Penelitian ungkap rahasia Kapal Batavia, material bangunan Jakarta diangkut dari dua wilayah Jerman (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Penelitian terbaru mengungkap fakta mengejutkan dari bangkai kapal Batavia, kapal dagang milik VOC yang karam di lepas pantai Australia Barat pada 1629. Batu-batu bangunan yang selama hampir 400 tahun diyakini berasal dari satu lokasi ternyata dipasok dari dua kawasan tambang berbeda di Jerman.
Temuan dari hasil riset yang dipimpin Curtin University, Australia ini membuka gambaran baru tentang betapa maju dan terorganisasinya rantai pasok internasional pada abad ke-17, jauh sebelum era logistik modern.
Dikutip dari Earth, Batavia merupakan kapal utama VOC sepanjang 56 meter yang sedang menjalani pelayaran perdana menuju Batavia, kini Jakarta.
Kapal itu mengangkut 341 orang serta ratusan balok batu pasir yang telah dipahat di Eropa untuk membangun portiko atau gerbang megah kantor pusat VOC di Batavia.
Namun kapal itu kandas di Morning Reef, Kepulauan Houtman Abrolhos, Australia Barat, pada 1629. Selain dikenal karena tragedi pemberontakan dan pembantaian para penyintas, bangkai Batavia juga menyimpan salah satu koleksi arkeologi maritim paling penting di dunia.
Selama puluhan tahun, para peneliti menganggap seluruh batu bangunan tersebut berasal dari tambang yang sama karena memiliki warna, tekstur, dan karakter fisik yang hampir identik. Penelitian terbaru justru membuktikan sebaliknya.
Tim ilmuwan menggunakan analisis mineral zirkon, yaitu kristal mikroskopis yang mampu bertahan terhadap tekanan, panas, bahkan ratusan tahun terendam air laut.
Melalui teknik penanggalan uranium-timbal pada butiran zirkon, para peneliti dapat mengidentifikasi "sidik jari geologi" setiap batu.
"Hasil penelitian menunjukkan batu-batu itu berasal dari setidaknya dua kawasan tambang berbeda, kemudian dikumpulkan dalam satu pengiriman sebelum dikirim ribuan kilometer menuju Asia dalam sistem logistik yang sangat terorganisasi lebih dari 400 tahun lalu," kata peneliti utama, Dr. Anthony Clarke.
Dua balok batu yang diteliti, masing-masing diberi kode BAT1145 dan BAT1166A, ternyata berasal dari tambang berbeda.
Satu batu berasal dari kawasan Obernkirchen, sementara batu lainnya berasal dari Bentheim, yang berjarak sekitar 140 kilometer dari lokasi pertama.
Padahal keduanya dipersiapkan untuk menjadi bagian dari bangunan yang sama di Batavia.
Temuan tersebut menunjukkan VOC tidak sekadar mengambil material dari lokasi terdekat. Perusahaan dagang terbesar pada masanya itu diduga telah membangun jaringan distribusi yang menghubungkan berbagai tambang, jalur sungai, pelabuhan, hingga pelayaran antarbenua.
Para peneliti memperkirakan seluruh batu dikumpulkan lebih dulu di Amsterdam, yang saat itu menjadi pusat galangan kapal dan logistik VOC, sebelum diberangkatkan menuju Asia.
Meski demikian, mereka menegaskan belum ada dokumen sejarah yang secara langsung menyebut Amsterdam sebagai titik konsolidasi. Kesimpulan tersebut didasarkan pada analisis jalur perdagangan dan bukti geologi.
Penelitian ini juga mengungkap pentingnya mineral zirkon dalam dunia arkeologi.
Berbeda dengan material penyusun batu pasir yang mudah mengalami pelapukan akibat air laut, zirkon tetap bertahan sehingga mampu menyimpan informasi asal-usul batuan selama ratusan juta tahun.
Dengan teknologi tersebut, para arkeolog kini memiliki cara baru untuk melacak sumber material bangunan bersejarah, bahkan setelah ratusan tahun berada di dasar laut.
Kepala Warisan Maritim Western Australian Museum, Dr. Corioli Souter, mengatakan Batavia masih terus menyimpan banyak cerita yang belum terungkap.
"Hampir 400 tahun setelah karam, Batavia masih terus mengungkap kisah-kisah baru," ujarnya.
Ke depan, tim peneliti akan menganalisis lebih banyak batu dari bangkai Batavia maupun kapal-kapal karam lainnya. Mereka berharap teknik serupa dapat memetakan jalur perdagangan global pada masa lalu secara lebih rinci sekaligus mengungkap asal-usul material bangunan yang selama ini masih menjadi misteri.
Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Journal of Archaeological Science: Reports.
Sumber: Earth
Minggu, 02/08/2026 11:55 WIB
Minggu, 02/08/2026 11:45 WIB
Minggu, 26/07/2026 10:05 WIB