Gambar lalat (Foto: Pexels/Thierry Fillieul)
Jakarta, Jurnas.com - Sering kali kita dihadapkan pada dilema ketika makanan favorit yang baru saja disajikan di atas meja mendadak dihinggapi oleh seekor lalat.
Sebagian orang memilih untuk sekadar mengibasnya lalu melanjutkan makan, sementara yang lain langsung membuang makanan tersebut karena merasa jijik.
Secara medis, kekhawatiran terhadap makanan yang dihinggapi lalat bukanlah hal yang berlebihan.
Lalat merupakan salah satu vektor pembawa mikroorganisme yang sangat efisien dalam memindahkan kuman penyakit dari lingkungan kotor langsung ke piring makan kita.
Sebelum mendarat di atas makanan, lalat kemungkinan besar baru saja hinggap di tempat penampungan sampah, bangkai, bangkai hewan, atau saluran air limbah.
Bulu-bulu halus yang menyelimuti seluruh tubuh dan kaki lalat sangat mudah menangkap berbagai jenis bakteri, virus, serta parasit. Hal yang membuat kontaminasi semakin berisiko adalah mekanisme makan lalat itu sendiri.
Karena tidak memiliki gigi untuk mengunyah makanan padat, lalat akan memuntahkan cairan enzim pencernaan dari tubuhnya untuk melunakkan permukaan makanan sebelum dihisap kembali.
Dalam proses tersebut, terjadi transfer bakteri berbahaya seperti Salmonella, Escherichia coli, dan Shigella yang berpotensi memicu gangguan pencernaan seperti tifus, diare, hingga disentri.
Keputusan apakah makanan tersebut masih boleh dikonsumsi atau tidak sebenarnya sangat bergantung pada durasi atau berapa lama lalat tersebut mendarat.
Dikutip dari berbagai sumber, jika lalat hanya hinggap sekilas dalam hitungan satu atau dua detik lalu langsung diusir, jumlah kuman yang berpindah ke makanan biasanya relatif sedikit.
Bagi orang dewasa yang memiliki sistem kekebalan tubuh kuat serta asam lambung yang berfungsi baik, kontaminasi dalam jumlah sangat kecil ini umumnya masih dapat ditoleransi oleh tubuh tanpa menimbulkan masalah kesehatan yang serius.
Pada makanan bertekstur padat seperti roti atau buah, Anda cukup memotong atau membuang bagian permukaan yang sempat tersentuh lalat.
Namun, jika lalat telah hinggap dalam waktu yang cukup lama atau dalam jumlah yang banyak, risiko kontaminasi menjadi jauh lebih tinggi.
Dalam waktu beberapa detik saja, lalat sudah sempat meludahkan enzim pencernaannya dan meninggalkan ribuan sel bakteri aktif di atas makanan.
Konsumsi makanan yang telah tercemar parah ini sangat tidak direkomendasikan, terutama bagi kelompok yang memiliki daya tahan tubuh rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
Demi menjaga kesehatan keluarga dan menghemat makanan, langkah terbaik yang bisa dilakukan adalah melakukan tindakan pencegahan secara konsisten, seperti selalu menutup hidangan menggunakan tudung saji, tidak menumpuk sampah organik di dalam dapur, serta menjaga kebersihan area meja makan secara berkala.
Minggu, 02/08/2026 11:55 WIB
Minggu, 02/08/2026 11:45 WIB
Minggu, 26/07/2026 10:05 WIB