Gaya Hidup

Gen Z Gampang Kena Mental, Ternyata Ini Penyebab Utamanya

Studi terbaru menemukan penyebab melonjaknya risiko gangguan mental pada remaja Gen Z. Ini penyebab utamanya.
Ilustrasi gangguan mental pada remaja (Foto: Valley Hospital)

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa populasi remaja usia 14 hingga 20 tahun atau Gen Z saat ini memiliki risiko 104 persen lebih tinggi mengalami gangguan mental berat, dibandingkan dengan kelompok seusia mereka pada rentang 1975 hingga 1979.

Penelitian berskala besar yang dipimpin oleh Dr. Daniel Myran dari University of Ottawa tersebut menganalisis lebih dari 12 juta rekam medis kesehatan di Ontario, Kanada.

Riset ini menyoroti tren mengkhawatirkan ketika tingkat masalah kesehatan jiwa justru melonjak tajam pada kelompok usia muda, di saat angka gangguan jiwa pada populasi dewasa usia 21 hingga 50 tahun cenderung stabil atau bahkan mengalami penurunan.

Dikutip dari Psychology Today, para peneliti menekankan bahwa peningkatan tajam ini tidak dapat semata-mata dijelaskan oleh perbaikan metode diagnosis awal atau menurunnya stigma masyarakat terhadap isu kesehatan jiwa.

Pasalnya, jika faktor diagnosis atau penurunan stigma menjadi penyebab utama, peningkatan serupa seharusnya juga terlihat pada kelompok usia yang lebih tua. Pakar terapi keluarga dan peneliti dari Dalhousie University, Dr. Michael Ungar, menilai bahwa lonjakan ini mengindikasikan penurunan daya tahan kognitif atau resiliensi anak muda terhadap tekanan hidup serta meningkatnya kerentanan terhadap pemicu penyakit jiwa kronis.

Beberapa faktor lingkungan yang diduga kuat menjadi pemicu maraknya masalah jiwa pada anak muda meliputi paparan waktu layar (screen time) yang berlebihan, tekanan penggunaan media sosial, dampak isolasi sosial pasca-pandemi COVID-19, hingga lingkungan sekitar yang makin toksik.

Selain itu, perhatian orang tua yang terdistraksi akibat kesibukan menggunakan perangkat gawai masing-masing juga disinyalir berkontribusi terhadap minimnya perlindungan emosional anak. Kondisi-kondisi ini menciptakan tekanan berlapis yang memicu kemunculan kecemasan, depresi, hingga gangguan psikotis awal pada usia yang kian muda.

Langkah Pencegahan Dini dan Manajemen Lingkungan Anak

Guna memitigasi krisis kesehatan jiwa ini, para ahli menyarankan perlunya langkah-langkah pencegahan preventif secara terarah sebelum gangguan berkembang menjadi kronis.

Pengaturan dan pembatasan akses media sosial serta pengurangan durasi penggunaan gawai menjadi prioritas utama yang harus diterapkan oleh orang tua dan pengasuh. Lingkungan sekitar anak perlu didorong untuk memberikan ruang interaksi tatap muka secara langsung dengan teman sebaya guna membangun kembali ikatan sosial yang sehat.

Selain membatasi gawai dan memperbanyak aktivitas di luar ruangan, keterlibatan aktif dari orang tua dan fasilitas kesehatan dalam mendeteksi gejala awal sangatlah krusial.

Penanganan serta penjangkauan bantuan profesional sejak dini dinilai dapat membantu memulihkan resiliensi anak muda dalam menghadapi tekanan lingkungan modern yang kian kompleks.