Gaya Hidup

Pakar Kesehatan Peringatkan Dampak Medsos, Orang Tua Diminta Bertindak

Pakar kesehatan ingatkan scrolling, pemutaran video otomatis, hingga rekomendasi konten yang dipersonalisasi dapat membuat pengguna sulit berhenti membuka medsos
Ilustrasi Media Sosial (Foto: Antara)

Jakarta, Jurnas.com - Pakar kesehatan mengingatkan fitur scrolling, pemutaran video otomatis, hingga rekomendasi konten yang dipersonalisasi dapat membuat pengguna sulit berhenti membuka media sosial atau medsos.

Di balik desain yang terlihat sederhana itu, para pakar kesehatan masyarakat memperingatkan adanya risiko terhadap kesehatan mental, kualitas tidur, dan aktivitas fisik anak muda.

Peringatan tersebut disampaikan dalam tiga makalah penelitian yang diterbitkan di jurnal medis The Lancet.

Para peneliti menilai persoalan penggunaan media digital berlebihan tidak cukup dijelaskan sebagai lemahnya pengendalian diri pengguna, tetapi juga berkaitan dengan model bisnis perusahaan teknologi, desain aplikasi, dan lemahnya regulasi pemerintah.

Mereka mendesak pemerintah segera menetapkan aturan untuk melindungi anak-anak dan remaja, tanpa harus menunggu bukti ilmiah yang sepenuhnya memastikan hubungan sebab-akibat antara penggunaan media digital dan gangguan kesehatan.

Profesor Ilona Kickbusch dari Digital Transformations for Health Lab di Swiss, yang memimpin rangkaian penelitian tersebut, mengakui bahwa bukti mengenai dampak penggunaan medsos secara berlebihan masih belum konklusif. Hubungan antara penggunaan media digital yang intensif dengan masalah kesehatan mental, gangguan tidur, dan berkurangnya aktivitas fisik belum otomatis membuktikan bahwa satu faktor secara langsung menyebabkan faktor lainnya.

Namun, menurut Kickbusch, skala penggunaan media digital membuat risiko yang relatif kecil sekalipun dapat berdampak luas.

“Jika mempertimbangkan berapa banyak anak yang kini menggunakan media digital, bahkan dampak buruk yang kecil sekalipun dapat menimbulkan konsekuensi kesehatan masyarakat yang signifikan,” ujarnya kepada Earth.com.

Karena itu, para peneliti mendorong pendekatan pencegahan dalam kebijakan publik, bukan menunggu sampai dampak buruk terbukti sepenuhnya dan telanjur meluas.

Desain aplikasi dinilai sengaja membuat pengguna terus bertahan

Jay Shaw dari University of Toronto, yang memimpin makalah pertama dalam rangkaian penelitian tersebut, menyoroti sejumlah fitur yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna. Fitur seperti infinite scroll atau gulir tanpa akhir, autoplay, dan rekomendasi konten yang dipersonalisasi dinilai mendorong pengguna menghabiskan lebih banyak waktu di platform digital.

Menurut Shaw, fitur-fitur tersebut bukan sekadar pilihan teknis, melainkan bagian dari strategi perusahaan untuk menarik perhatian dan mengumpulkan data pengguna.

“Sebagian besar platform digital dirancang oleh perusahaan untuk menarik perhatian dan mengumpulkan data, bukan untuk melindungi kesehatan,” kata Shaw.

Skala penggunaan media sosial memperkuat kekhawatiran tersebut. Salah satu perkiraan yang dikutip para peneliti menunjukkan bahwa pengguna internet pada 2025 menghabiskan rata-rata 141 menit atau sekitar dua jam 21 menit setiap hari di aplikasi media sosial.

Sementara itu, survei terhadap lebih dari 10.000 orang dewasa di Amerika Serikat pada 2025 menemukan rata-rata penggunaan aplikasi ponsel melebihi enam jam sehari.

Pakar menilai industri teknologi mengulang pola industri tembakau

Dalam salah satu makalahnya, Shaw dan tim membandingkan strategi industri teknologi dengan industri tembakau dan makanan ultra-proses. Ketiganya dinilai memiliki pola serupa dalam menghadapi regulasi, yakni berupaya mempertahankan kepentingan bisnis ketika produk atau layanan mereka dikaitkan dengan risiko kesehatan.

Profesor Barbara Prainsack dari University of Vienna, salah satu penulis rangkaian penelitian tersebut, mengatakan perusahaan teknologi menggunakan strategi yang sebelumnya dikenal dalam industri tembakau dan bahan bakar fosil.

“Perusahaan teknologi meminjam strategi yang sudah dikenal dari industri tembakau dan bahan bakar fosil: menciptakan keraguan, mendiskreditkan para pengkritik, serta menggambarkan regulasi sebagai ancaman terhadap kebebasan,” ujarnya.

Para peneliti menilai pemerintah selama bertahun-tahun terlalu banyak memberi ruang kepada perusahaan digital untuk mengatur operasional mereka sendiri. Akibatnya, pertumbuhan bisnis lebih diutamakan dibandingkan perlindungan kesehatan masyarakat.

Mereka juga menyoroti masa remaja dan awal usia dewasa sebagai periode ketika perkembangan otak dan kehidupan sosial masih sangat rentan. Gambaran diri ideal yang dibangun di medsos dapat berkaitan dengan perundungan terhadap bentuk tubuh atau body shaming serta kondisi kesehatan mental yang lebih buruk.

Penelitian masih memiliki banyak celah

Meski menyoroti berbagai risiko, para peneliti mengakui bahwa bukti ilmiah mengenai dampak desain platform digital masih terbatas. Sebagian besar penelitian selama ini lebih banyak mengukur perilaku individu, seperti durasi penggunaan layar, dibandingkan meneliti pengaruh algoritma, konten, dan iklan yang ditargetkan kepada pengguna.

Kickbusch mengatakan salah satu hal yang paling mengejutkan dari kajian tersebut justru banyaknya informasi yang belum tersedia mengenai dampak penggunaan medsos terhadap anak-anak.

Louise Holly, salah satu penulis dari Digital Transformations for Health Lab, menambahkan bahwa keterbatasan akses terhadap data perusahaan teknologi menghambat penelitian independen.

“Data paling berharga mengenai bagaimana platform ini sebenarnya memengaruhi pengguna tersembunyi di dalam perusahaan teknologi, sehingga membatasi pengawasan independen dan memperlambat kemajuan ilmiah,” katanya.

Para peneliti merekomendasikan agar praktik perusahaan teknologi yang berpotensi membahayakan kesehatan diaudit dan dipublikasikan. Mereka juga mendorong penggunaan informasi dari mantan karyawan serta laporan investigasi untuk mengungkap praktik yang sulit diteliti dari luar perusahaan.

Selain itu, pendanaan industri teknologi terhadap penelitian perlu dibatasi agar hasil kajian tidak terpengaruh kepentingan bisnis.

Tiga langkah untuk memperkuat perlindungan anak muda

Para pakar menilai pembatasan usia saja tidak cukup untuk mengatasi risiko medsos. Mereka mendorong kebijakan yang menyasar perusahaan teknologi, pemerintah nasional, hingga kerja sama internasional.

Pertama, perusahaan teknologi perlu menguji potensi dampak buruk produk dan fitur baru sebelum diluncurkan. Mereka juga didorong membuka data mengenai pengaruh fitur tersebut terhadap kesehatan pengguna kepada peneliti independen yang telah melalui proses verifikasi.

Kedua, pemerintah perlu memperkuat regulasi nasional untuk mengendalikan teknologi dan model bisnis yang berisiko. Kebijakan juga perlu menyasar algoritma serta sistem rekomendasi konten yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna.

Ketiga, para peneliti mengusulkan perjanjian global melalui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menetapkan standar dasar perlindungan. Mereka juga mendorong pembentukan badan internasional khusus yang memantau dampak kecerdasan buatan terhadap anak-anak dan kaum muda.

Kickbusch menilai pemerintah harus menangani persoalan tersebut melalui beberapa pendekatan secara bersamaan, mulai dari membatasi akses, mengatur teknologi tertentu, hingga mengawasi model bisnis dan algoritma media sosial.

Proses hukum terhadap perusahaan teknologi juga dinilai dapat menjadi salah satu jalur pertanggungjawaban. Melalui pengadilan, perusahaan dapat diwajibkan membuka dokumen internal yang belum tentu dapat diakses regulator. Namun, jalur hukum tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan regulasi pemerintah.

Orang tua juga diminta mengurangi penggunaan media sosial

Sambil menunggu kebijakan pemerintah dan perubahan dari perusahaan teknologi, Kickbusch menilai keluarga dapat mengambil langkah perlindungan sejak sekarang.

Dia mendorong orang tua mengurangi secara signifikan penggunaan media digital dan akses anak terhadap ponsel pintar. Anak-anak juga perlu diberi pemahaman mengenai cara kerja platform digital dan algoritma yang menentukan konten yang mereka lihat.

“Orang tua harus membantu anak-anak mengurangi risiko dengan secara signifikan mengurangi penggunaan media sosial dan akses terhadap ponsel pintar. Mereka juga harus menjelaskan kepada anak-anak bagaimana platform digital dan algoritma bekerja,” kata Kickbusch.

Dia menambahkan bahwa orang tua perlu memperbaiki kebiasaan penggunaan media sosial mereka sendiri agar dapat menjadi contoh bagi anak-anak.

Para peneliti juga melibatkan kelompok penasihat anak muda yang terdiri atas enam orang berusia 23 hingga 30 tahun. Kelompok tersebut memberikan masukan berdasarkan pengalaman langsung yang tidak selalu dapat tergambarkan melalui penelitian ilmiah.

Meski demikian, para peneliti menegaskan masih diperlukan kajian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana fitur tertentu memengaruhi perilaku dan kesehatan pengguna. Mereka juga menyoroti bahwa persoalan akses digital perlu diperhatikan, mengingat menurut data International Telecommunication Union, sekitar 2,2 miliar orang di dunia belum memiliki akses internet pada 2025.

Bagi tim peneliti, perlindungan kesehatan anak muda tidak cukup hanya dengan mengatur berapa lama mereka menggunakan ponsel.

Pemerintah juga perlu memperhatikan bagaimana platform digital dirancang, bagaimana algoritmanya bekerja, serta kepentingan bisnis yang membentuk pengalaman pengguna. (*)

Sumber: Earth