Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa fenomena kecanduan AI (kecerdasan artifisial) berisiko menurunkan kemampuan manusia dalam berpikir kritis, serta memecahkan masalah yang kompleks.
Penelitian yang diulas oleh Profesor Michael Ungar dari Dalhousie University tersebut menyoroti maraknya fenomena pengalihan beban kognitif di kalangan pelajar dan mahasiswa.
Kebiasaan mengandalkan teknologi kecerdasan buatan untuk menyelesaikan tugas-tugas akademis maupun pekerjaan tanpa adanya proses evaluasi mandiri dinilai dapat menciptakan ancaman krisis kemampuan bernalar di masa depan.
Hasil eksperimen yang dilakukan oleh Shaowei Ren dari Anhui University of Science and Technology menunjukkan bahwa hampir dua pertiga mahasiswa yang menggunakan ChatGPT cenderung menerima saran atau jawaban yang salah, sekaligus meremehkan sejauh mana kecerdasan buatan memengaruhi keputusan mereka.
Para peserta baru dapat mengenali kekeliruan tersebut ketika mereka didorong untuk berhenti sejenak dan melakukan refleksi kritis terhadap keabsahan informasi yang diberikan. Tanpa adanya jeda refleksi, pengguna berisiko tinggi terjebak dalam rasa percaya diri yang keliru atas jawaban yang tidak akurat.
Dikutip dari Psychology Today pada Minggu (8/11), kondisi tersebut diperparah oleh analogi yang disampaikan oleh pakar interaksi manusia dan AI dari University of North Carolina at Chapel Hill, Mohammad Jarrahi.
Dia mengibaratkan kecerdasan buatan seperti seekor kuda yang merupakan sarana untuk mencapai tujuan lebih cepat dan hemat energi, namun tidak memiliki pemahaman tentang arah maupun alasan perjalanan tersebut.
Masalah utama timbul ketika pengguna mengira tindakan mendelegasikan tugas berarti mengalihkan tanggung jawab sepenuhnya kepada sistem kecerdasan buatan, padahal pertimbangan dan tanggung jawab atas hasil akhirnya tetap berada di tangan manusia.
Solusi Panduan Instruksional dan Penggunaan AI yang Bijak
Kendati ketergantungan tanpa batasan dapat menurunkan keterampilan bernalar, studi lain memperlihatkan bahwa penggunaan teknologi ini tetap memberikan dampak positif jika dibarengi dengan panduan belajar yang tepat.
Penelitian yang dipimpin oleh Hamsa Bastani dari University of Pennsylvania terhadap siswa sekolah menengah menemukan bahwa ketika kecerdasan buatan dipadukan dengan petunjuk instruksional yang mendorong keterampilan pemecahan masalah, bukan sekadar memberikan jawaban instan, para siswa mampu meraih hasil belajar yang lebih baik. Bahkan, performa mereka tetap terjaga dengan baik setelah akses terhadap kecerdasan buatan ditarik kembali.
Penelitian-penelitian tersebut menegaskan pentingnya menjaga kesadaran kognitif serta keagenan pribadi saat memanfaatkan teknologi digital. Sama halnya dengan kalkulator atau mesin pencari internet, kecerdasan buatan merupakan alat bantu yang efektif.
Namun, agar kemampuan bernalar manusia tidak terkikis, penggunaan kecerdasan buatan harus senantiasa diimbangi dengan dorongan untuk berpikir mandiri, memverifikasi fakta, serta melakukan refleksi kritis pada setiap keputusan yang diambil.









