran Tinggalkan Ceuta, Spanyol Perketat Perbatasan dengan Maroko

News

Lawan Konten Menyesatkan, Content Creator Dibekali Ilmu Jurnalistik

News

Pesawat Wisata Kecil Jatuh dan Terbakar, 13 Orang Tewas

News

Pameran Kampus Taiwan, Belasan Ribu Pelajar RI Berburu Beasiswa

Gaya Hidup

Hampir 400 Tahun Setelah Karam, Kapal Batavia Masih Menyimpan Kisah Baru

Humanika

Bolehkah Mengadakan Doa Syukuran untuk Rumah Baru?

News

BNPB Gencarkan Operasi Modifikasi Cuaca Siang-Malam Atasi Karhutla Kalteng

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777