Humanika

Mengenal Sejarah Hari Arwah yang Diperingati Setiap 2 November

Mengenal sejarah Hari Arwah yang diperingati setiap 2 November, peringatan umat Katolik dan beberapa denominasi Protestan seperti Anglikan dan Lutheran.
Ilustrasi - mengenal sejarah Hari Arwah yang diperingati setiap 2 November (Foto: Jametlene Reskp/Unsplash)

Jakarta, Jurnas.com - Setiap tanggal 2 November masyarakat Kristiani di berbagai belahan dunia, khususnya umat Katolik dan beberapa denominasi Protestan seperti Anglikan dan Lutheran memperingati Hari Arwah atau yang dikenal secara internasional sebagai All Souls' Day.

Berbeda dengan Hari Semua Orang Kudus (All Saints' Day) pada 1 November yang mengagungkan orang-orang kudus yang telah berada di surga, Hari Arwah dikhususkan untuk mendoakan seluruh jiwa orang beriman yang telah meninggal dunia. Lantas, bagaimana sejarah dan asal-usul di balik tradisi peringatan ini

Akar Sejarah dan Perkembangan Awal

Tradisi mendoakan anggota keluarga atau kerabat yang telah meninggal dunia sebenarnya telah ada sejak masa awal Kekristenan. Pada abad-abad pertama, jemaat gereja sering kali berkumpul di katakombe untuk mendoakan para martir dan kerabat yang wafat.

Namun, peletakan batu pertama penetapan tanggal khusus untuk mendoakan seluruh arwah secara tersruktur dimulai pada abad ke-6 oleh biara-biara Benediktin. Pada masa itu, biara-biara membiasakan diri mengenang dan mendoakan para anggota biara yang telah wafat pada hari setelah Hari Pentakosta atau dalam rangkaian perayaan Paskah.

Peran Santo Odilo dari Cluny (Abad ke-11)

Penetapan tanggal 2 November secara resmi sebagai Hari Arwah tidak lepas dari peran Santo Odilo, seorang Abbas (pemimpin biara) dari Biara Cluny di Prancis pada tahun 998 Masehi.

Santo Odilo menetapkan aturan agar seluruh biara yang berada di bawah jaringan Ordo Cluny mendoakan jiwa-jiwa di api penyucian (purgatorium) setiap tanggal 2 November, persis sehari setelah perayaan Hari Semua Orang Kudus.

Gagasan ini mendapat sambutan luas karena memberikan ruang spiritual khusus bagi umat untuk memohonkan kerahiman Allah bagi jiwa-jiwa yang masih membutuhkan proses pembersihan sebelum masuk ke dalam kebahagiaan kekal di surga.

Seiring berjalannya waktu, tradisi dari Biara Cluny ini menyebar ke seluruh Gereja Katolik Roma dan ditetapkan sebagai perayaan liturgis universal oleh Vatikan pada abad ke-14.

Makna Teologis dan Tradisi Peringatan

Secara teologis, Hari Arwah berakar pada ajaran tentang Persekutuan Para Kudus (Communion of Saints), yang menghubungkan tiga jemaat Gereja:

  • Gereja Jaya (Church Triumphant): Para kudus di surga.
  • Gereja Berjuang (Church Militant): Umat beriman yang masih hidup di dunia.
  • Gereja Menderita (Church Penitent/Suffering): Jiwa-jiwa di api penyucian.

Melalui doa, Misa Kudus, amalan kasih, dan indulgensi, umat yang masih hidup meyakini bahwa mereka dapat membantu meringankan dan mempercepat pemurnian jiwa-jiwa yang telah mendahului mereka.

Keberagaman Tradisi di Berbagai Negara

Meskipun memiliki dasar iman yang sama, perayaan Hari Arwah dihiasi berbagai tradisi kebudayaan unik di berbagai belahan dunia:

Ziarah Makam (Indonesia & Eropa): Umat mendatangi pemakaman keluarga, membersihkan batu nisan, menyalakan lilin, menaburkan bunga, dan berdoa bersama rombongan paroki.

Día de los Muertos (Meksiko): Hari Arwah beririsan dengan tradisi budaya Día de los Muertos (Hari Orang Mati), di mana keluarga membuat altar (ofrenda) bergambar mendiang, dihiasi bunga marigold, makanan kesukaan almarhum, serta tengkorak gula (calaveras).

Doa Khusus dan Misa Requiem: Di gereja-gereja, buku kenangan (Book of Remembrance) dibuka agar umat dapat menuliskan nama-nama anggota keluarga mereka yang telah meninggal untuk didoakan secara khusus sepanjang bulan November.