Gaya Hidup

Studi Ungkap Hubungan Tempat Tinggal dengan Konsentrasi Anak

Lingkungan tempat tinggal ternyata berpotensi berkaitan dengan kemampuan anak untuk berkonsentrasi
Anak sedang belajar di ruang hijau dengan konsentrasi tinggi (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Lingkungan tempat tinggal ternyata berpotensi berkaitan dengan kemampuan anak untuk berkonsentrasi. Sebuah studi besar terhadap hampir 12.000 anak di Amerika Serikat menemukan bahwa mereka yang tinggal di kawasan dengan lebih banyak pepohonan dan ruang terbuka hijau cenderung memperoleh skor fokus atau konsentrasi sedikit lebih tinggi.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environment International itu menunjukkan adanya hubungan antara ketersediaan ruang hijau di sekitar rumah dan kemampuan anak dalam menjalankan tugas yang membutuhkan konsentrasi. Namun, para peneliti menegaskan bahwa temuan tersebut belum membuktikan bahwa pepohonan atau taman secara langsung meningkatkan kemampuan fokus anak.

Studi ini dipimpin Carina Fowler, peneliti pascadoktoral di laboratorium Deanna Barch, profesor Departemen Psychological and Brain Sciences di Washington University in St. Louis. Tim menggunakan data dari Adolescent Brain Cognitive Development Study yang melibatkan anak-anak di 21 lokasi di wilayah kontinental Amerika Serikat.

Analisis mencakup 11.868 anak yang bergabung dalam penelitian pada 2016 hingga 2018, ketika mereka berusia 9 atau 10 tahun.

Bagaimana ruang hijau berkaitan dengan kemampuan fokus?

Para peneliti menggunakan teori attention restoration atau pemulihan perhatian untuk menjelaskan kemungkinan hubungan antara alam dan konsentrasi. Teori ini menyebutkan bahwa lingkungan alami dapat memberi kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat dari aktivitas yang membutuhkan perhatian terarah.

Ada dua jenis perhatian yang menjadi dasar teori tersebut. Pertama, perhatian yang digunakan untuk berkonsentrasi pada tugas tertentu. Kedua, perhatian otomatis yang merespons berbagai rangsangan di sekitar seseorang.

Ponsel, televisi, dan lalu lintas dapat terus menarik perhatian otomatis. Sebaliknya, pepohonan dan taman dinilai dapat memberikan rangsangan yang lebih ringan sehingga pikiran memiliki kesempatan untuk beristirahat.

Fowler menjelaskan bahwa manusia membutuhkan sesuatu yang cukup menarik perhatian, tetapi tidak sampai membebani pikiran.

“Sepertinya orang membutuhkan sesuatu yang sedikit menyibukkan mereka, tetapi tidak terlalu banyak. Alam dapat memberikan hal tersebut dengan sangat baik,” kata Fowler.

Peneliti mengukur pepohonan dan taman di sekitar rumah

Untuk mengetahui tingkat ketersediaan ruang hijau, tim meneliti kawasan sensus tempat tinggal masing-masing anak. Wilayah tersebut kurang lebih seukuran lingkungan permukiman.

Cakupan pepohonan diukur menggunakan citra satelit, sedangkan luas taman diperoleh dari data Trust for Public Land. Kedua persentase tersebut kemudian dirata-ratakan untuk menghasilkan skor ruang hijau di sekitar tempat tinggal anak.

Secara keseluruhan, rata-rata skor ruang hijau dalam kelompok penelitian mencapai sekitar 11 persen. Namun, hampir separuh anak tinggal di kawasan dengan skor di bawah 10 persen. Sekitar satu dari 10 anak bahkan tinggal di lingkungan dengan skor kurang dari 1 persen.

Kemampuan anak juga diuji melalui lima tes singkat yang mencakup mengingat informasi, beralih di antara aturan, mengabaikan gangguan, dan memproses informasi dengan cepat. Hasilnya digabungkan menjadi skor perhatian menggunakan skala serupa tes IQ, dengan nilai tengah 100 dan sebaran umum sekitar 15 poin.

Selain itu, anak-anak mengikuti tes membaca dan kosakata untuk mengukur sebagian kemampuan akademik mereka.

Kenaikan ruang hijau berkaitan dengan skor fokus lebih tinggi

Setelah memperhitungkan sejumlah faktor, peneliti menemukan bahwa peningkatan ruang hijau sebesar 10 poin persentase berkaitan dengan kenaikan skor perhatian sebesar 0,76 poin.

Sebagai gambaran, peningkatan 10 poin persentase berarti perubahan cakupan ruang hijau dari 10 persen menjadi 20 persen. Pada pengukuran kemampuan membaca dan kosakata, peningkatan yang berkaitan dengan perubahan tersebut mencapai 0,83 poin.

Meski demikian, selisih skor itu tergolong kecil. Kenaikannya kurang dari satu poin pada skala yang memiliki sebaran umum 15 poin.

Tim juga memperhitungkan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi konsentrasi anak, termasuk jenis kelamin, kondisi ekonomi lingkungan, ADHD, penggunaan obat stimulan, gangguan tidur, durasi penggunaan layar, dan paparan tembakau sebelum lahir.

Faktor lain yang diperiksa mencakup polusi udara, aktivitas fisik, serta persepsi anak mengenai keamanan lingkungan tempat tinggalnya.

Menurut Fowler, rasa aman menjadi hal penting ketika menilai manfaat ruang hijau. Anak perlu merasa aman untuk dapat memanfaatkan taman atau ruang terbuka di sekitarnya.

Polusi udara ikut menjelaskan hubungan tersebut

Peneliti juga menemukan bahwa kualitas udara mungkin ikut berperan. Kawasan yang lebih hijau cenderung memiliki tingkat polusi udara lebih rendah, sementara sejumlah penelitian sebelumnya telah mengaitkan polusi dengan masalah perhatian.

Tim memeriksa pengaruh partikel halus PM2.5, yakni partikel polutan berukuran sekitar 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat polusi yang lebih rendah menjelaskan sebagian kecil hubungan antara ruang hijau dengan skor perhatian maupun kemampuan akademik.

Temuan ini mengejutkan para peneliti karena sebelumnya mereka memperkirakan kualitas udara tidak akan menjelaskan hubungan tersebut.

“Ada sesuatu dari gagasan bahwa kualitas udara sebagian menjelaskan mengapa ruang hijau membantu perhatian kita,” kata Fowler.

Sementara itu, aktivitas fisik tidak menjelaskan hubungan antara ruang hijau dan skor perhatian. Anak-anak yang tinggal di lingkungan lebih hijau tidak melaporkan jumlah hari yang lebih banyak untuk melakukan aktivitas fisik setidaknya satu jam. Meski begitu, anak yang lebih aktif secara fisik tetap memperoleh skor lebih tinggi pada kedua pengukuran.

Pengaruh pendapatan keluarga mengubah hasil penelitian

Ketika pendapatan keluarga dimasukkan ke dalam analisis, hubungan antara ruang hijau dan kemampuan perhatian berkurang sekitar setengah, tetapi masih terlihat.

Berbeda dengan hasil tersebut, hubungan antara ruang hijau dan kemampuan membaca serta kosakata tidak lagi signifikan secara statistik setelah faktor pendapatan keluarga diperhitungkan. Hal ini membuat peneliti belum dapat memastikan seberapa besar peran ruang hijau terhadap kemampuan akademik anak.

Tim mengajukan dua kemungkinan. Ruang hijau memang memiliki hubungan lebih lemah dengan kemampuan akademik dibandingkan perhatian, atau manfaat terhadap konsentrasi muncul lebih dahulu sementara pengaruhnya terhadap proses belajar membutuhkan waktu lebih panjang.

Peneliti juga mengingatkan bahwa skor perhatian dalam studi tersebut merupakan gabungan beberapa kemampuan, bukan pengukuran perhatian secara khusus. Sementara itu, tes akademik hanya mencakup membaca dan kosakata, bukan matematika, sains, maupun menulis.

Studi ini juga memiliki keterbatasan karena sebagian besar pusat penelitian pencitraan otak berada di wilayah perkotaan sehingga jumlah anak dari kawasan pedesaan relatif sedikit. Selain itu, kondisi ruang hijau hanya diukur pada satu titik waktu sehingga penelitian belum dapat menunjukkan perubahan kemampuan anak ketika mereka pindah ke lingkungan yang lebih hijau.

Sekolah dan pemerintah perlu menguji manfaat ruang hijau

Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti mengusulkan penelitian lanjutan untuk menguji apakah lingkungan sekolah yang lebih hijau dapat membantu proses belajar anak. Mereka juga mengangkat kemungkinan bahwa melarang anak bermain di luar ruangan saat jam istirahat sebagai hukuman atas nilai atau masalah konsentrasi justru dapat memperburuk keadaan.

Namun, kedua kemungkinan itu masih membutuhkan pengujian lebih lanjut. Penelitian eksperimental dan studi jangka panjang diperlukan untuk mengetahui apakah penanaman pohon di sekitar rumah maupun sekolah benar-benar dapat meningkatkan kemampuan perhatian anak. (*)

Sumber: Earth