Jakarta, Jurnas.com - Kucing sering terlihat menggemaskan ketika berguling dan memperlihatkan bagian perutnya. Namun, jangan buru-buru menganggap gerakan itu sebagai undangan untuk mengelus perutnya.
Sebagian besar kucing justru merasa tidak nyaman ketika bagian tubuh tersebut disentuh, begitu pula kaki dan ekornya.
Berbeda dengan anjing yang umumnya menikmati elusan di bagian perut, kucing memiliki respons yang lebih sensitif terhadap sentuhan di area tertentu. Jika seseorang tetap mengelus bagian yang tidak disukainya, kucing bisa menjauh, menggeliat, bahkan menggigit atau mencakar.
Ahli perilaku kucing sekaligus peneliti senior di Purdue University, Mikel Delgado, menjelaskan bahwa kucing biasanya menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan sebelum bereaksi lebih keras.
Dalam keterangannya kepada Live Science, Delgado mengatakan kucing dapat menoleh cepat ke arah tangan yang menyentuhnya, berusaha menjauh, atau terus bergerak untuk menghindari elusan. Jika sinyal awal itu diabaikan, responsnya bisa meningkat menjadi gigitan, desisan, atau cakaran.
Lantas, mengapa perut, kaki, dan ekor menjadi bagian tubuh yang sensitif bagi banyak kucing?
Perut Kucing Merupakan Bagian Tubuh yang Rentan
Salah satu penjelasannya berkaitan dengan naluri bertahan hidup. Menurut Sarah Ellis, kepala bidang kesejahteraan mental dan perilaku kucing di organisasi perlindungan kucing International Cat Care, kucing merupakan predator sekaligus hewan yang bisa menjadi mangsa.
Karena itu, mereka cenderung melindungi bagian tubuh yang rentan ketika menghadapi ancaman, termasuk perut. Area ini menyimpan organ-organ vital seperti hati, lambung, dan usus yang tidak terlindungi tulang rusuk seperti jantung dan paru-paru.
Kucing sebenarnya memiliki bagian khusus berupa lipatan kulit dan lemak longgar di perut yang disebut primordial pouch. Struktur ini memberikan bantalan tambahan untuk melindungi tubuh ketika berkelahi.
Meski demikian, keberadaan primordial pouch tidak serta-merta membuat kucing nyaman ketika perutnya disentuh. Naluri melindungi bagian tubuh tersebut tetap kuat.
Kucing juga menghadapi ancaman dari berbagai predator, seperti anjing, koyote perkotaan, hingga burung pemangsa seperti elang dan burung hantu. Kondisi tersebut turut menjelaskan mengapa mereka cenderung menjaga bagian perut dari sentuhan yang dianggap mengancam.
Mengapa Kucing Tidak Suka Ekornya Dipegang?
Ekor juga termasuk bagian tubuh yang rentan bagi kucing. Sarah Ellis menjelaskan bahwa ketika kucing dikejar hewan lain, termasuk sesama kucing, ekornya sering menjadi bagian tubuh yang paling dekat dengan pengejar.
Risiko gigitan pada pangkal ekor membuat area tersebut menjadi bagian yang perlu dilindungi. Karena itu, sebagian kucing merasa waspada ketika manusia menyentuh atau mengelus ekornya.
Respons setiap kucing memang berbeda, tetapi menyentuh ekor tanpa memperhatikan reaksinya dapat membuat mereka merasa terganggu.
Kaki Kucing Sangat Sensitif terhadap Sentuhan
Ada dua alasan yang diduga membuat banyak kucing tidak menyukai sentuhan pada kaki. Pertama, kaki merupakan bagian penting untuk melarikan diri dari ancaman.
Menurut Ellis, kucing lebih memilih kabur ketika menghadapi bahaya. Jika tidak bisa melarikan diri, mereka dapat menggunakan cakarnya untuk mengusir ancaman.
Karena itu, kucing cenderung tidak menyukai kondisi ketika kakinya ditahan atau dibatasi. Mereka membutuhkan kebebasan bergerak untuk melindungi diri.
Alasan kedua berkaitan dengan sensitivitas telapak kaki. Delgado menjelaskan bahwa kaki kucing memiliki bantalan jari dan rambut sensorik di sekitar pergelangan yang dikenal sebagai carpal vibrissae.
Bagian tersebut peka terhadap berbagai rangsangan, termasuk tekanan dan suhu. Sensitivitas inilah yang diduga membuat banyak kucing tidak nyaman ketika telapak atau jari kakinya disentuh.
Bagian Tubuh yang Umumnya Disukai Kucing untuk Dielus
Meski memiliki area tubuh yang sensitif, bukan berarti kucing tidak menyukai sentuhan manusia. Sebagian besar kucing justru lebih menikmati elusan di pangkal telinga, sekitar pipi, dan bagian bawah dagu.
Menurut Delgado, area tersebut memiliki banyak kelenjar aroma. Kucing juga terbiasa menggosokkan bagian wajahnya kepada kucing lain yang memiliki hubungan dekat dengannya.
Ketika manusia mengelus area tersebut, kucing pada dasarnya merespons dengan cara yang serupa seperti saat berinteraksi dengan sesama kucing.
Namun, ada pula kucing yang memiliki preferensi berbeda. Delgado mengaku pernah menemui beberapa kucing yang justru menikmati elusan di perut.
Ellis juga menjelaskan bahwa sebagian kucing senang ekornya dielus sebentar. Mereka biasanya menunjukkan respons dengan mendorong bagian belakang tubuh ke arah tangan dan mengangkat ekornya. Perilaku ini terkadang disebut elevator butt.
Preferensi terhadap sentuhan juga dapat menjadi salah satu tanda kedekatan kucing dengan manusia. Namun, setiap kucing memiliki karakter dan batas kenyamanan masing-masing.
Karena itu, Ellis menyarankan pemilik untuk memperhatikan respons hewan peliharaannya dan membiarkan kucing menentukan bagian tubuh mana yang nyaman disentuh. Menghormati batas tersebut menjadi bagian penting dalam membangun interaksi positif dengan kucing. (*)
SUmber: Live Science









