https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Indonesia Negara Paling Rajin Berdoa, Refleksi Religius atau Gejala Sosial?

Agus Mughni | Selasa, 16/09/2025 15:51 WIB



Apa yang sebenarnya memotivasi tingginya intensitas doa di Indonesia? Apakah frekuensi doa tinggi selalu mencerminkan kedalaman iman? Atau justru menjadi cermin keputusasaan kolektif dalam menghadapi realitas yang keras? Ilustrasi berdoa (Foto: Pexels/Thridman)

Jakarta, Jurnas.com - Di tengah dinamika sosial-politik di dunia yang semakin kompleks, Indonesia justru mencatatkan pencapaian spiritual yang mengesankan. Berdasarkan survei Pew Research Center 2024, Indonesia dinobatkan sebagai negara paling rajin berdoa di dunia, dengan lebih dari 95% penduduknya berdoa setiap hari. Angka ini merepresentasikan sekitar 269 juta jiwa, atau hampir menyentuh total populasi.

Angka ini menempatkan Indonesia di posisi teratas dalam survei global, data yang digunakan sekitar 35 negara dan mewakili sekitar 50 persen populasi dunia. Bahkan, dalam hal pentingnya agama dalam kehidupan, 98 persen orang dewasa di Indonesia mengaku bahwa agama adalah sesuatu yang sangat penting.

Fenomena ini membuka ruang refleksi. Apa yang sebenarnya memotivasi tingginya intensitas doa di Indonesia? Apakah frekuensi doa tinggi selalu mencerminkan kedalaman iman? Atau justru menjadi cermin gejala sosial, keputusasaan kolektif dalam menghadapi realitas yang keras?

Baca juga :
DPR Minta BI Jaga Nilai Tukar Rupiah di Level Rp16.000

Sementara itu, dikutip dari laman Kemenag, dalam berbagai studi psikologi agama, doa kerap menjadi pelarian saat individu menghadapi ketidakpastian, kegagalan, atau situasi sulit. Artinya, semakin berat tekanan hidup, semakin besar pula dorongan untuk mencari penghiburan spiritual, termasuk berdoa.

Fenomena ini sejalan dengan temuan Pew yang menunjukkan bahwa negara-negara berpenghasilan rendah hingga menengah memiliki tingkat doa harian yang jauh lebih tinggi dibanding negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara maju lainnya. Maka, bukan tidak mungkin bahwa kebiasaan berdoa di Indonesia juga dipengaruhi oleh realitas sosial yang kompleks dan penuh tekanan, demikian dikutip Kemenag.

Baca juga :
Hadapi Penyakit Masa Depan, RI Perlu Perkuat Biobank Riset

Namun, begitu juga, kita tidak bisa serta-merta menyimpulkan bahwa doa hanya lahir dari putus asa. Dalam tradisi keagamaan, doa juga merupakan bentuk tertinggi dari penghambaan dan kesadaran akan keterbatasan manusia.

Berdoa bukan semata meminta, melainkan mengakui bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari diri kita. Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku” (QS Al-Baqarah: 186).

Baca juga :
Marc Klok Sebut Kemenangan atas PSM Sangat Spesial

Di ayat itu, setidaknya menggambarkan bahwa tidak ada jarak antara manusia dan Tuhannya. Yang ada hanya kedekatan, keintiman, dan keyakinan bahwa setiap doa tak akan sia-sia.

Bagi para sufi, doa bahkan bukan lagi tentang keinginan. Bagi mereka, doa adalah jalan untuk meleburkan ego dan mendekat sejauh-jauhnya kepada Yang Maha Suci.

Jika pun ada harapan dalam doa mereka, itu bukan harta, jabatan, atau kemenangan. Yang mereka minta hanyalah cinta-Nya dan kedekatan yang tak terputus. Tetapi bagi banyak orang awam, doa sering kali menjadi daftar keinginan yang panjang. Tak jarang doa berubah menjadi semacam "formulir permohonan" yang diajukan dengan harapan mendapat persetujuan Tuhan.

Apakah doa seperti ini salah? Tidak selalu. Selama permohonan itu tidak bertentangan dengan nilai moral dan ajaran agama, doa tetap sah sebagai ekspresi kebutuhan manusia. Tapi ketika yang diminta adalah menuju pada kekuasaan yang tak halal, atau harta yang berasal dari ketidakadilan, maka doa itu ikut kehilangan nilai spiritualnya.

Kita juga tak bisa mengabaikan bahwa banyak doa lahir dari titik terendah dalam hidup manusia. Ketika semua jalan tertutup, ketika akal tak lagi mampu mencari solusi, doa menjadi satu-satunya harapan yang tersisa.

Dalam kondisi seperti itu, doa kehilangan formalitasnya. Ia menjadi seruan yang mentah, polos, dan sangat jujur, seperti tangisan bayi yang mencari ibunya.

Frustrasi dan doa adalah dua hal yang sering berjalan beriringan. Di tengah himpitan hidup, doa menjadi tempat jiwa bersandar, menenangkan kegelisahan yang tak mampu dijelaskan dengan logika.

Karena itu, tingginya frekuensi doa di Indonesia bisa dimaknai dari berbagai sudut. Ia bisa menjadi tanda bahwa bangsa ini masih memiliki harapan, meskipun realitas kadang tidak berpihak.

Namun bisa juga menjadi petunjuk bahwa ada keresahan kolektif yang tidak terselesaikan. Dengan kata lain bahwa doa menjadi tempat terakhir setelah semua usaha tak membuahkan hasil.

Meski demikian, di balik semua itu, tetap ada nilai luhur yang tidak bisa dipungkiri. Doa menunjukkan bahwa bangsa ini masih percaya bahwa di balik ketidakpastian, masih ada kekuatan ilahi yang bisa menjadi tumpuan. (*) 

Wallahu`alam

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Indonesia Rajin Berdoa Religius Gejala Sosial

Terkini | Kamis, 06/08/2026 20:53 WIB

News

Setjen DPR Dorong Digitalisasi Pengadaan BMN, Targetkan Tata Kelola Optimal

News

KPK Bidik PT SGP dan Anak Usaha Telkom Terkait Korupsi Digitalisasi SPBU

News

Komisi III DPR Desak Polisi Usut Jaringan Pemasok Senjata di Pondok Pinang

News

Awali Safari Sulteng, Gus Salam Sowan ke Rais Syuriyah PWNU

News

DPR Soroti Minimnya Kesiapan Pemerintah Hadapi Ancaman Karhutla

News

Sidang Praperadilan Eks Jampidsus Febrie Digelar Pekan Depan

News

Kepala Daerah Diminta Tunjuk Pejabat Khusus Kawal Rehabilitasi Pascabencana

News

Baleg DPR: Investor dan Penambang Wajib Kantongi Izin Masyarakat Adat

News

KPK Panggil Anggota DPRD Kaltim Sarkowi terkait Kasus Rita Widyasari

Gaya Hidup

Program Ini Dorong UKM untuk Hadirkan Sustainable yang Kreatif

News

KPK Sita Rp9,5 Miliar dari Pengembangan Suap Restitusi Pajak Banjarmasin

News

Rieke: Putusan Sela Kasus Vidi Jadi Koreksi Penting bagi Penegakan Hukum

Gaya Hidup

Penelitian Ungkap Minum Air Saat Makan Cenderung Makan Lebih Banyak

Gaya Hidup

Super El Nino Berpotensi Picu Perubahan Iklim Permanen: Kita Perlu Waspada

News

Dugaan Pelecehan Pasien BPJS oleh Oknum Nakes Harus Diusut Tuntas

News

Iran Ancam Serang Negara Teluk jika AS Lancarkan Serangan Baru

News

Ledia Hanifa: Sensus Ekonomi Fondasi Kebijakan Pembangunan Tepat Sasaran

News

Usai 10 Tahun, Bandara Deir Ezzor Suriah Beroperasi Kembali

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777