https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Pertanian Lahan Kering, UGM Tawarkan Teknik Irigasi Geomembran

Mutiul Alim | Kamis, 25/12/2025 16:51 WIB



Berbeda dari cara konvensional, tim peneliti Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) menawarkan sistem irigasi tanpa perkolasi di lahan kering. Sistem irigasi menggunakan teknik geomembran di Gunungkidul, Yogyakarta (Foto: Ist/UGM)

Jakarta, Jurnas.com - Sistem irigasi menjadi bagian penting dalam pertanian. Berbeda dari cara konvensional, tim peneliti Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) menawarkan sistem irigasi tanpa perkolasi sebagai solusi pertanian di lahan kering.

Sistem irigasi ini dirancang dengan memasang lembaran geomembran di bawah zona perakaran tanaman padi untuk meminimalkan kehilangan air di petak sawah akibat perkolasi ke dalam tanah, sehingga pemanfaatan air menjadi sangat efisien.

Sebelum dilakukan penanaman, lahan sawah digali dan dilapisi geomembran, kemudian ditutup kembali dengan tanah. Metode ini terbukti efektif menahan air agar tidak meresap ke bawah.

Baca juga :
Pakar UGM Imbau Masyarakat Tak Tempati Area Bekas Bencana

Ketua Tim Peneliti Prof. Fatchan Nurrochmad, beserta tim peneliti Dr. Rachmad Jayadi, dan Endita Prima Ari Pratiwi, menjelaskan bahwa sistem irigasi ini bekerja dengan mengendalikan pergerakan air di lahan sawah.

Air tidak dibiarkan meresap ke bawah tanah atau perkolasi, tetapi diarahkan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tanaman melalui proses evapotranspirasi, yang mencakup penguapan atau evaporasi dan pengeluaran air melalui stomata daun atau transpirasi.

Baca juga :
Bukan Lucu, Paksa Gajah Bersihkan Sisa Banjir Langgar Hak Hewan!

"Sawah tanpa perkolasi ini dirancang agar air dan nutrisi tidak hilang ke bawah tanah tetapi dapat dimanfaatkan oleh padi atau tanaman lain secara optimum artinya kebutuhan air dan nutrisi dapat memenuhi kriteria tepat waktu, tepat jumlah dan tepat kualitas," kata Fatchan dikutip dari laman resmi UGM pada Kamis (25/12).

Fatchan menambahkan bahwa kebutuhan konsumtif tanaman padi berada pada kisaran 7-8 milimeter air per hari. Pada sawah konvensional di wilayah dengan tanah lempung hitam seperti Gunungkidul, sebagian besar air yang diberikan langsung meresap ke bawah permukaan tanah saat musim kemarau, sehingga menyebabkan kekeringan di zona perakaran dan air tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman.

Baca juga :
Kisah Inspiratif Amanda Jadi Magister Termuda UGM, Usianya Baru 22 Tahun

"Tanah di sini sebenarnya sangat subur, tetapi saat kering dan diberi air, maka air tersebut akan langsung meresap ke bawah. Inilah yang membuat petani kesulitan bercocok tanam saat musim kemarau," ujar dia.

Berdasarkan penelitian dari FT UGM dan data resmi BPS Gunungkidul, produktivitas sawah tradisional rata-rata hanya sekitar 0,5 kilogram per meter persegi.

Sementara itu, sawah tanpa perkolasi mampu menghasilkan 1 hingga 1,1 kilogram per meter persegi, atau lebih dari dua kali lipat.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Teknik Geomembran Sistem Irigasi Universitas Gadjah Mada

Terpopuler

Selasa, 07/07/2026 06:06 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Inggris vs Norwegia

Selasa, 07/07/2026 04:04 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Prancis vs Maroko

Selasa, 07/07/2026 11:44 WIB
Olahraga

Persib Resmi Lepas Andrew Jung dengan Harga Fantastis

Rabu, 08/07/2026 02:02 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Spanyol vs Belgia

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777