https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Mengenal Mulla Sadra, Penggagas Filsafat Transendental dari Iran

Syafira | Sabtu, 23/08/2025 19:05 WIB



Mengenal filsuf Islam yang menjadi penggerak filsafat transendental dari Iran Ilustrasi - Mulla Sadra, Filsuf Iran (Foto Profarsi)

Jakarta, Jurnas.com - Di tengah dinamika filsafat Islam yang dipengaruhi tiga arus pemikiran besar, yakni rasionalis, iluminasi, dan tasawuf. Seorang tokoh filsafat Islam baru hadir pada abad ke-17.

Pada masa itu, filsafat sempat dianggap berbahaya setelah mendapat kritik keras dari al-Ghazali. Namun, ilmu ini tetap hidup di Persia yang berada dibawah pimpinan Dinasti Safawi.

Mulla Sadra tampil sebagai sosok yang menyatukan berbagai tradisi dan pemikiran tersebut. Ia berhasil mensintesiskan pemikiran rasionalis, iluminasi, dan tasawuf. Dari sana, lahirlah al-Hikmah al-Muta’aliyah atau filsafat transendental.

Baca juga :
Trump Ultimatum Iran: Segera Berdamai atau Hancur Total!

Mulla Sadra memiliki nama lengkap Sadr al-Din Muhammad ibn Ibrahim ibn Yahya al-Qawami al-Shirazi. Ia lahir di Shiraz, Persia (saat Ini Iran) pada tahun 1571 M dan wafat pada tahun 1640 M.

Ia merupakan pendiri aliran filsafat al-Hikmah al-Muta’aliyah dan dikenal sebagai filsuf muslim terbesar pada abad ke-17.

Baca juga :
Pembangkit Nuklir UEA Diserang Drone, Militer Gelar Penyelidikan

Ia mendapat fasilitas pendidikan yang baik sedari kecil karena berasal dari keluarga yang terpandang. Kemudian ia belajar di Isfahan, pusat ilmu pengetahuan Dinasti Safawi juga berguru pada dua tokoh besar, yakni Mir Damad dan Shaykh Baha’i.

Mulla Sadra wafat pada tahun 1640 M di Basrah, Irak, ketika dalam perjalanan menuju haji. Ia dimakamkan di Najaf, dekat makam Imam Ali.

Baca juga :
AS Ajukan Proposal Perdamaian Lima Poin kepada Iran

Aliran al-Hikmah al-Muta’aliyah yang diusung oleh Mulla Sadra berusaha memadukan akal, intuisi, serta ajaran wahyu. Inti dari pemikirannya ialah pertama, eksistensi sebagai sesuatu yang paling nyata, sedangkan esensi hanyalah konsep dalam pikiran. Kedua, seluruh wujud mengalami gerak subtansial. Ketiga, adanya gradasi pada wujud, dan wujud paling mutlak adalah Allah.

(Bunga Adinda/Magang berkontribusi dalam artikel ini)

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Tokoh Filsuf Ilmu Filsafat Mulla Sadra Iran

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777