Seorang wanita menggunakan kipas angin untuk mendinginkan diri saat naik bus di hari yang panas, ketika Badan Prakiraan Cuaca Nasional mengeluarkan peringatan kode merah panas ekstrem untuk sebagian besar wilayah negara itu, di Bukares, Rumania. (AP)
Jakarta, Jurnas.com - Pemerintah Rumania menunda rencana penenggelaman empat kapal tongkang berisi batu ke Sungai Danube hingga Jumat (7/8) karena kondisi keselamatan yang tidak memungkinkan.
Langkah darurat tersebut diambil seiring berpacunya waktu untuk mengalihkan aliran air sungai yang melandai akibat kekeringan ekstrem menuju satu-satunya reaktor nuklir yang masih beroperasi, demi memperpanjang masa operasional di tengah krisis pasokan listrik.
Rekor terendah debit air Sungai Danube—yang digunakan sebagai pendingin turbin reaktor—telah memaksa penutupan satu reaktor. Otoritas setempat kini menempuh upaya luar biasa agar reaktor terakhir tetap berfungsi, termasuk melakukan peledakan rintangan batuan pada awal pekan ini.
Perdana Menteri Ilie Bolojan menyatakan pada Kamis bahwa pemerintah Rumania telah menyiapkan skenario pemadaman listrik bergilir untuk sektor industri secara bertahap dan dengan pemberitahuan terlebih dahulu jika diperlukan. Namun, ia menambahkan pemadaman tersebut diperkirakan belum akan terjadi dalam 5-7 hari ke depan selama reaktor nuklir tetap beroperasi.
Dua reaktor di Cernavoda yang dioperasikan oleh perusahaan negara Nuclearelectrica menyumbang seperlima dari total produksi listrik Rumania. Di saat bersamaan, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) turut terdampak kekeringan parah, sementara impor energi sangat terbatas akibat kondisi serupa yang melanda negara-negara tetangga.
Aksi peledakan batuan dan pengerukan dasar sungai sempat mengulur waktu operasional. Kendati demikian, eksekutif Nuclearelectrica memperingatkan bahwa perusahaan terpaksa mematikan reaktor yang tersisa dalam kurun lima hingga enam hari ke depan jika skenario penenggelaman tongkang gagal.
"Jika penenggelaman tongkang berhasil menciptakan luapan air tambahan, batas waktu penutupan dapat diulur hingga sembilan atau 10 hari," kata Direktur PLTN Cernavoda, Romeo Urjan, kepada stasiun televisi swasta Digi24.
Debit aliran Sungai Danube di wilayah Rumania anjlok ke rekor terendah sepanjang sejarah pada Kamis, yakni hanya sebesar 1.400 meter kubik per detik, atau sekitar sepertiga dari rata-rata normal pada bulan Agustus.
PLTN Cernavoda di Rumania dan PLTN Paks di Hungaria sama-sama mengandalkan air Sungai Danube untuk sistem pendinginan. Kondisi ini memaksa Bukares dan Budapest meningkatkan impor daya listrik serta mengimbau rumah tangga dan pelaku usaha untuk memangkas konsumsi energi.
Badan pengelolaan air negara Rumania awalnya merencanakan penenggelaman empat tongkang secara bertahap mulai Kamis guna membentuk tanggul pemecah arus yang mengarahkan air sungai ke fasilitas PLTN. Urjan menyebutkan dampak dari rekayasa air tersebut baru akan terasa sehari setelah penenggelaman.
"Langkah tersebut merupakan respons luar biasa, tetapi tidak boleh disalahartikan sebagai strategi energi jangka panjang," tulis analis bank ING dalam catatan risetnya mengenai pekerjaan rekayasa di Sungai Danube.
"Meledakkan batu di dasar sungai mungkin bisa menjaga reaktor beroperasi beberapa hari lebih lama, tetapi langkah itu tidak menciptakan kapasitas pembangkit baru, tidak memperkuat interkoneksi lintas batas, ataupun mempercepat penyediaan fasilitas penyimpanan energi."
Sebagai anggota Uni Eropa, Rumania mengandalkan kombinasi energi gas, batu bara, hidro, nuklir, dan energi terbarukan untuk pembangkitan listrik. Namun, negara tersebut membutuhkan investasi miliaran euro guna mengganti fasilitas tua serta memperkuat penyimpanan baterai dan jaringan interkoneksi.
Selasa, 04/08/2026 14:16 WIB