Ilustrasi hoaks
Jakarta, Jurnas.com - Upaya mengurangi penyebaran hoaks atau informasi menyesatkan di media sosial ternyata belum tentu mampu mengubah keyakinan penggunanya.
Temuan ini terungkap dalam penelitian besar yang melibatkan akademisi dan peneliti Meta terhadap ribuan pengguna Facebook dan Instagram selama Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) 2020.
Studi tersebut menunjukkan bahwa meskipun paparan konten dari sumber yang tidak tepercaya berhasil dikurangi secara signifikan, pandangan politik, kepercayaan terhadap informasi palsu, hingga sikap terhadap media arus utama hampir tidak mengalami perubahan.
Dikutip dari Earth, hasil tersebut menantang anggapan bahwa membatasi penyebaran hoaks di media sosial merupakan solusi cepat untuk mengubah persepsi publik.
Penelitian melibatkan 15.928 pengguna dewasa Facebook dan Instagram yang secara sukarela mengikuti eksperimen selama tiga bulan. Tim peneliti mengurangi kemunculan konten dari akun atau sumber yang dikenal berulang kali menyebarkan informasi menyesatkan, kemudian mengamati apakah perubahan paparan itu memengaruhi cara berpikir para peserta.
Hasilnya, paparan konten dari sumber yang tidak tepercaya turun sekitar 70 persen.
Di Facebook, proporsi konten tersebut berkurang dari 1,8 persen menjadi 0,5 persen dari total unggahan yang muncul di linimasa pengguna. Sementara di Instagram, angkanya turun dari 2,5 persen menjadi 0,8 persen.
Namun, setelah dilakukan survei lanjutan, hampir seluruh indikator menunjukkan hasil yang nyaris tidak berubah.
Para peneliti mengevaluasi 20 ukuran utama, termasuk kepercayaan terhadap klaim yang salah, tingkat kepercayaan kepada media arus utama, sikap terhadap kelompok politik yang berbeda, hingga pandangan mengenai hasil Pemilu AS 2020.
Dari seluruh indikator tersebut, 17 menunjukkan perubahan yang sangat kecil, bahkan tidak cukup besar untuk dianggap memiliki dampak yang berarti.
"Intervensi ini berhasil mengurangi paparan informasi dari sumber yang tidak tepercaya. Namun perubahan sikap yang muncul jauh lebih kecil dibandingkan perkiraan banyak orang," ujar peneliti utama Olivier Bergeron-Boutin dari University of California, Berkeley.
Temuan menarik lainnya adalah sebagian besar pengguna media sosial ternyata jarang melihat konten dari sumber penyebar hoaks.
Bagi separuh pengguna Facebook, konten semacam itu hanya mencakup 1,1 persen atau kurang dari seluruh unggahan yang mereka lihat. Di Instagram, angkanya bahkan hanya sekitar 0,1 persen.
Sebaliknya, paparan hoaks terkonsentrasi pada kelompok pengguna tertentu. Sekitar 23 persen pengguna Facebook dan 11 persen pengguna Instagram menyumbang sekitar 80 persen dari seluruh paparan konten yang berasal dari sumber tidak tepercaya.
Menurut Profesor Ilmu Pemerintahan Dartmouth College, Brendan Nyhan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyebaran misinformasi jauh lebih terkonsentrasi daripada yang selama ini diperkirakan.
"Paparan terhadap konten dari sumber yang tidak tepercaya di media sosial lebih sedikit dan lebih terkonsentrasi dibandingkan anggapan banyak orang," katanya.
Peneliti rumor dan teori konspirasi dari University of California, Berkeley, Tim Tangherlini, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menilai hasil tersebut sejalan dengan konsep echo chamber, yaitu kelompok pengguna yang saling memperkuat keyakinan yang sama.
Menurutnya, informasi tidak menyebar secara merata kepada seluruh pengguna, melainkan mengalir di dalam jaringan sosial yang memang sudah cenderung menerima dan menyebarkan narasi serupa.
"Intervensi platform memang mengubah informasi yang masuk ke jaringan, tetapi tidak mengubah jaringan sosial maupun keyakinan yang telah terbentuk di dalamnya," ujarnya.
Ia mengibaratkan perubahan keyakinan seperti membelokkan kapal tanker raksasa. Perubahan kecil memang bisa menggeser arah, tetapi memerlukan waktu lama sebelum dampaknya benar-benar terlihat.
Meski demikian, para peneliti menegaskan hasil studi ini bukan berarti hoaks tidak berbahaya.
Bergeron-Boutin mengingatkan tidak ada solusi sederhana untuk mengatasi misinformasi maupun polarisasi politik.
"Jangan menafsirkan hasil ini bahwa misinformasi bukan masalah besar. Tidak ada solusi instan. Siapa pun yang menawarkan penyelesaian sederhana terhadap misinformasi atau polarisasi politik sebaiknya disikapi dengan skeptis," ujarnya.
Peneliti juga mengakui studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Eksperimen hanya berlangsung selama tiga bulan dan dilakukan pada masa Pemilu AS 2020, sehingga belum dapat menggambarkan dampak jangka panjang.
Selain itu, kondisi platform media sosial saat ini sudah berbeda. Pada Januari 2025, Meta menghentikan program pemeriksaan fakta (fact-checking) di Amerika Serikat, sehingga mekanisme yang digunakan dalam penelitian tersebut tidak lagi tersedia.
Karena itu, para peneliti menilai temuan ini belum tentu mencerminkan kondisi media sosial saat ini. Meski demikian, penelitian tersebut memberikan gambaran bahwa mengatasi misinformasi membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar mengurangi jumlah konten hoaks yang muncul di linimasa pengguna.
Pendekatan yang dimaksud lebih luas tersebut di antaranya termasuk memperkuat literasi digital, membangun kepercayaan terhadap sumber informasi yang kredibel, serta memahami bagaimana komunitas dan jejaring sosial membentuk cara seseorang menerima maupun mempertahankan suatu keyakinan. (*)
Studi tersebut telah dipublikasikan di jurnal Science Advances,
Sumber: Earth
Minggu, 02/08/2026 14:56 WIB
Minggu, 02/08/2026 11:55 WIB
Minggu, 02/08/2026 11:45 WIB
Minggu, 26/07/2026 10:05 WIB