https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Studi Ungkap Kurangi Hoaks di Medsos Tak Otomatis Ubah Keyakinan Pengguna

Agus Mughni | Minggu, 02/08/2026 14:31 WIB



Upaya mengurangi penyebaran hoaks atau informasi menyesatkan di media sosial ternyata belum tentu mampu mengubah keyakinan penggunanya Ilustrasi hoaks

Jakarta, Jurnas.com - Upaya mengurangi penyebaran hoaks atau informasi menyesatkan di media sosial ternyata belum tentu mampu mengubah keyakinan penggunanya.

Temuan ini terungkap dalam penelitian besar yang melibatkan akademisi dan peneliti Meta terhadap ribuan pengguna Facebook dan Instagram selama Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) 2020.

Studi tersebut menunjukkan bahwa meskipun paparan konten dari sumber yang tidak tepercaya berhasil dikurangi secara signifikan, pandangan politik, kepercayaan terhadap informasi palsu, hingga sikap terhadap media arus utama hampir tidak mengalami perubahan.

Baca juga :
Studi: Scrolling dan Bertukar Pesan di Medsos Perburuk Mental Remaja

Dikutip dari Earth, hasil tersebut menantang anggapan bahwa membatasi penyebaran hoaks di media sosial merupakan solusi cepat untuk mengubah persepsi publik.

Penelitian melibatkan 15.928 pengguna dewasa Facebook dan Instagram yang secara sukarela mengikuti eksperimen selama tiga bulan. Tim peneliti mengurangi kemunculan konten dari akun atau sumber yang dikenal berulang kali menyebarkan informasi menyesatkan, kemudian mengamati apakah perubahan paparan itu memengaruhi cara berpikir para peserta.

Baca juga :
10 Ucapan Hari Kebaya Nasional, Cocok untuk Postingan Medsos

Hasilnya, paparan konten dari sumber yang tidak tepercaya turun sekitar 70 persen.

Di Facebook, proporsi konten tersebut berkurang dari 1,8 persen menjadi 0,5 persen dari total unggahan yang muncul di linimasa pengguna. Sementara di Instagram, angkanya turun dari 2,5 persen menjadi 0,8 persen.

Baca juga :
Larangan Medsos untuk Remaja Bisa Jadi Bumerang, Ini Temuan Studinya

Namun, setelah dilakukan survei lanjutan, hampir seluruh indikator menunjukkan hasil yang nyaris tidak berubah.

Para peneliti mengevaluasi 20 ukuran utama, termasuk kepercayaan terhadap klaim yang salah, tingkat kepercayaan kepada media arus utama, sikap terhadap kelompok politik yang berbeda, hingga pandangan mengenai hasil Pemilu AS 2020.

Dari seluruh indikator tersebut, 17 menunjukkan perubahan yang sangat kecil, bahkan tidak cukup besar untuk dianggap memiliki dampak yang berarti.

"Intervensi ini berhasil mengurangi paparan informasi dari sumber yang tidak tepercaya. Namun perubahan sikap yang muncul jauh lebih kecil dibandingkan perkiraan banyak orang," ujar peneliti utama Olivier Bergeron-Boutin dari University of California, Berkeley.

Temuan menarik lainnya adalah sebagian besar pengguna media sosial ternyata jarang melihat konten dari sumber penyebar hoaks.

Bagi separuh pengguna Facebook, konten semacam itu hanya mencakup 1,1 persen atau kurang dari seluruh unggahan yang mereka lihat. Di Instagram, angkanya bahkan hanya sekitar 0,1 persen.

Sebaliknya, paparan hoaks terkonsentrasi pada kelompok pengguna tertentu. Sekitar 23 persen pengguna Facebook dan 11 persen pengguna Instagram menyumbang sekitar 80 persen dari seluruh paparan konten yang berasal dari sumber tidak tepercaya.

Menurut Profesor Ilmu Pemerintahan Dartmouth College, Brendan Nyhan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyebaran misinformasi jauh lebih terkonsentrasi daripada yang selama ini diperkirakan.

"Paparan terhadap konten dari sumber yang tidak tepercaya di media sosial lebih sedikit dan lebih terkonsentrasi dibandingkan anggapan banyak orang," katanya.

Peneliti rumor dan teori konspirasi dari University of California, Berkeley, Tim Tangherlini, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menilai hasil tersebut sejalan dengan konsep echo chamber, yaitu kelompok pengguna yang saling memperkuat keyakinan yang sama.

Menurutnya, informasi tidak menyebar secara merata kepada seluruh pengguna, melainkan mengalir di dalam jaringan sosial yang memang sudah cenderung menerima dan menyebarkan narasi serupa.

"Intervensi platform memang mengubah informasi yang masuk ke jaringan, tetapi tidak mengubah jaringan sosial maupun keyakinan yang telah terbentuk di dalamnya," ujarnya.

Ia mengibaratkan perubahan keyakinan seperti membelokkan kapal tanker raksasa. Perubahan kecil memang bisa menggeser arah, tetapi memerlukan waktu lama sebelum dampaknya benar-benar terlihat.

Meski demikian, para peneliti menegaskan hasil studi ini bukan berarti hoaks tidak berbahaya.

Bergeron-Boutin mengingatkan tidak ada solusi sederhana untuk mengatasi misinformasi maupun polarisasi politik.

"Jangan menafsirkan hasil ini bahwa misinformasi bukan masalah besar. Tidak ada solusi instan. Siapa pun yang menawarkan penyelesaian sederhana terhadap misinformasi atau polarisasi politik sebaiknya disikapi dengan skeptis," ujarnya.

Peneliti juga mengakui studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Eksperimen hanya berlangsung selama tiga bulan dan dilakukan pada masa Pemilu AS 2020, sehingga belum dapat menggambarkan dampak jangka panjang.

Selain itu, kondisi platform media sosial saat ini sudah berbeda. Pada Januari 2025, Meta menghentikan program pemeriksaan fakta (fact-checking) di Amerika Serikat, sehingga mekanisme yang digunakan dalam penelitian tersebut tidak lagi tersedia.

Karena itu, para peneliti menilai temuan ini belum tentu mencerminkan kondisi media sosial saat ini. Meski demikian, penelitian tersebut memberikan gambaran bahwa mengatasi misinformasi membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar mengurangi jumlah konten hoaks yang muncul di linimasa pengguna.

Pendekatan yang dimaksud lebih luas tersebut di antaranya termasuk memperkuat literasi digital, membangun kepercayaan terhadap sumber informasi yang kredibel, serta memahami bagaimana komunitas dan jejaring sosial membentuk cara seseorang menerima maupun mempertahankan suatu keyakinan. (*)

Studi tersebut telah dipublikasikan di jurnal Science Advances,

Sumber: Earth

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Penyebaran Hoaks Media Sosial Pengguna Medsos

Terkini | Minggu, 02/08/2026 15:35 WIB

Humanika

Kumpulan Doa Memohon Jodoh Terbaik dalam Islam Lengkap dengan Artinya

News

Kemkomdigi Imbau Masyarakat Makin Cermat Periksa Konten di Ruang Digital

Gaya Hidup

Studi Ungkap Kurangi Hoaks di Medsos Tak Otomatis Ubah Keyakinan Pengguna

Gaya Hidup

Ini 6 Aktivitas Quality Time Ayah dan Anak yang Bikin Makin Dekat

Gaya Hidup

Makanan Dihinggapi Lalat, Apakah Masih Aman Dimakan?

Gaya Hidup

Begini Cara Membuat Email Profesional untuk Kerja dan Bisnis

News

Menteri LH Ajak Walhi Galakkan Tobat Ekologis Demi Keberlanjutan Ekonomi

News

69.500 Migran Tinggalkan Ceuta, Spanyol Perketat Perbatasan dengan Maroko

News

Lawan Konten Menyesatkan, Content Creator Dibekali Ilmu Jurnalistik

News

Pesawat Wisata Kecil Jatuh dan Terbakar, 13 Orang Tewas

News

Pameran Kampus Taiwan, Belasan Ribu Pelajar RI Berburu Beasiswa

Gaya Hidup

Hampir 400 Tahun Setelah Karam, Kapal Batavia Masih Menyimpan Kisah Baru

Humanika

Bolehkah Mengadakan Doa Syukuran untuk Rumah Baru?

News

BNPB Gencarkan Operasi Modifikasi Cuaca Siang-Malam Atasi Karhutla Kalteng

Olahraga

Muluskan Transfer Guimaraes, Arsenal Sepakat Lepas Norgaard ke Everton

Humanika

Bacaan Doa Tawasul untuk Orang yang Sudah Wafat

News

Harga Bawang Merah Tembus Rp40.450 per Kg, Telur Ayam Rp29.650

Olahraga

De Zerbi Akui Masa Depan Richarlison di Spurs Serba Tak Pasti

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777