Gaya Hidup

Studi: Terapi Prenatal Berdampak pada Otak dan Emosi Bayi

Terapi prenatal yang dilakukan oleh ibu hamil ternyata berdampak positif pada struktur otak dan emosi bayi.
Ilustrasi terapi prenatal (Foto: FemFirstHealth)

Jakarta, Jurnas.com - Penanganan depresi sebelum melahirkan pada ibu hamil melalui terapi prenatal dapat memberikan dampak positif terhadap struktur otak bayi serta pembentukan respons emosional mereka di awal kehidupan.

Penelitian yang diterbitkan Nature dan diulas oleh Dr. Rachel Diamond tersebut menyoroti pentingnya periode kehamilan sebagai jendela krusial untuk intervensi kesehatan mental.

Diperkirakan sekitar 16 persen wanita hamil mengalami gangguan depresi, dan sepertiga dari kasus depresi pascamelahirkan (postpartum) sebenarnya telah menunjukkan gejala awal sejak masa kehamilan.

Dalam riset tersebut, para ilmuwan mengamati 109 bayi dari ibu yang menjadi peserta uji klinis penanganan depresi selama kehamilan. Para ibu dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang menerima delapan sesi terapi interpersonal (interpersonal psychotherapy/IPT) dan kelompok yang menerima perawatan standar yang ditingkatkan (enhanced usual care/EUC).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang menjalani terapi IPT mengalami penurunan gejala depresi yang jauh lebih signifikan, yakni mencapai 47 hingga 52,5 persen, dibandingkan kelompok EUC yang hanya mengalami penurunan 13 hingga 32,3 persen.

Ketika bayi berusia enam minggu, peneliti melakukan pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk mengukur volume hipokampus dan amigdala pada otak bayi. Bayi dari ibu yang menerima terapi IPT tercatat memiliki volume hipokampus kanan yang lebih kecil secara signifikan dibandingkan dengan bayi dari kelompok perawatan standar.

Selanjutnya, saat bayi menginjak usia enam bulan, peneliti mengukur tingkat emosionalitas negatif atau respons stres bayi saat menghadapi stimulasi asing. Hasil observasi menunjukkan bahwa volume hipokampus yang lebih kecil pada usia enam minggu berkorelasi dengan tingkat emosionalitas negatif yang lebih rendah pada usia enam bulan, yang berarti bayi menunjukkan tingkat kecemasan atau stres yang lebih rendah.

Investasi Kesehatan Mental Ibu bagi Keberlangsungan Anak

Dikutip dari Psychology Today, penemuan ini menjadi bukti awal mengenai keterkaitan langsung antara perawatan depresi pada ibu hamil, perkembangan awal jaringan saraf, dan perilaku emosional bayi.

Meskipun penelitian ini belum menetapkan hubungan sebab-akibat yang absolut, para peneliti menegaskan bahwa menjaga stabilitas emosional ibu selama kehamilan memiliki peran biologis yang sangat penting. Penanganan depresi sejak dini terbukti tidak hanya memperbaiki kualitas hubungan ibu dan anak, tetapi juga menciptakan fondasi perkembangan yang lebih sehat.

Hasil studi ini menggarisbawahi bahwa ibu hamil yang mengalami depresi tidak boleh menunda penanganan hingga setelah proses persalinan. Perawatan mental bagi calon ibu bukan sekadar mendukung kesejahteraan pribadi sang ibu, melainkan juga merupakan investasi jangka panjang bagi pertumbuhan fisik dan mental anak di masa depan.