https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Kebahagiaan Bisa Turunkan Risiko Penyakit Kronis, Asalkan...

Agus Mughni | Rabu, 22/10/2025 23:25 WIB



Sebuah studi baru menemukan bahwa kebahagiaan dapat menjadi aset kesehatan masyarakat, asalkan suatu negara atau komunitas lampaui skor 2,7 indeks Life Ladder Ilustrasi sedang bahagia (FOTO: GETTY IMAGE)

Jakata, Jurnas.com - Penyakit kronis tidak menular seperti jantung, kanker, diabetes, dan asma menyumbang sekitar tiga perempat kematian global pada 2021 di luar masa pandemi. Selama ini, faktor risiko seperti genetika, lingkungan, dan gaya hidup dianggap dominan.

Namun, sebuah studi baru yang dipimpin oleh Iulia Iuga dari Universitas 1 Decembrie 1918 di Rumania menemukan bahwa kebahagiaan dapat menjadi aset kesehatan masyarakat, asalkan suatu negara atau komunitas sudah melampaui skor 2,7 dalam indeks Life Ladder (skala 0–10).

Tim peneliti ini menganalisis hubungan antara kebahagiaan dan angka kematian akibat penyakit kronis pada usia paruh baya. Mereka menggunakan skala “Life Ladder”, di mana responden menilai kondisi hidupnya dari 0 (terburuk) hingga 10 (terbaik).

Baca juga :
Clean Eating, Tren Pola Makan Tekan Risiko Penyakit Kronis

Temuan utama studi ini menunjukkan bahwa kebahagiaan mulai berdampak positif terhadap penurunan kematian penyakit tidak menular setelah skor Life Ladder sebuah negara melampaui angka 2,7. Di bawah angka tersebut, atau dalam kondisi yang disebut peneliti sebagai “hanya bertahan hidup”, peningkatan kebahagiaan belum memberikan manfaat kesehatan yang signifikan.

Data yang dikumpulkan berasal dari 123 negara dalam rentang waktu 2006 hingga 2021. Rata-rata skor Life Ladder global berada di angka 5,45, dengan kisaran nasional antara 2,18 hingga 7,97.

Baca juga :
Studi: Ritme Tidur Teratur Turunkan Risiko Penyakit Kronis

Ketika skor nasional sudah melewati ambang 2,7, setiap kenaikan satu poin dalam kebahagiaan dikaitkan dengan penurunan sekitar 0,43 persen dalam angka kematian akibat NCD pada usia 30 hingga 70 tahun. Menariknya, tidak ditemukan bukti bahwa tingkat kebahagiaan yang sangat tinggi justru berbalik merugikan kesehatan.

Temuan ini menyiratkan bahwa kebahagiaan tidak berperilaku linier, melainkan memiliki efek yang baru muncul setelah stabilitas dasar terpenuhi. Artinya, manfaat kesejahteraan baru terasa ketika masyarakat tidak lagi dibebani oleh ketidakpastian hidup yang ekstrem.

Negara-negara yang telah melampaui ambang tersebut umumnya memiliki struktur yang lebih kuat, seperti belanja kesehatan per kapita yang tinggi, sistem perlindungan sosial yang kokoh, serta pemerintahan yang relatif stabil. Faktor-faktor ini dinilai memberi ruang bagi kebahagiaan untuk mendorong perilaku sehat, memperkuat hubungan sosial, dan mempermudah akses layanan kesehatan.

Sebaliknya, di negara yang skor kebahagiaannya rendah, efek perlindungan dari peningkatan mood kecil kemungkinan besar terhambat oleh tekanan hidup sehari-hari. Kondisi ini menjelaskan mengapa kebijakan peningkatan kebahagiaan belum cukup efektif di wilayah yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar.

Oleh karena itu, studi ini menyarankan investasi pada hal-hal yang lebih mendasar terlebih dahulu agar kebahagiaan bisa menghasilkan dampak kesehatan yang nyata. Ini mencakup program pengendalian obesitas, pembatasan konsumsi alkohol berbahaya, peningkatan standar udara bersih, hingga penguatan layanan kesehatan primer.

Tak hanya itu, kebijakan sosial seperti jaminan pendapatan, kestabilan tempat tinggal, dan akses terhadap perawatan medis juga dibutuhkan untuk mendorong masyarakat melewati ambang kesejahteraan minimal. Ketika titik ini tercapai, kebahagiaan tak lagi menjadi sekadar perasaan, melainkan bagian dari fondasi kesehatan masyarakat.

Meski begitu, peneliti mengakui bahwa studi ini bersifat ekologis dan mengandalkan laporan subjektif, yang bisa dipengaruhi budaya atau bias pelaporan. Karena itu, mereka mendorong riset lanjutan yang mengaitkan kesejahteraan dengan indikator klinis seperti angka rawat inap atau tahun hidup dengan disabilitas.

Studi lanjutan juga penting dilakukan di negara-negara berpenghasilan rendah dan wilayah terdampak konflik, karena efek ambang kebahagiaan bisa berbeda secara signifikan. Saat ini, data dari wilayah tersebut masih sangat terbatas. (*)

Sumber: Earth

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Manfaat Kebahagiaan Risiko Penyakit Kronis indeks Life Ladder

Terkini | Minggu, 25/10/2026 19:02 WIB

News

Wamensos Dorong Muhammadiyah Perluas Akses Pendidikan Anak Keluarga Miskin

News

Militer Yaman Lumpuhkan 307 Petempur Houthi dalam 24 Jam

News

Cak Imin Dorong Penerima Bansos Mandiri, Target Kemiskinan 5 Persen di 2029

News

Target Khamis Mushait, Koalisi Arab Saudi Cegat Rudal Jelajah Houthi

News

Ajak Rakyat Rasional, Fahri: Kebijakan Prabowo untuk Menutup Kebocoran

News

Bentrokan Pecah di Roma, Massa Lempar Benda Peledak ke Polisi

Gaya Hidup

Bulan Purnama Hunter`s Moon Muncul 25–26 Oktober, Ini Cara Mengamatinya

News

Widya Pratiwi Kawal Penerbitan 27 Sertipikat Tanah Transmigran di Maluku

News

Cak Imin Dorong Pesantren Jadi Penjaga Hutan dan Pencegah Karhutla

News

Kabut Asap 2026: Krisis Tidak Dapat Dibebankan kepada Indonesia Semata

News

Waspada Modus BSU 2026, Kemnaker Minta Pekerja Lindungi Data Pribadi

News

Bandara Riyadh Ubah Terminal Mulai 25 Oktober, Penumpang Diminta Cek Jadwal

News

Demo Anak Muda di Barcelona Berujung Ricuh, Toko Dijarah-Kontainer Dibakar

Humanika

Waktu Terbaik Membaca Ayat Kursi dalam Hadis Nabi Muhammad

News

Demo Yellow Vests, Prancis Dilaporkan Minta Operator Siaga Batasi Medsos

Humanika

Nabi Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak, Ini Maknanya

Humanika

Pentingnya Mendengarkan Nasihat dari Orang Bijak

Kesehatan

Kampanye Kesadaran Kesehatan Paru-Paru Setiap 25 Oktober, Ini Tujuannya

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777